Sepatu Rani
Suatu pagi di sekolah, Rani datang dengan sepatu yang udah mulai sobek di bagian depannya. Warnanya udah agak pudar, dan solnya juga mulai lepas di ujung. Beberapa teman sekelasnya langsung nyeletuk, “Ran, sepatu kamu kok bolong? Haha, beli baru dong!”
Rani cuma senyum kecil, berusaha pura-pura cuek, padahal dalam hati agak sedih. Ia tahu, bukan karena ngga mau beli baru, tapi karena orang tuanya lagi susah ekonomi. Ayahnya baru aja dirumahkan dari kerjaan, dan ibunya cuma jualan kecil-kecilan di depan rumah. Rani nggak mau ngeluh, karena ia tahu orang tuanya udah berusaha keras buat biaya sekolahnya.
Hari itu, Rani duduk di kelas sambil nunduk aja. Setiap kali jalan, dia takut sepatunya makin sobek. Tapi pas jam istirahat, teman sebangkunya, Dita, datang sambil bawa plastik kecil warna bening.
“Nih Ran, aku punya sepatu lama tapi masih bagus, ukurannya sama kaya kamu. Aku udah ngga pake lagi, ambil aja ya,” kata Dita sambil nyodorin plastik itu dengan senyum kecil.
Rani kaget dan langsung geleng-geleng. “Serius, Dit? Tapi ini punyamu, aku ngga enak nerimanya.”
“Udah gapapa kok. Aku malah seneng kalo kamu mau pake. Lagian daripada nganggur di rumah. Kamu tuh pantas dapet yang lebih baik,” jawab Dita sambil menepuk bahu Rani.
Sore itu sepulang sekolah, Rani buka plastik itu pelan-pelan di kamarnya. Di dalamnya ada sepasang sepatu putih bersih, cuma agak sedikit usang di tali. Rani senyum, dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia langsung cerita ke ibunya, yang juga ikut terharu.
“Masih ada teman yang baik, ya, Nak. Bersyukurlah,” kata ibunya lembut.
Besoknya, Rani datang ke sekolah dengan sepatu pemberian Dita. Tapi bukan itu yang bikin dia senang, melainkan perasaan hangat karena masih ada orang yang peduli tanpa ngeliat status atau keadaan. Teman-teman yang dulu sempat ngetawain malah jadi diam, beberapa bahkan minta maaf karena merasa bersalah.
Sejak hari itu, Rani mulai berubah. Ia jadi lebih peka sama sekitar. Waktu lihat ada anak baru bernama Sinta yang sering sendirian di kantin, Rani langsung ngajak duduk bareng.
“Eh, kamu mau duduk bareng aku aja? Biar ngga sendirian,” katanya ramah. Sinta yang awalnya pendiam akhirnya tersenyum kecil. Dari situ, mereka jadi teman baik.
Dita yang ngelihat dari jauh cuma nyengir sambil bilang, “Tuh kan, nular juga rasa pedulinya.”
Hari-hari berikutnya di sekolah terasa lebih hangat. Semua anak mulai terbiasa saling bantu, saling pinjam alat tulis, dan saling nyapa. Mereka jadi lebih menghargai satu sama lain tanpa ngelihat siapa yang kaya, siapa yang sederhana.
Rani belajar bahwa kebaikan kecil bisa nyentuh hati banyak orang. Kadang hal sepele kayak sepatu bekas, sapaan, atau senyum tulus itu bisa jadi bukti kalau manusia itu seharusnya saling menghargai dan tidak merendahkan satu sama lain.
Ayunda Rahma Diana Putri (25080694017)