Setengah Roti, Seutuh Keadilan
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau, hiduplah seorang anak bernama Bima bersama ibunya. Sejak ayahnya meninggal dunia, ibunya berjuang keras dengan berjualan kue keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup. Walau hidup sederhana, Bima tak pernah mengeluh. Ia selalu bersemangat berangkat ke sekolah dengan bekal sepotong roti yang dibuat ibunya setiap pagi.
Pagi itu, udara masih sejuk ketika Bima berjalan menuju sekolah. Di depan gerbang, ia melihat temannya, Rafi, duduk sendirian di bawah pohon jambu. Wajahnya pucat dan lesu.
“Kamu kenapa, Fi?” tanya Bima khawatir.
Rafi menggeleng pelan. “Aku belum sarapan, Bim. Ibu harus ke ladang sejak subuh, Ayah masih sakit. Aku nggak bawa bekal.”
Bima terdiam sejenak. Ia tahu roti di tangannya satu-satunya bekal sampai siang nanti. Tapi melihat Rafi yang menahan lapar membuat hatinya tak tega. Akhirnya, ia memotong rotinya menjadi dua dan menyerahkan separuhnya kepada Rafi.
“Makan bareng, yuk. Kalau aku makan sendiri rasanya nggak enak.”
Rafi sempat menolak, tapi Bima tersenyum.
“Tenang saja. Yang penting sama-sama makan.”
Akhirnya mereka duduk di bawah pohon itu, makan bersama sambil bercanda kecil. Dari kejauhan, guru mereka, Bu Rina, memperhatikan. Setelah pelajaran selesai, ia memanggil Bima ke ruang guru.
“Bima, Ibu lihat kamu berbagi roti dengan Rafi. Kenapa kamu mau berbagi padahal kamu sendiri cuma punya sedikit?”
Bima menunduk, lalu berkata pelan, “Soalnya nggak adil, Bu, kalau aku kenyang dan temanku lapar. Aku cuma pengin semua orang ngerasain hal yang sama.”
Bu Rina tersenyum haru. “Kamu tahu, Bima, itulah arti keadilan yang sesungguhnya. Keadilan bukan berarti semua orang punya banyak, tapi setiap orang mendapat apa yang mereka butuhkan.”
Keesokan harinya, suasana di kelas terasa berbeda. Teman-teman Bima mulai membawa bekal lebih, bukan untuk pamer, tapi untuk dibagi bersama. Ada yang membawa pisang goreng, ada yang membawa nasi bungkus kecil dari rumah. Semua makan bersama di halaman sekolah.
Tak ada yang merasa lebih atau kurang, semua duduk dalam satu lingkaran yang sama, tertawa dan saling berbagi cerita.Rafi pun jadi lebih bersemangat belajar dan lebih sering ikut membersihkan kelas tanpa diminta. Mereka belajar bahwa keadilan bukan hanya tentang makanan, tapi juga tentang berbagi waktu, perhatian, dan kesempatan.
Suatu pagi, Rafi datang membawa dua potong roti. Ia tersenyum sambil berkata,
“Sekarang giliran aku yang berbagi, Bim. Adil, kan?”
Bima tertawa. “Adil banget, Fi. Setengah roti darimu hari ini rasanya seutuh keadilan.”
Setiap kali Bima mengingat hari itu, ia tahu satu hal: kadang keadilan tak perlu dibuat dalam aturan besar. Cukup dimulai dari hati yang tulus untuk berbagi dari sepotong roti, bisa tumbuh rasa kemanusiaan dan keadilan yang menyatukan semua.
Nilai Pancasila yang Terkandung:
Sila ke-5 – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Nilai yang tercermin: keadilan, kebersamaan, kesetaraan, dan empati terhadap sesama agar setiap orang mendapat hak dan kesempatan yang sama.
Ruspati - 25080694293