SEJARAH PENDIDIKAN INKLUSI
Awalnya, anak-anak yang memiliki disabilitas tidak diberikan kesempatan untuk
bersekolah. Kebanyakan dari mereka hanya tinggal di rumah atau bahkan ditempatkan
di panti sosial atau lembaga tertentu. Oleh karena itu, masa itu dikenal sebagai periode
eksklusi, di mana anak-anak dengan kebutuhan khusus belum dianggap perlu untuk
mendapatkan pendidikan.
Sekitar akhir abad ke-19, mulai terjadi perubahan. Di beberapa negara seperti Australia,
dibuka sekolah-sekolah yang khusus untuk anak-anak tunarungu dan tunanetra.
Namun, pada waktu itu, pendidikan untuk anak-anak berdisabilitas masih dipandang
sebagai urusan pribadi atau amal, dan belum menjadi tanggung jawab pemerintah.
Baru pada awal abad ke-20, pemerintah mulai mendirikan sekolah-sekolah khusus.
Dari sinilah muncul fase segregasi, di mana anak-anak disabilitas dipisahkan dari
sekolah umum dan dikelompokkan ke dalam kelas atau sekolah khusus. Tujuannya saat
itu adalah agar mereka bisa belajar sesuai tingkat kemampuan, tetapi tanpa disadari hal
ini justru menjauhkan mereka dari teman-teman sebayanya.
Kemudian, antara tahun 1940-an dan 1960-an, semakin banyak kelas khusus yang
dibuat untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Namun, ini menciptakan masalah
baru, karena banyak anak dari keluarga berpendapatan rendah atau dari latar belakang
budaya yang berbeda malah ditempatkan dalam pendidikan khusus, meskipun mereka
sebenarnya tidak memiliki disabilitas. Oleh karena itu, muncul kritik bahwa sistem
tersebut tidak adil dan menyebabkan anak-anak tertentu terpinggirkan dari pendidikan
umum.
Dari sejarah panjang ini, dapat disimpulkan bahwa pendidikan inklusif muncul sebagai
bentuk perlawanan terhadap sistem segregasi. Inklusi lahir karena semakin banyak
orang menyadari bahwa semua anak termasuk yang memiliki hambatan atau
disabilitas memiliki hak yang sama untuk belajar di sekolah yang sama dengan
teman-teman mereka.
ANGGUN LISTYA RAHMA/24010044048/2024B