SILENT MELODY
Kirana selalu merasa bahwa adiknya, Alya, adalah seperti nada pertama dalam lagu yang tak pernah selesai, pelan, lembut, namun diam-diam menyelinap ke dalam sanubari siapa pun yang mendekatinya. Alya lahir dalam dunia yang tak mengenal suara, namun ia membaca kehidupan seperti seseorang membaca puisi; perlahan, penuh rasa, dan selalu menemukan makna yang disembunyikan orang lain. Bagi Alya, setiap gerakan angin adalah salam, setiap getaran tanah adalah isyarat, dan setiap tatapan manusia adalah kalimat yang ingin dipahami.
Sejak kecil, Kirana terbiasa menjadi jembatan bagi adiknya, menyampaikan kata-kata dunia kepada Alya, dan menyampaikan dunia Alya kepada mereka. Tetapi tak pernah sekalipun ia merasa terbebani. Bagi Kirana, Alya adalah rumah, tempat di mana sunyi tidak menakutkan, tempat di mana diam bisa tumbuh menjadi kebijaksanaan.
Suatu sore, matahari bergantung rendah di langit, seperti lentera tembaga yang hampir padam. Ketika Kirana menjemput Alya di sekolah, mereka melihat kerumunan di depan warung dekat gerbang. Suara tuduhan mencuat seperti anak panah yang dilepas tanpa arah. Seorang pria ditahan petugas keamanan, wajahnya pucat seperti kertas yang diremas.
“Dia mencuri kotak sumbangan!” teriak seseorang.
“Saya lihat sendiri dia membuka laci!” sahut yang satu, dan banyak umpatan serta makian lain yang terlontar dari Sebagian orang disana.
Namun Alya berdiri diam, menatap lelaki itu dengan mata bening yang tak pernah menghakimi. Ia menarik lengan Kirana dengan lembut. Lalu tangan mungilnya mulai bergerak, membentuk bahasa yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mampu melihat dengan hati.
“Kak… bukan dia. Ada seseorang di belakang warung. Langkahnya tergesa. Punggungnya kecil. Tangannya masuk ke kotak. Dia pergi lewat pintu belakang. Lelaki ini hanya lewat… dia tidak tahu apa-apa.”
Gerakan itu begitu halus dan puitis, seolah-olah ia sedang melukis udara dengan jari jarinya. Kirana merasakan angin dingin merayap ke belakang tengkuknya. Alya tidak hanya melihat, ia mengamati. Ia menangkap hal-hal yang luput dari mata orang lain, gerakan kecil, bayangan samar, ritme tubuh yang tak pernah diperhatikan siapa pun.
Keesokan harinya, mereka dipanggil ke ruang guru. Ruangan itu temaram, dilapisi rasa ragu dan prasangka yang mengendap seperti debu di sudut perabotan tua. Para guru duduk melingkar, wajah-wajah mereka dipenuhi tanda tanya.
“Apa benar kau melihat yang lain?” tanya salah satu guru, suaranya dingin seperti pintu besi.
Yang lain berbisik, “Anak tuli… mungkin salah paham.”
Alya menunduk, jemarinya gelisah seperti daun yang ditiup angin.
Kirana meraih tangannya. “Alya tidak salah,” katanya pelan, “dia hanya melihat dengan cara yang tak kalian pahami.”
Alya pun berdiri. Dengan bahasa isyarat yang runtut, ia memperagakan kejadian itu. Tangan kecilnya menjadi aktor, menjadi pelaku, menjadi saksi. Gerakannya seperti tari— pelan, namun penuh tekanan emosional. Ia menunjuk letak kotak, arah datang seseorang, cara pencuri itu membungkuk, bahkan ritme langkah saat ia kabur.
Ruangan itu jatuh dalam diam panjang. Diam yang berat. Diam yang memalukan. Dan ketika rekaman CCTV akhirnya diperiksa, kebenaran berdiri telanjang di depan mereka, Alya benar. Pria itu tak bersalah. Seseorang lainlah yang menyelinap pergi dalam sunyi.
Sejak hari itu, Kirana memandang adiknya dengan cara baru, bukan hanya sebagai seseorang yang perlu dilindungi, tetapi sebagai seseorang yang membawa dunia kecil dalam sunyinya, dunia yang penuh kebenaran lembut namun tegas.
Menjelang pentas seni sekolah, Alya kembali menjadi pusat perhatian, tetapi kali ini bukan karena kesaksiannya, melainkan karena tariannya. Guru meminta Alya tampil menari bersama siswa lain. Sebagian ragu, sebagian lagi diam-diam menilai.
