Sang Pemimpin dari Rimba Ayuddha
Suatu hari di sebuah hutan lebat yang bernama Ayuddha, yang berarti “tidak ada perang”, sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai keadaan damai. Hiduplah hewan-hewan yang saling berdampingan dan saling mendukung. Sesuai dengan nama hutannya, Ayuddha, para penghuni hutan tersebut memegang prinsip hidup damai dan rukun. Hingga pada suatu masa, penghuni hutan mengadakan pemilihan pemimpin untuk tempat yang mereka tinggali, agar kehidupan di sana berjalan dengan lebih baik. Di pagi hari itu, seluruh penghuni hutan dan pemimpin Rimba Ayuddha berkumpul jadi satu. Mereka saling berdiskusi secara terbuka. Dengan dipimpin oleh pemimpin rimba sebelumnya, yaitu Sang Kancil, ia berkata,
“Pemilihan pemimpin baru Rimba Ayuddha agar segera berlangsung. Kita akan mengadakan pemilihan nantinya,”ujar Sang Kancil.
“Tak usah! Biarkan aku saja yang melanjutkan tahtamu!” ucap Singa dengan ketus. Dengan tatapan mata bingung, Kancil berjalan mendekati Singa perlahan dan berkata,
“Maaf, Singa, tapi kita membutuhkan suara pemilihan juga dari para penghuni hutan agar semuanya berjalan dengan adil dan bijak.”
“Iya, betul! Jangan bersikap egois, Singa! Belum tentu kau layak menjadi pemimpin
selanjutnya!” ucap kawanan monyet.
“Kalian tahu sendiri, Singa adalah raja rimba!” ucap Singa dengan nada ketus lagi. Namun, ucapan Singa itu hanya direspons dengan tawaan seluruh penghuni hutan yang mendengarnya.
“Itu hanyalah mitos! Buktinya, mengapa dari dulu kau tak menjadi pemimpin di rimba ini? Hahaha!” ujar seekor kelinci.
“Sudah, sudah. Menurut kalian, siapa yang layak menjadi pemimpin selanjutnya? Saya akan membuka tiga kandidat,” ucap Sang Kancil.
“Banteng!” ucap salah satu penghuni.
“Singa!” teriak penghuni lainnya.
“Harimau!” teriak yang lain lagi.
“Baiklah, kita memiliki tiga kandidat. Masing-masing kandidat tolong mempersiapkan diri untuk menyampaikan tujuan kalian besok. Begitu pula para penghuni, tolong diharapkan memilih sesuai kepercayaan masing-masing,”ujar Sang Kancil.
Sampai sore hari tiba, ketiga kandidat pemimpin Rimba Ayuddha mulai menyebarkan tujuan mereka ketika menjadi pemimpin kepada seluruh penghuni hutan. Banteng, penghuni hutan yang berusia cukup tua namun masih kuat, ingin bekerja cepat namun tanpa niat yang sungguh-sungguh. Ia tampak tidak benar-benar berkeinginan membangun kesuksesan di hutan itu. Semua omongannya hanyalah janji belaka. Sementara itu, Singa, hewan buas yang cukup ditakuti di hutan, memang terlihat gagah dan bijaksana, tetapi sedikit arogan dan tidak terlalu mementingkan keadilan serta permusyawaratan. Lain halnya dengan Harimau, seekor kucing besar yang mendominasi ekosistem di rimba. Ia memiliki jiwa pekerja keras, mandiri, terampil, jujur, dan adil. Sesuai dengan usianya yang masih muda, ia tidak malas untuk berusaha, terutama demi kesejahteraan para warganya nantinya.
“Hei, kawanan semut! Pilihlah aku di esok hari! Kupastikan hidup kalian akan sejahtera nantinya!” ujar Banteng.
“Emangnya apa yang akan kau janjikan?” tanya kawanan semut.
“Apa saja! Hanya pilihlah aku. Baiklah, aku akan pergi,” jawab Banteng sambil meninggalkan kawanan semut dengan santai.
