Refleksi atas Makna Sejati Pendidikan Inklusif
Kalau ku pikir-pikir kembali, kata “inklusi” itu sering banget kedengarannya keren, ya.
Tapi, setelah belajar bareng Bu Fia dan baca tulisan buku Mel Ainscow (2006), aku jadi sadar
kata “inklusi” itu bukan cuma soal anak disabilitas yang duduk di kelas reguler, tapi tentang
bagaimana sekolah benar-benar bisa jadi tempat yang terbuka dan nyaman buat semua anak.
Sekolah ideal itu kayak pelukan besar (Big Hug) semua anak bisa masuk, belajar, dan bahagia
bareng. Dan jujur, itu bukan hal yang gampang.
Ainscow menulis bahwa banyak negara dulu memisahkan anak yang di anggap berbeda
ke sekolah khusus, tapi sekarang dunia mulai sadar, hal itu bukan solusi. Sekolah biasa
seharusnya jadi tempat semua anak belajar bersama untuk anak reguler, anak disabilitas, anak
miskin, anak dari berbagai suku dan agama. Tapi pada kenyataannya, di lapangan, masih
banyak sekolah yang cuma “setengah inklusif”. Mereka pasang label “sekolah inklusi”, tapi
nggak benar-benar siap. Anak disabilitas kadang diterima cuma di atas kertas, tanpa adaptasi
kurikulum, dan tanpa dukungan guru pendamping.
Mirisnya lagi, banyak kasus anak disabilitas yang malah dibully, dikucilkan, atau
dianggap nggak bisa apa-apa. Ada anak yang sampai trauma dan nggak mau sekolah lagi.
Padahal, menurut Ainscow, masalah utama bukan pada anaknya, tapi di sistem sekolah yang
belum berubah. Guru masih pakai metode lama yang one size fits all, padahal setiap anak punya
cara belajar yang different. This is what Ainscow called a transplantation dimanan sekolah
cuma mindahin anak dari kelas khusus ke kelas umum tanpa ubah cara mengajarnya.
Dari perkuliahan Bu Fia, aku belajar bahwa membangun pendidikan inklusif itu perlu
kerja bareng, bukan cuma tanggung jawab guru, tapi juga pemerintah, keluarga, dan
masyarakat. Pemerintah harus make policies yang clear dan kasih training buat guru. Guru
harus mau belajar terus dan nggak gampang nge-judge anak. Family juga perlu diajak ngobrol,
biar anak merasa diterima dari rumah sampai sekolah. Karena pada dasarnya, inklusi is not
proyek jangka pendek, but culture yang harus tumbuh di hati semua orang.
So yeah, inklusi itu bukan hanya hadiranya secara fisik. It’s about belonging,
acceptance, and respect. Sekolah inklusif seharusnya bukan sekadar tempat anak yang
dianggap berbeda ditampung, but tempat semua anak merasa punya ruang untuk tumbuh. Dan
maybe, kalau semua pihak mau kerja bareng dan benar-benar paham maknanya, sekolah bisa
jadi big hug yang hangat itu, yaitu tempat di mana setiap anak, no matter who they are, feels
seen, loved, and included.
Nama : Meliana Rosyida
NIM/Kelas : 24010044040/2024B