“Apa dia bisa mengikuti irama kalau dia tidak mendengar?” bisik seseorang. Kirana mendengar itu, dan dadanya terasa seperti diremas. Namun Alya hanya tersenyum tipis, senyum yang selalu terlihat seperti kelopak bunga yang baru membuka diri.
Setiap malam, ruang tamu berubah menjadi panggung kecil. Lampu kuning temaram mencairkan dinding, menciptakan siluet lembut di sekitar mereka. Musik diputar pelan, tak terdengar oleh Alya, tetapi getarannya merayap masuk melalui lantai, merambat ke telapak kakinya.
“Alya,” bisik Kirana, “dengarkan dengan hatimu. Tidak lewat telinga. Tidak lewat dunia. Dengarkan dengan caramu.”
Alya menutup mata. Lalu ia mulai menari. Gerakannya ringan, seperti awan yang melayang di atas bukit. Terkadang ia melompat kecil, seolah mengejar bintang. Terkadang ia menekuk tubuh, seperti laut yang memeluk pantai.
Namun yang paling indah adalah ketika ia membuka mata dan mencari Kirana. Dalam tatap itu ada kepercayaan. Ada cinta. Ada dunia.
Hari pertunjukan tiba. Aula sekolah dipenuhi cahaya putih yang jatuh seperti hujan tipis. Ketika musik dimainkan, Alya melangkah maju. Ia mengikuti getaran bumi, bukan suara langit. Ia mengikuti isyarat Kirana, bukan aba-aba penonton.
Dan ketika ia menari, dunia pun menahan napas. Ia adalah puisi yang hidup. Ia adalah simfoni yang tidak membutuhkan nada. Ia adalah bintang yang menari dalam sunyi.
Tepuk tangan bergema keras—gelombang yang mengguncang udara. Alya melihatnya, merasakannya, meski tak mendengar. Ia memandang Kirana dan tersenyum. Senyum yang terasa seperti doa.
Malam itu, kamar Kirana diterangi lampu kuning temaram, cahaya yang jatuh seperti hujan lembut di dinding. Di atas meja belajar, sebuah mikrofon kecil berdiri, menunggu disentuh. Kirana menarik napas panjang, seakan ingin mengumpulkan seluruh kenangan tentang Alya ke dalam dadanya.
“Alya…” bisiknya pelan, meski ia tahu adiknya tak mungkin mendengar, “aku ingin menjadi penyanyi… tapi apa gunanya menjadi penyanyi, bila orang yang paling ingin kudengarkan laguku justru hidup dalam sunyi?”
Ia menekan tombol rekam.
Dan saat itu juga, suaranya mengalir, bening, lembut, seperti embun yang jatuh dari kelopak bunga.
Kirana memiliki suara emas sejak kecil. Guru musiknya menyebutnya “anugerah yang terlalu indah untuk disimpan.” Namun Kirana selalu merasa suaranya percuma, sebab dunia pertama yang ingin ia masuki dengan nyanyiannya justru dunia tanpa suara.
Tapi malam ini, ia ingin menghadiahkan sesuatu, bukan suara, tetapi makna, yang suatu hari mungkin bisa didengar Alya, entah lewat teknologi, keajaiban, atau takdir.
Kirana menarik mikrofonnya… dan mulai bernyanyi pelan,
membiarkan nada-nada pertama keluar seperti cahaya kecil yang merayap dari kegelapan. “Jika sunyi adalah rumahmu,
biarkan aku menjadi jendelanya.
Tempat cahaya kecil menyelinap masuk,
meski kau tak mendengar langkahku tiba.
Alya, bintang kecil di dadaku,
aku bernyanyi bukan untuk dunia—
tapi untukmu,
yang memahami suara tanpa nada,
dan cinta tanpa kata.
Jika suatu hari langit membuka pintunya,
dan kau mendengar dunia untuk pertama kalinya,
biarlah suaraku
menjadi pagi yang menyapa matamu.
Tetaplah di sini…
tetaplah dalam genggamanku…
Sebab seluruh laguku
adalah doa yang menyamar menjadi nada.”
Saat rekaman berhenti, Kirana menutup mata. Dadanya bergetar, bukan karena tangis, melainkan harapan kecil yang ia selipkan ke dalam setiap bait.
“Suatu hari,” gumamnya lirih, “kalau kau bisa mendengar… kumohon, jadilah pendengar pertamaku.”
Sunyi menjawabnya dengan lembut.
Dan Kirana tersenyum, sebab meski sunyi tak bersuara, ia selalu mengerti.
Dan pagi itu, sebelum matahari bangun sepenuhnya, Kirana menyentuh tangan Alya dengan lembut dan membisikkan kata-kata yang tak akan pernah didengar telinganya… namun selalu sampai pada hatinya,
“Ayo bangun… katanya kamu ingin mendengar suara baruku.”
Karya Farra Nur Ramadhani