Sepatu untuk Lani
Pada pagi itu, hujan turun dengan deras, dan halaman SD Nusantara tampak penuh dengan air. Di antara kerumunan siswa yang datang tergesa-gesa, Lani berjalan pelan dengan sepatu yang sudah sobek di ujungnya. Setiap kali Lani berjalan, air masuk ke sepatunya dan kaus kakinya menjadi basah. Semua teman-temannya sudah duduk di kelas sementara dia mengelap rambutnya yang basah. Sara, teman sebangku Lani, dengan diam-diam memperhatikan. Seragam Lani sudah pudar, dan tasnya mulai robek di samping dan atas karena dia tahu Lani sering menggunakannya. Sebaliknya,Lani tidak pernah mengeluh. Ia selalu datang ke sekolah dengan senyuman dan mengangkat tangan saat guru memberikan instruksi.
Akhirnya, sepatu Lani rusak. Tali putus karena sol terlepas. Ia gagal menambalnya dengan lem. Rara melihat Lani berjalan tanpa sepatu sambil memegang sepatu itu di tangannya setelah pulang dari sekolah. Malam itu, Rara berbicara ke ibunya di meja makan.
“Bu, bolehkah aku memberi Lani Sepatu-ku yang sudah terlalu kecil di kaki-ku?” tanyanya hati-hati.
Ibunya menatapnya penuh kasih dan tersenyum. “Iya, Sayang. Kalau masih oke, berikan saja, asal kamu serius.”
Keesokan harinya, Rara datang ke sekolah sambil membawa sekotak sepatu biru muda. Ketika melihat Lani datang, ia langsung menghampirinya dan menyerahkan kucing itu.
“Lani, aku punya sepatu yang terlalu kecil untuk kakiku, cobalah, siapa tahu, mungkin cocok untukmu,” katanya lembut.
Lani menatap Rara dengan air mata berlinang. “Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa, Ra.”
Rara hanya tersenyum “Udah, nggak apa-apa. Aku cuma pengin kamu bisa berangkat sekolah dengan nyaman.”
Sejak saat itu, setiap hari Lani memakai sepatu pemberian Rara. Ia merawatnya dengan hati-hati, selalu membersihkannya sebelum pulang sekolah. Merawatnya dengan baik selalu mengelapnya sebelum pulang. Hubungan mereka pun makin dekat. Teman-teman lain yang dulu cuek mulai ikut mencontoh ada yang membawa bekal lebih untuk dibagi, ada juga yang meminjamkan buku tanpa diminta. Melihat hal itu, Bu Sinta tersenyum hangat di depan kelas.
“Anak-anak, kalian baru saja menunjukkan arti kemanusiaan yang sebenarnya saling peduli dan menghargai tanpa memandang siapa pun.”
Saskya Putri Handayani - 25080694152