Rapat Kelas
Di sebuah sekolah dasar, kelas 4B terkenal sebagai kelas yang ceria dan penuh semangat. Suatu hari, Bu Rini, wali kelas mereka, mengumumkan,
“Anak-anak, minggu depan kita akan mengadakan pentas seni sekolah. Kalian harus memilih pertunjukan apa yang akan dibawakan oleh kelas kita.”
Semua anak langsung bersemangat. Dika mengangkat tangan paling dulu, “Bu, kita tampil drama saja! Aku bisa jadi sutradaranya!” serunya.
“Drama? Bosan! Mending menari,” kata Sinta sambil melipat tangan di dada. “Tidak setuju! Kita nyanyi bareng aja, biar gampang,” tambah Rafi dengan suara keras. Suasana kelas pun menjadi ramai. Semua anak ingin pendapatnya yang diterima. Mereka saling bersahutan tanpa mendengarkan satu sama lain. Bu Rini mengetuk meja pelan. “Anak-anak, berhenti dulu ya. Kalian semua punya ide yang bagus, tapi kalau semua bicara bersamaan, siapa yang mau mendengarkan?”
Kelas pun hening. Bu Rini tersenyum. “Coba kita buat giliran bicara. Dika, kamu dulu. Setelah itu, teman-teman lain boleh memberi tanggapan dengan sopan, bukan memotong pembicaraan.”
Dika menjelaskan idenya tentang drama. Ia ingin membuat cerita tentang persahabatan. Lalu Sinta menceritakan idenya tentang tarian tradisional, dan Rafi mengusulkan lagu daerah. Setelah semua berbicara, Bu Rini bertanya, “Bagaimana kalau kita gabungkan semua ide?” “Gabungkan?” tanya mereka serempak.
“Iya,” kata Bu Rini. “Kita bisa membuat drama yang didalamnya ada tarian dan lagu. Jadi semua ide kalian dipakai.”
Anak-anak saling berpandangan. Wajah mereka mulai tersenyum. “Wah, keren juga!” seru Dika.Sinta menepuk tangan. “Iya! Aku bisa menari di bagian tengah drama!” “Aku dan teman-teman bisa nyanyi di akhir!” tambah Rafi.
Sejak hari itu, mereka mulai berlatih dengan semangat. Tidak ada lagi yang memaksakan pendapat. Kalau ada ide baru, mereka mendengarkan dan berdiskusi bersama. Saat hari pentas tiba, penampilan kelas 4B mendapat tepuk tangan paling meriah. Setelah acara selesai, Bu Rini berkata, “Hebat! Inilah hasil dari saling menghargai pendapat.” Dika tersenyum bangga. “Ternyata kalau mau mendengarkan orang lain, hasilnya lebih bagus ya, Bu.”
Bu Rini mengangguk. “Betul, Dika. Karena setiap suara punya makna.”
Ismi Fatimah Azzahra - 25080694087