Sekolah Untuk Semua: Bukan Sekadar Slogan, Tapi Aksi Nyata
Kadang orang mikir, pendidikan inklusif itu cuma soal “menyediakan sekolah untuk anak
berkebutuhan khusus.” Tapi kalau dilihat lebih dalam, sebenarnya inklusi itu bukan cuma buat
mereka, tapi buat semua orang. Gagasan ini muncul dari keyakinan bahwa setiap anak, apa pun
kondisinya, punya hak yang sama untuk belajar dan diterima tanpa diskriminasi. Dalam buku
Inclusive Education for the 21st Century (Graham, 2024), dijelaskan bahwa sistem sekolah zaman
sekarang masih kebanyakan pakai model abad ke-20, yang ngotot semua anak harus pas dengan
“standar rata-rata.” Nah, di sinilah masalahnya. Karena pada kenyataannya, nggak ada yang benar-
benar “rata-rata.” Setiap siswa itu unik, dan sekolah seharusnya fleksibel menyesuaikan, bukan
memaksa anak untuk cocok dengan sistem.
Mel Ainscow (2006) juga bilang, sejak Konferensi Salamanca, dunia udah sepakat bahwa
sekolah inklusif itu kunci buat menghapus sikap diskriminatif dan membangun masyarakat yang
adil. Tapi jujur aja, banyak negara masih terjebak dalam pola pikir lama, yang mana menganggap
anak yang “berbeda” harus dipisahkan. Padahal, kalau sekolah mau berkembang, justru mereka
perlu belajar hidup dalam keberagaman itu sendiri. Yang menarik, buku Inclusive Education:
International Policy & Practice karya Armstrong dkk. (2010) menyamakan inklusi dengan
“fashion.” Maksudnya, banyak negara ikut-ikutan pakai istilah “inklusi” supaya terlihat keren dan
modern, tapi belum benar-benar paham maknanya. Inklusi bukan sekadar label, tapi soal
mengubah cara pandang terhadap perbedaan. Bukan bagaimana anak berkebutuhan khusus bisa
masuk sekolah umum, tapi bagaimana sekolah bisa berubah agar semua anak bisa merasa diterima.
Di Asia Tenggara sendiri, laporan SEAMEO SEN (2024) menunjukkan kemajuan yang
lumayan signifikan. Negara-negara kayak Indonesia, Malaysia, dan Filipina mulai serius
mengembangkan kebijakan pendidikan inklusif, tapi tantangannya juga masih besar, dari
kurangnya guru terlatih, fasilitas yang belum ramah difabel, sampai minimnya dukungan
masyarakat, yang paling “ngena” dari semua bacaan itu adalah pandangan Linda J. Graham,
mengenai soal “Masalahnya bukan pada anak-anak yang berbeda, tapi pada sistem yang masih
mainstream.” Sekolah sering kali sibuk menyesuaikan anak dengan aturan lama, padahal yang
perlu diubah justru sistemnya. Inklusi artinya ngelihat perbedaan bukan sebagai hambatan, tapi
peluang buat belajar bareng, saling ngerti, dan tumbuh bareng. Jadi, kalau mau jujur, pendidikan
inklusif itu bukan proyek pemerintah atau tugas guru doang, tapi ini gerakan sosial. Gerakan buat
bikin sekolah jadi tempat yang bener-bener aman, nyaman, dan terbuka buat siapa pun. Mungkin
kedengarannya idealis, tapi justru dari idealisme kayak gini lah perubahan bisa lahir, karena pada
akhirnya, inklusi bukan cuma tentang ruang kelas, tapi tentang kemanusiaan.
NAMA : NUR ALIYA AZIZZA
NIM : 24010044082
KELAS : 2024B