Setengah Dunia Yang Sunyi
Ditengah ramainya suasana kota dan surya yang mulai menyapa dengan cahaya merah muda, deretan gedung sekolah itu mulai terjaga. Sinar matahari pagi yang merayap pelan melewati pagar besi hingga ke taman sekolah yang membuat suasana menjadi lebih hangat. Dengan menggendong tas berwarna abu-abu tua, Arga berjalan santai melewati koridor sekolah, sampai pada akhirnya dia tiba di tujuan yaitu ruang kelas 10C. Arga adalah anak yang masih duduk dibangku kelas sepuluh sekolah menengah pertama yang sangat aktif dan ceria, ia mudah bergaul dan senang berinteraksi dengan teman temannya. Setiap pagi ia berangkat lebih awal, menyapa teman-temannya, dan seringkali membantu guru untuk menyiapkan peralatan mengajar yang diperlukan, setelahnya arga selalu menyempatkan diri untuk duduk dan mendengarkan musik lewat handphone dengan perantara earphone kabel berwarna putih cerah miliknya. Dia sangat menyukai musik, genre musik yang hampir diputar setiap hari adalah musik rock dan pop dengan suara keras. Selain suka mendengarkan musik Arga adalah anak yang suka bermain alat musik, dia mengikuti ekstra band di sekolahnya dan beberapa kali telah meraih prestasi berkat hobinya.
Hari ini adalah mata pelajaran yang sangat disukai Arga yaitu seni budaya. Saat mendengar pengumuman dari Bu Darti selaku guru seni budaya bahwa akan diadakannya praktek musik di ruang band. Arga dan teman-temannya tampak antusias, suara kelas yang awalnya hening seketika menjadi ramai dan bersorak semangat karena biasanya mata pelajaran seni budaya disekolah Arga dominan dengan tari dan seni rupa, jarang sekali Bu Darti mengajak praktik musik.
Arga dan teman sekelasnya bergegas pergi ke ruang band untuk melakukan praktik musik. Kegiatan berlangsung selama kurang lebih dua jam, dari balik pintu ruangan tersebut terdengar suara drum, piano, gitar listrik, dan alat musik lainnya dengan suara yang cukup keras. Arga yang memegang gitar tampak sangat menikmati setiap nada yang ia mainkan. Sesekali ia menyesuaikan irama dengan pukulan drum dari temannya, sementara Bu Darti mengambil nilai dan memperhatikan mereka dengan senyum bangga.
Namun karena terlalu larut dalam keseruan bermain musik, Arga tidak menyadari bahwa suara yang dihasilkan dari alat musik di ruangan itu sangat keras. Apalagi ruang band tersebut cukup sempit dan dindingnya memantulkan suara, sehingga suara drum dan suara gitar listrik terasa semakin kuat. Tanpa sadar Arga menaikkan volume gitarnya agar suara gitarnya terdengar lebih jelas di antara alat musik lainnya. Beberapa saat kemudian, telinga Arga mulai terasa sedikit berdenging. Ia sempat mengernyitkan dahi dan memegang salah satu telinganya, tetapi ia tidak terlalu memikirkannya. Baginya itu hanya sensasi biasa setelah bermain musik dengan suara keras. Arga pun tetap melanjutkan bermain gitarnya hingga praktek musik selesai.
Bel telah berbunyi menandakan pelajaran praktik musik telah selesai dan berganti pada mata pelajaran lainnya, semua siswa kembali ke kelas termasuk Arga. Saat berjalan menuju kelas, Arga merasa ada yang berbeda. Suara teman-temannya terdengar sedikit samar, seperti telinganya tertutup sesuatu sebelah. Ia mencoba mengabaikannya dan berpikir mungkin telinganya lelah karena terlalu lama mendengar suara musik yang keras.
Hari itu Arga pulang sekolah. Malam harinya seperti biasa, kegiatan yang dilakukannya sehari-hari yaitu belajar sambil mendengarkan musik pop dengan earphone miliknya selama berjam-jam dan dengan suara yang lumayan keras. Karena dirasa sudah mulai mengantuk ia pun menutup buku dan melepas earphonenya. Tetapi ia kembali merasakan tidak nyaman pada telinganya dan suara yang ia dengar tidak sejelas biasanya. Namun Arga pun mengabaikannya dan langsung dibuat tidur. ”halah gini doang, pasti besok normal lagi” ucap Arga.
