Seribu Pendapat untuk Satu Tujuan
SMA Tujuh Belas akan mengadakan festival olahraga antar kelas di akhir tahun. Seluruh siswa di sekolah sangat menanti agenda tersebut, karena acara tersebut selalu meriah dan memberikan memori yang indah. Sebelum acara tersebut diadakan, siswa-siswi di sekolah disibukkan dengan ujian akhir semester yang diadakan selama 10 hari. Begitu juga anak-anak OSIS yang menjadi lebih sibuk bahkan jauh sebelum ujian dilaksanakan.
Sakiel sebagai ketua OSIS juga sangat menanti program kerja tersebut yang akan diadakan di akhir tahun. Dia mencoba menyusun agenda acara bersama Malik yang merupakan wakil ketua OSIS. Mereka berencana untuk mendiskusikan susunan kegiatan tersebut pada saat pertemuan pertama proker bersama seluruh anak OSIS SMA Tujuh Belas. Susunan kegiatan tersebut sebagian besar berasal dari ide Malik, ia berkata dengan percaya diri, “Gapapa Sak, tampung dulu aja ide dari gue, nanti coba diobrolin sama anak-anak yang lain juga”. Sakiel yang mendengar itu hanya mengangguk tanda setuju.
Tiba di hari jumat sore, pertemuan pertama untuk membahas program kerja festival olahraga sekolah. Seluruh anak OSIS sudah hadir di ruangan Ki Hajar Dewantara yang memang sering digunakan untuk rapat OSIS. Tak terkecuali Sakiel dan Malik yang sudah datang lebih awal di ruangan tersebut. Rapat pun dimulai dengan pembukaan yang kondusif.
“Untuk lombanya, kami sepakat buat ngadain futsal, basket, badminton, voli, sama tarik tambang. Khusus tarik tambang hanya untuk siswa laki-laki, sisanya campuran. Ada tambahan lain?” Sakiel menyampaikan dengan lantang. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan untuk memastikan adakah yang mengangkat tangan. Sampai netranya menangkap salah satu siswa yang mengangkat tangan.
“Ya? Johan ingin menambahkan?”
“Menurut saya, bisa ditambahkan lomba gobak sodor khusus untuk yang perempuan, karena sepengalaman kita, lomba lain yang campuran itu didominasi anak laki-laki dan cuma sedikit anak perempuan yang berpartisipasi,” ungkap Johan.
Malik yang mendengar hal itu mengangguk setuju, “Oke boleh, yang lain gimana? Setuju?” Pertanyaan Malik dijawab dengan serentak satu ruangan menyetujui. Johan yang merasa pendapatnya didengar pun tersenyum senang.
“Ada yang ingin menambahkan lagi?” Tepat setelah Sakiel berhenti berucap, beberapa anak di ruangan tersebut mengangkat tangan. Sakiel pun tertawa pelan melihat itu, sepertinya banyak yang ingin disampaikan oleh rekan-rekannya.
“Oke-oke, kita dengerin satu-satu ya, nanti kita semua bisa diskusiin lagi masukan-masukan dari kalian. Hmm, boleh dimulai dari Rui, terus lanjut ke Warren, Yongki, Juna, terakhir Shua.”
Mereka pun satu persatu menyampaikan pendapat yang mereka sampaikan secara bergantian. Semua anak di dalam sana mendengarkan dengan seksama dan juga sesekali menimpali untuk memberi tambahan. Walaupun sempat terjadi perbedaan pendapat, mereka tetap mendengar apa yang disampaikan dan mencoba untuk mengambil jalan tengahnya.
“Oke, sekian rapat hari ini saya selesaikan, semoga kedepannya seluruh kegiatan kita dilancarkan sampai hari pelaksanaan, kurang lebihnya mohon maaf, saya akhiri, selamat sore dan hati-hati di jalan pulang,” Sakiel mengakhiri dengan senyuman kecil.
Hari demi hari berlalu, setiap harinya seluruh anak osis bekerja keras dan bekerja sama untuk memepersiapkan acara festival olahraga yang akan diadakan dalam 3 hari lagi. Semua anak osis sudah mendapatkan pembagian tugas dan juga divisinya masing-masing dari rapat osis pertemuan kedua. Sekarang pun semuanya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Sakiel dan Mingyu sebagai ketua dan wakil ketua osis pun jelas turut andil dalam membantu anak-anak osis yang lain. Mereka selalu terjun ke lapangan apabila ada divisi yang membutuhkan bantuan mereka. Anak dari divisi lain pun juga tidak segan untuk membantu divisi lain yang sedang membutuhkan bantuan. Mereka saling membantu dan menawarkan bantuan agar apa yang sedang dikerjakan dapat cepat selesai dengan baik.
Tibalah di hari festival olahraga SMA Tujuh Belas diadakan. Seluruh panitia acara yang merupakan anak osis sudah bersiap dari subuh untuk persiapan yang lebih matang dan acara dapat berjalan lancar. Mereka sibuk mondar-mandir kesana kemari untuk membawa barang yang dibutuhkan dan memastikan apa yang sudah direncanakan sebelumnya berjalan tanpa hambatan.
Hingga waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, seluruh peserta festival olahraga sudah siap di lapangan untuk melaksanakan Grand Opening. Acara dibuka dan diawali dengan meriah dan penuh gembira. Lomba pertama diawali dengan lomba voli yang mengadu antara kelas12-3 dan 12-9. Pertandingan terlaksanakan dengan kondusif, diiringi oleh sorakan dari teman-teman sekelas mereka yang ikut menonton untuk memberikan dukungan.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut berakhir di pukul 3 sore hari. Sebelum melakukan pembersihan, Sakiel meminta seluruh anak osis untuk mengumpul di lapangan dan membentuk lingkaran, ada yang ingin ia sampaiakan.
“Good job all. Terima kasih atas partisipasi dan kerja kerasnya, hari pertama berjalan dengan lancar walaupun ada sedikit kendala, tapi gapapa masih bisa dimaklumi,” Sakiel tersenyum, “Dijadikan pelajaran saja, dan besok kita lakukan yang lebih baik lagi, semangat!”
Sorakan Sakiel diakhir kalimat itu dibalas dengan sorakan yang sama dari seluruh anak osisi yang ada di situ. Walaupun kegiatan ini awalnya didasari oleh berbagai perbedaan pendapat, tapi mereka tetap dapat mencari jalan keluar dengan mendengar semua masukan dan keluhan dari anggota lain. Acara pun dapat berjalan dengan lancar dan hal ini cukup membuat Sakiel dan Malik senang karena seluruh anggotanya masih dapat saling merangkul dan mendengar.
Chrisna Apsara Hita (25080694223)