“Calon pemimpin yang aneh! Tak ada penjelasan. Siapa, sih, yang memilih dia jadi kandidat tadi pagi?” ucap salah satu semut.
Sementara di tempat lain, Singa menghampiri satu per satu penghuni hutan dan mencoba menyogok mereka agar memilihnya nanti.
“Hey, Kura-kura! Pilihlah aku esok hari. Akan kuberikan kau makanan hari ini, tetapi
itu syaratnya,” ucap Sang Singa.
“Mengapa kau sangat menginginkan posisi itu, Singa?” tanya Kura-kura.
“Aku hanya ingin ditakuti dan menguasai seluruh isi hutan ini,” jawabnya tanpa rasa bersalah.
“Tidak sudi rasanya aku memilihmu, Singa!” balas Kura-kura dengan ketus, lalu meninggalkan Singa yang sombong itu terdiam di tempat.
Sementara itu, di sisi lain, Harimau belum sempat berkeliling memperkenalkan dirinya sebagai calon pemimpin karena ia sedang membantu seekor rusa yang hendak melahirkan. Tidak butuh waktu lama, seekor anak rusa berhasil lahir dengan selamat berkat pertolongan Harimau. Usai menolong, ia segera melanjutkan niatnya dan meminta maaf kepada para penghuni karena datang terlambat. Ia pun mengucapkan dengan jelas tujuan dan maksudnya apabila terpilih menjadi pemimpin rimba.
“Saya akan berupaya, membantu, mendukung, dan membersamai kalian apabila menjadi pemimpin. Hidup berdampingan tidaklah mudah, maka dari itu saya membutuhkan suara kalian besok untuk memilih saya. Saya tidak memaksa, namun saya berusaha,” ucap Sang Harimau.
“Saya tak punya banyak hal untuk menarik perhatian kalian agar memilih saya, tapi dengan adanya program kerja dan tujuan saya nantinya, semoga akan membuahkan hasil. Terima kasih.”
Semua penghuni yang mendengar sontak bersuara kagum dengan ucapan Sang Harimau. Begitu pula Sang Kancil yang mendengar, ia semakin yakin siapa yang layak menjadi pemimpin selanjutnya. Sampailah pada hari pemilihan Sang Pemimpin dari Rimba Ayuddha. Seluruh kandidat duduk di atas batang kayu, sementara para penghuni duduk di bawah, menatap papan skor dan para calon pemimpin. Pemilihan berlangsung dengan cara mengisi sebuah kotak kayu yang berisi masing- masing nomor urut kandidat: Banteng nomor 1, Singa nomor 2, dan Harimau nomor 3. Para penghuni akan memasukkan daun yang mereka miliki ke dalam salah satu kotak sesuai pilihan hati mereka. Saat pemilihan dimulai, sebagian besar penghuni berbondong-bondong mengisi kotak nomor 3, milik Sang Harimau. Ia tak menyangka, dari awal hingga akhir waktu pemilihan, kotak miliknya semakin lama semakin penuh oleh dedaunan. Ketika pemungutan suara berakhir dan jumlah daun dari masing-masing kotak dihitung, dinyatakan bahwa Harimau memenangi pemilihan tersebut. Dengan ekspresi wajah haru, Harimau menghampiri seluruh penghuni hutan dan berterima kasih kepada mereka.
“Selamat kita ucapkan kepada Sang Harimau, pemimpin baru Rimba Ayuddha! Berikan ucapan yang meriah!” seru Sang Kancil.
Seluruh penghuni hutan bersorak gembira dan mengucapkan selamat kepada Harimau. Hari itu juga, Harimau resmi menjadi Sang Pemimpin baru Rimba Ayuddha. Berkat kegigihan, kesabaran, kebaikan, keadilan, dan ketulusan hati, ia layak menjadi pemimpin rimba tersebut.
“Terima kasih atas suara kalian! Saya akan berusaha menjadi pemimpin versi terbaik
dari diri saya sendiri!” ucap Harimau.
Oleh: Sabrina Surya Pramono - 25080694312