Refleksi Kasus Sugiyo dan Putri dalam Pendidikan Inklusif
Pada masa lalu, akses pendidikan bagi penyandang tunanetra sangat terbatas karena ketergantungan pada teks cetak dan kuatnya stigma sosial. Namun memasuki era digital, kondisi ini berubah drastis. Teknologi bukan hanya membuka akses informasi, tetapi juga menciptakan ruang kemandirian yang setara. Kisah Sugiyo dan Putri Rokhmayati—dua individu tunanetra yang mampu menembus dunia coding dan Teknologi Informatika—menjadi bukti konkret bahwa Teknologi Asistif (TA) dapat menjadi awalan menuju karier profesional yang sebelumnya dianggap tidak mungkin.
Hadirnya screen reader yang mampu mengkonversi tampilan visual, termasuk kode pemrograman, menjadi output suara. Teknologi ini memberikan kesempatan bagi penyandang tunanetra untuk mengakses materi pembelajaran berbasis teks secara mandiri, terutama di bidang yang menuntut ketelitian seperti IT. Dampaknya tidak hanya akademik, tetapi juga sosial-ekonomi. Sugiyo, yang sebelumnya bekerja sebagai tukang pijat, berhasil meraih gelar Magister Teknik Informatika dan menjadi pendidik. Sementara itu, Putri kini bekerja sebagai Quality Assurance Engineer. Pencapaian keduanya menegaskan bahwa teknologi memiliki peran penting dalam memberdayakan penyandang disabilitas agar mampu bersaing di dunia kerja yang penuh tuntutan keahlian. Namun, kemajuan teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Ada dukungan signifikan dari Yayasan Mitra Netra, yang menyediakan komunitas, pendampingan emosional, serta strategi pembelajaran adaptif. Peran guru tunanetra seperti Sugiyo turut memperkuat proses belajar karena metode yang digunakan relevan dengan pengalaman nyata murid. Adapun tantangan ke depan, seperti ancaman otomatisasi AI yang dapat menggantikan pekerjaan berulang, sehingga kemampuan adaptasi menjadi semakin penting. Selain itu, pengalaman Putri yang kesulitan menggunakan aplikasi tertentu menegaskan urgensi penerapan Desain Universal untuk Pembelajaran (UDL), yaitu prinsip bahwa aksesibilitas harus dipikirkan sejak tahap desain aplikasi, bukan sebagai fitur tambahan.
Pada akhirnya, teknologi dalam dunia pendidikan berfungsi sebagai penyebar utama yang mampu menghapus hambatan fisik maupun sosial. Perjalanan Sugiyo dan Putri memberikan gambaran bahwa investasi pada Teknologi Asistif serta penerapan prinsip UDL bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian dan inklusi bagi semua individu di era digital.
Sumbe :https://kumparan.com/kumparantech/kisah-2-tunanetra-melawan-keterbatasan berhasil-menembus-dunia-teknologi-260p51p75qs/full
Khansa' Na'ilatus Sa'adah 25010024020