Keesokan harinya, Arga bangun pagi seperti biasa dan bersiap berangkat ke sekolah. Pagi itu udara terasa sejuk, namun Arga masih teringat dengan kejadian semalam ketika pendengarannya terasa berbeda. Ia mencoba menepuk-nepuk pelan telinganya, berharap semuanya kembali normal.
Sesampainya di sekolah, Arga berjalan menuju kelas seperti biasanya. Beberapa temannya menyapanya di koridor.
“Pagi, Ga!” sapa Riko dengan nada ceria.
Arga sempat terdiam sejenak karena tidak langsung menangkap suara itu dengan jelas. Ia menoleh ke arah Riko dan hanya tersenyum kecil. Kemudian Arga dan Riko berjalan bersama menuju ruang kelas tanpa obrolan apapun. Dalam perjalanan menuju kelas Arga seringkali menepuk ringan bagian telinganya dan sesekali mengernyitkan dahi. Riko yang mengetahui hal tersebut merasa ada yang aneh dengan Arga yang tidak ceria seperti biasanya. Ia mencoba mengajak Arga berbicara dengan suara yang tidak terlalu keras.
”Ga, ada jajanan baru di kantin, nanti istirahat kesana yuk!” Ajak Riko.
Arga menoleh dengan wajah sedikit bingung. ”Hah, kenapa?”
Riko mengulang ucapannya sekali lagi, dengan lebih keras. “Ke kantin saat istirahat!”
“Oh, iya boleh” jawab Arga dengan sedikit rasa cemas dengan pendengarannya.
Saat pelajaran dimulai, Arga mencoba fokus mendengarkan penjelasan guru. Namun beberapa kali ia merasa suara guru terdengar kurang jelas, terutama ketika guru tersebut berbicara sambil membelakangi kelas. Arga harus lebih berkonsentrasi agar dapat memahami apa yang dijelaskan.
Bel telah berbunyi menandakan jam istirahat telah tiba, Arga dan Riko serta teman teman yang lain beranjak ke kantin untuk mencoba jajanan baru yang ada di sana yaitu risol mayo. Arga duduk bersama teman-temannya, mereka tertawa dan mengobrol seperti biasa, tetapi Arga menyadari bahwa ia harus lebih memperhatikan wajah teman-temannya agar bisa memahami apa yang mereka katakan. Terkadang ia juga harus meminta mereka mengulang perkataannya, karena suara yang ia dengar terasa sedikit samar, seperti tertutup sesuatu.
Arga sempat mengalami flu dan demam. Hidungnya tersumbat dan telinganya terasa penuh. Ibunya menyuruh Arga untuk beristirahat di rumah, tetapi sore itu bertepatan dengan latihan band di sekolah. Arga tidak ingin melewatkannya ia tetap berangkat meskipun kondisinya belum sepenuhnya pulih. Saat band dimulai Arga beberapa kali menaikkan volume gitarnya dengan maksud agar suara gitarnya terdengar lebih jelas, tanpa disadari suara yang terlalu keras dan kondisi telinganya yang sedang tidak sehat membuat telinganya terasa semakin tidak nyaman.
Sesampainya dirumah, Arga akhirnya menceritakan hal yang ia rasakan kepada ibunya di rumah. Ia mengatakan bahwa sejak kemarin telinganya terasa berbeda dan suara suara terdengar samar dan tidak jelas seperti biasanya. Ibunya yang mendengar cerita itu tampak sedikit khawatir. Ia lalu menyarankan agar Arga memeriksakan telinganya ke dokter supaya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Arga pun mengangguk pelan. Meskipun masih merasa bingung, ia mulai menyadari bahwa perubahan pada pendengarannya bukanlah hal yang bisa diabaikan begitu saja.
Keesokan harinya Arga bersama Ibunya pergi ke klinik untuk memeriksakan telinganya. Saat ibunya mengambil nomor antrian, Arga hanya duduk terdiam, sambil sesekali memainkan tali tasnya dengan perasaan khawatir dan sedikit panik. Ia berharap bahwa semua yang telah ia rasakan hanyalah hal sementara dan ia berusaha meyakinkan diri bahwa sepulang dari klinik pendengarannya akan normal kembali.
Tak lama kemudian, terdengar nama Arga dipanggil oleh perawat. Arga dan ibunya pun masuk ke ruangan kemudian dokter menanyakan beberapa hal.
” Dek Arga, apa yang dirasakan?” tanya dokter kepada arga dengan lembut.
”hah A-a-a anu dok” jawab Arga terbata-bata, lalu ibunya memperjelas ucapan dokter tersebut.
”yang kamu rasakan apa” jelas ibu Arga.
