Sepotong Roti di Tepi Jalan
Pagi itu, suasana jalan menuju pasar sudah mulai sibuk. Pedagang menata barang, tukang ojek menunggu penumpang, dan orang-orang berjalan tergesa menuju tempat kerja. Di tepi jalan, seorang anak laki-laki duduk sambil memeluk tas sekolahnya yang sudah mulai usang. Namanya Rafi. Ia menatap toko roti di seberang jalan dengan pandangan kosong. Dari tempat duduknya, ia bisa mencium aroma roti yang baru keluar dari oven. Perutnya terasa perih menahan lapar, tapi ia berusaha tidak memperlihatkannya. Ibunya sedang sakit di rumah, dan ayahnya sudah lama tidak pulang. Biasanya Rafi membantu ibunya menjual gorengan di sore hari, tetapi hari itu mereka tidak berjualan karena uang mereka habis untuk membeli obat.
Di dalam toko, seorang wanita paruh baya bernama Bu Lestari memperhatikan Rafi dari balik kaca jendela. Ia sudah sering melihat anak itu lewat setiap pagi. Anak itu selalu menyapa dengan sopan dan tidak pernah meminta apa pun, meski terlihat jelas bahwa hidupnya tidak mudah. Akhirnya Bu Lestari keluar dari tokonya sambil membawa sebungkus roti hangat. Ia tersenyum dan memanggil pelan,
“Rafi, sini sebentar, Nak.”
Rafi menoleh ragu. “Iya, Bu?”
“Ini ada roti baru matang. Makan dulu sebelum ke sekolah,” ucap Bu Lestari sambil
menyerahkan bungkusan itu.
Rafi menggeleng cepat. “Maaf bu, saya tidak punya uang untuk membeli.”
Bu Lestari tersenyum lembut. “Tidak semua hal harus dibayar dengan uang, Nak. Suatu saat nanti, kalau kamu sudah bisa, tolonglah orang lain seperti ini juga. Itu sudah cukup.”
Rafi terdiam. Ia menerima roti itu dengan kedua tangannya dan berkata pelan, “Terima kasih, Bu. Saya janji.”
Waktu berlalu. Tahun demi tahun berganti. Rafi tumbuh menjadi seorang guru di sekolah dasar dekat pasar. Toko roti Bu Lestari kini sudah lama tutup, namun kenangan kecil di pagi hari itu tidak pernah ia lupakan. Setiap pagi, sebelum mengajar, Rafi selalu membawa beberapa potong roti di tasnya. Saat melihat murid-muridnya datang tanpa sarapan, ia memberikan roti itu sambil tersenyum.
“Makan dulu, supaya kuat belajar,” katanya sederhana.
Anak-anak itu pun tersenyum bahagia. Dalam hati Rafi, ia tahu bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak akan pernah hilang. Kebaikan itu hanya berpindah, dari satu tangan ke tangan yang lain.
Alberlisya Qolbi Syahara 25080694216