Sepatu Untuk Rara
Suatu pagi, di halaman sekolah yang masih basah karena hujan semalam, seorang anak perempuan berdiri dengsn canggung di dekat tiang bendera. Namanya itu Rara. Rara baru saja pindah dari desa ke kota karena ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan di sini.
Seragamnya terlihat sedikit agak pudar, dan sepatu hitamnya… sudah sobek dibagian depan. Benangnya terurai. Saat ia berjalan, ujung jarinya terlihat sedikit.
Beberapa anak di Lorong sekolah memperhatikannya sambil berbisik. “Lihat tuh, sepatunya bolong” kata Dinda sambil tertawa kecil. Yang lain ikut tertawa kecil. Rara pura-pura tidak dengar, tapi kepalanya terasa panas. Ia menunduk, menatap tanah, berharap bel masuk segera berbunyi.
Di dalam kelas, guru menyuruh mereka berkenalan satu per satu. Ketika giliran Rara, suaranya pelan sekali. “Namaku Rara… aku asalnya dari Blitar”
Beberapa anak kembali menahan tawa. Dinda bahkan berbisik, “Pantes sepatunya jelek, anak kampung.”
Hari-hari berikutnya Rara selalu datang lebih awal agar tidak msnjadi perhatian. Ia duduk di bangku paling belakang, jarang berbicara. Tapi setiap ada tugas, nilainya selalu paling bagus. Ia cepat memamhami pelajaran, bahkan sering menbantu temannya yang lain mengerjakan soal.
Suatu siang, ketika hujan deras, Dinda lupa bawa payung. Semua temannya sudah pulang. Rara mendekati dan berkata, “Kamu mau bareng aku? Aku ada payung kecil, tapi kita bisa berbagi” Dinda agak terkejut, tapi akhirnya mengangguk. Mereka berjalan berdua di bawah paying yang sempit, setengah basah, setengah tertawa karena angin meniup air hujan ke wajah mereka.
Sejak itu Dinda mulai berpikir. Ia merasa malu mengingat bagaimana dulu ia selalu menertawakan Rara. Sore itu di rumah, Dinda membuka dompet kecilnya dan melihat uang jajan yang ia kumpulkan. “Mungkin aku bisa ngelakuin sesuatu”
Keesokan harinya, Dinda bicara pada teman-temannya. “Aku rasa kita harus berhenti ngejek Rara. Dia baik banget, dan dia gak pantas diperlakuin gitu. Gimana kalau kita kumpulin uang buat beliin dia sepatu baru?”
Awalnya teman-temannya diam, tapi satu per satu mulai mengangguk. Mereka iuran sedikit demi sedikit.
Seminggu kemudian, sepatu baru berwarna hitam dengan pita kecil dibungkus rapi dalam kotak cokelat. Saat jam istirahat, Dinda dan teman-temannya menghampiri Rara. “Ini… buat kamu” kata Dinda yang pelan.
Rara menatap bingung. “buat aku?”
“Iya..” jawab Dinda. “Kami minta maaf ya… Kami bersalah selalu ngetawain kamu”
Rara terdiam, lalu matanya berkaca-kaca. “Terima kasih… aku gak nyangka” Anak-anak lain tersenyum. Suasana kelas jadi hangat, tidak canggung lagi seperti dulu.
Sejak hari itu, Rara tidak duduk sendirian lagi. Ia sering belajar bersama Dinda dan teman temannya. Mereka bercanda bersama, kadang belajar kelompok sambil makan gorengan di kantin.
Sepatu hitam itu masih sering kotor karena tanah lapangan, tapi setiap kali Rara memakainya, ia merasa Bahagia, bukan karena sepatunya baru, tapi karena hatinya tidak lagi sendirian.
Cerita ini mengajarkan kita untuk lebih mengerti dengan orang lain. Kadang kita suka mengejek atau meremehkan orang tanpa memikirkn bagaimana perasaan mereka. Padahal setiap orang mempunyai kondisi yang berbeda, dan semua tetep pantas dihargai. Bersikap adil itu bukan cuma tentang bagi rata, tapi juga tentang empati untuk orang lain. Itu yang disebut kemanusiaan yang adil dan beradab, ketika kita bisa memperlakukan orang lain dengan empati dan tidak meerasa lebih tinggi dari mereka.
ALFITO ARIF SYAHBANA - 25080694108