Refleksi tentang Teknologi dan Inklusi dalam Pendidikan Menggunakan AI
Kecerdasan buatan (AI) menawarkan peluang besar untuk mendukung pendidikan inklusif di Indonesia. Dengan kemampuan menghadirkan pembelajaran adaptif, tutor virtual, dan personalisasi materi, AI dapat membantu siswa dengan kebutuhan beragam maupun yang berada di wilayah terpencil untuk tetap memperoleh pendidikan bermutu. AI berpotensi menjadi jembatan bagi pemerataan akses pendidikan, sekaligus memperluas kesempatan belajar bagi semua siswa, tanpa terkecuali.
Teknologi membantu mengurangi kesenjangan wilayah dan memberikan kesempatan belajar yang lebih merata. Teknologi juga mendukung siswa dengan disabilitas melalui fitur AI seperti text to-speech yaitu membaca teks menjadi suara (tuna netra, tuna daksa), speech recognition yaitu ubah suara menjadi teks/perintah (tuna daksa, kesulitan menulis) dan chatbot yaitu tutor digital menjawab pertanyaan (tunarungu). Fitur AI dan platform digital seperti ini memungkinkan mereka mengakses materi secara lebih mandiri, mudah dan setara.
Namun, seperti diungkap dalam artikel “2 Tantangan Menggunakan AI untuk Pendidikan Inklusif di Indonesia”, penerapan AI menghadapi dua kendala utama. Pertama, ketidakmerataan akses infrastruktur dan teknologi, di mana sekolah di daerah terpencil atau dengan keterbatasan ekonomi sering kekurangan internet dan perangkat digital, sehingga potensi AI untuk memperluas pembelajaran justru terbatas dan berisiko memperlebar kesenjangan. Kedua, keterbatasan data yang representatif, termasuk informasi tentang siswa berkebutuhan khusus, bahasa lokal, dan konteks sosial-budaya, yang dapat menyebabkan algoritma AI kurang sensitif terhadap kebutuhan lokal dan kelompok marginal, sehingga tujuan pendidikan inklusif tidak sepenuhnya terealisasi.
Meskipun demikian, AI tetap memiliki potensi transformatif jika digunakan dengan strategi yang tepat. Infrastruktur digital perlu diperluas secara merata, data pendidikan dikumpulkan secara inklusif, dan literasi digital bagi guru maupun siswa ditingkatkan. Selain itu, AI sebaiknya digunakan sebagai pelengkap peran guru, bukan pengganti, sehingga tetap ada pendampingan manusia yang memahami konteks sosial, emosional, dan budaya siswa.
Dengan mengatasi tantangan tersebut, AI dapat menjadi alat yang mendorong pendidikan lebih adil, fleksibel, dan inklusif. Pendidikan yang menghargai keragaman tidak hanya menjadi cita cita, tetapi bisa diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi yang bijaksana, kritis, dan bertanggung jawab.
Sumber: https://theconversation.com/2-tantangan-menggunakan-ai-untuk-pendidikan inklusif-di-indonesia-254937
Yasmin Nadira Suhendra