”Oh, ini dok akhir akhir ini telinga saya tidak nyaman, suara-suara yang saya dengar samar dan tidak terdengar begitu jelas” jawab Arga.
”Apakah arga sering mendengarkan musik lewat earphone?” tanya dokter kembali. ”iya dok” jawab arga dengan sedikit raut wajah yang tampak cemas.
Dokter kemudian memeriksa telinga arga dengan alat medis khusus. Setelah itu, dokter menjelaskan bahwa kemungkinan telinga Arga sedang mengalami masalah pendengaran yaitu hard of hearing yang terjadi karena beberapa hal yang menjadi faktor salah satunya yaitu terlalu sering terpapar suara yang keras.
”Pesan dokter untuk sementara waktu, Arga harus mengurangi mendengarkan musik dengan earphone dan menghindari suara yang terlalu keras ya” jelas dokter.
Mendengarkan penjelasan dan pesan dokter Arga hanya mengangguk pelan. Dari penjelasan itu membuat hatinya terasa sedikit sedih karena musik adalah hal yang sangat ia sukai, bahkan menjadi bagian dari separuh dunianya.
4
Dokter kemudian melanjutkan penjelasannya dengan nada yang tenang. “Jika nanti pendengarannya semakin menurun atau tidak kunjung membaik, Arga mungkin perlu menggunakan alat bantu dengar agar bisa mendengar dengan lebih jelas.”
Ditambah mendengar hal itu, Arga terdiam dan menunduk. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa suatu hari ia mungkin harus menggunakan alat bantu untuk mendengar. Ibunya menggenggam tangan Arga dengan lembut, mencoba menenangkannya.
“Yang penting sekarang Arga menjaga telinganya dan mengikuti saran dokter,” kata ibunya dengan lembut.
Dalam perjalanan pulang, Arga banyak berpikir. Ia merasa khawatir, tetapi juga mulai memahami bahwa kesehatan pendengaran adalah hal yang sangat penting. Sejak saat itu, Arga mulai berusaha lebih berhati-hati. Ia jarang menggunakan earphone dan mencoba menjaga jarak dari suara yang terlalu keras.
Hari-hari berikutnya terasa sedikit berbeda bagi Arga. Di kelas, ia berusaha duduk lebih dekat dengan guru agar dapat mendengar penjelasan dengan lebih jelas. Teman temannya juga mulai membantu dengan mengulang perkataan mereka dan berbicara sedikit keras jika Arga tidak mendengar dengan baik. Meskipun sempat merasa khawatir dan kecewa, Arga perlahan belajar untuk beradaptasi. Ia masih memiliki kecintaan yang besar terhadap musik dan percaya bahwa ia tetap bisa menjalani hobinya dengan cara yang lebih baik. Sejak saat itu Arga mulai melakukan beberapa perubahan, ia tidak lagi mendengarkan musik menggunakan earphone dengan volume keras, ia mengatur volumenya sedang atau lebih rendah dan tidak terlalu lama mendengarkan musik.
Kemudian dengan keterbatasannya saat ini Arga tidak memutuskan hobinya, dia tetap menyukai musik, tetapi ia lebih memperhatikan kesehatannya. Saat latihan band di sekolah, Arga juga mulai menjaga jarak dari alat musik yang suaranya sangat keras seperti drum. Ia bahkan menggunakan earplug atau pelindung telinga ketika latihan agar suara yang masuk ke telinganya tidak terlalu kuat. Selain itu dia juga mulai sadar jika telinganya sudah berdenging dan terasa tidak nyaman, ia segera beristirahat dan tidak memaksakan terus bermain musik.
Sampai pada akhirnya perlombaan band telah tiba, Arga sempat merasa gugup namun ia mengingat semua usaha yang dilakukan selama ini. Dengan penuh percaya diri Arga memegang gitarnya dan mulai memainkan lagu bersama tim bandnya. Penampilan mereka pun mendapat tepuk tangan meriah dari para penonton. Bahkan band sekolah Arga berhasil meraih juara dalam lomba tersebut. Saat berdiri di atas panggung bersama teman temannya, Arga tersenyum bahagia. Ia menyadari bahwa keterbatasan yang ia alami bukanlah akhir dari segalanya. Perlahan-lahan, Arga belajar bahwa mencintai musik tidak hanya tentang mendengarkan suara keras, tetapi juga tentang merasakan irama, memahami nada, dan bekerja sama dengan dalam menciptakan harmoni.
Oleh: Novia Andriani/25010684155