Rapat di Bawah Pohon Mangga
Suasana sore di Desa Anggaswangi adem banget. Angin semilir, suara ayam, sama anak-anak kecil yang lagi main kejar-kejaran di bawah pohon mangga depan rumah Yovi. Pohon itu udah kayak ikon desa yang rindang banget, dan tempat nongkrong semua warga.
Yovi, cowok kelas 3 SMP yang terkenal aktif di kampungnya, duduk sambil main HP. Tiba tiba, ayahnya, Pak Surya, yang juga kepala desa, datang sambil bawa map tebal.
“Yov, nanti sore bantu ayah rapat, ya. Kita mau bahas soal lapangan baru buat anak-anak muda.”
“Serius, Yah? Wah, keren! Akhirnya ada tempat buat futsal beneran, gak di jalanan lagi,” jawab Yovi semangat.
Sore harinya, warga mulai kumpul di bawah pohon mangga. Ada yang bawa air galon, ada juga ibu-ibu yang sambil jualan cilok. Tapi begitu Pak Surya ngomong, suasana langsung serius.
“Kita rencana mau bangun lapangan olahraga di tanah depan rumah Yovi,” kata Pak Surya. Semua langsung heboh.
“Lho, itu kan tempat pohon mangga kita, Pak!” teriak Bu Tini, yang sering jual rujak di situ. “Tapi kalau nggak ditebang, lapangannya nggak muat, Bu,” balas Pak Jono, ketua pemuda.
Suasana makin panas. Beberapa orang mulai debat sendiri. Yovi yang dari tadi diam, akhirnya berdiri.
“Eh, bentar-bentar, guys. Kalau kita ribut terus, nggak bakal kelar. Gimana kalau kita pikirin bareng, tapi jangan marah-marah?” katanya dengan nada santai tapi tegas.
Semua akhirnya diem. Yovi pun lanjut ngomong,
“Kalau lapangan penting, tapi pohon ini juga bersejarah. Waktu aku kecil, aku belajar manjat di sini, banyak kenangan. Bisa nggak sih, kita cari tempat lain? Misalnya tanah kosong di deket sungai?”
Pak Jono sempat mikir, lalu bilang, “Hmm... tanah deket sungai itu luas juga, cuma agak miring.”
“Nah, kita bisa gotong royong ratain bareng. Anak muda kuat-kuat semua, kan?” sahut Yovi sambil senyum.
Semua orang ketawa. Akhirnya usulan Yovi disetujui. Mereka sepakat lapangan dibangun di dekat sungai, dan pohon mangga tetap berdiri jadi tempat ngumpul.
Beberapa minggu kemudian, lapangan baru selesai dibangun. Anak-anak main bola tiap sore, sedangkan para orang tua duduk santai di bawah pohon mangga, ngobrol sambil makan rujak Bu Tini. Yovi ngeliat pemandangan itu sambil tersenyum.
“Kadang, solusi itu nggak datang dari siapa yang paling tua atau paling pinter,” pikirnya, “tapi dari siapa yang mau dengerin orang lain.”
Pesan Moral / Nilai Pancasila:
Cerita ini mengandung nilai Sila ke-4 Pancasila, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.”
Artinya, setiap keputusan yang menyangkut kepentingan bersama harus diambil lewat musyawarah, bukan ego sendiri-sendiri.
Yovi nunjukin kalau anak muda juga bisa jadi contoh dalam menghargai pendapat orang lain, nyari solusi bareng, dan mikirin kepentingan bersama.
Musyawarah bukan cuma soal rapat formal, tapi soal gimana kita bisa dengerin, menghargai, dan nyatuin perbedaan buat kebaikan bersama.
Karena kadang, perbedaan pendapat bukan buat ribut tapi buat nemuin jalan tengah yang lebih baik buat semuanya.
M.yovi eka Saputra - 25080694178