Sisi Lain Hidup Seorang Pendosa
Hidup punya makna berbeda-beda, kadang kala bahagia dan kadang kala dipaksa untuk menerima keadaan dari satu luka ke ke luka bagi orang yang terlahir beruntung hidup terasa menyenangkan namun bagi sebagian lainnya hanya berbekal sebuah harapan untuk bertahan hidup. Mereka yang di waktu lelahnya harus dihantam oleh keadaan, terus hidup miskin dan kelaparan atau menanggung malu dan meneruskan hidup. Pagi itu di gang sempit yang hanya cukup dilalui dua orang, Harun seorang pria usia 20 tahun dengan dandanan seperti wanita berjalan menyusuri gang yang sehari-hari ia lewati. Tatapan sinins dan hinaan tak luput menyertai langkah.
“Run, ga malu jadi waria?” ujar setno, pengamen sekaligus teman SMP dan mangkal Harun. “Malu sih, Cuma siapa yang biayain bapak dirumah? Bapakku sakit jantung no, aku cuma punya bapak.” balas Harun. “80 juta buat operasi bapak no, duit darimana? Lamar kerja ditolak karena tamatan SMP, bapak sakit-sakitan, bapak ga tau sih gw kerja gini tapi gw juga butuh makan kali udah ah ayo sholat dhuha.” Jelasnya lagi. Setno tertawa terbahak-bahak “Run, Run dua kata lucu waria sholat. Ga ah gw males, udah sana-sana mau ke lampu merah nih.”
“Ya-ya..yaudah sih, mang napa sih kalo waria sholat? Toh nanti urusannya sama tuhan diterima enggaknya juga” Harun pun pergi meninggalkan setno. Sesampainya harum di masjid tatapan penuh nyinyiran itu kembali menghantam Harun dari seorang ibu-ibu parubaya yang sedang singgah, ibu Siti namanya. “Tuh, tuh liat dek kamu jangan rewel nanti diambil orang itu loh udah yang anteng mama mau lipet mukenah. Kamu kalo rewel diculik loh ya.” Katannya sambil menunjuk Harun. “Maaf mas ga punya uang 1.000” lanjut si ibu.
“Nggak usah bu saya mau sholat kok” jawab Harun, Ibu Siti menimpali Harun “Sholat? Modus ini pasti, mau nyuri kotak amal ya? Orang mah kalo mau ada duit kerja mas, ini sudah jadi waria mau maling pula. Pendosa kayak mas harunya ga boleh masuk masjid, ga ada mas sejarahnya waria sholat orang-orang kayak masnya ini penyebab kiamat.” Harun hanya diam tak menjawab, memilih tak ambil pusing Harun memantapkan langkahnya menuju masjid namun sebelum sempat membuka pintu masjid terdengar teriakan keras dan melengking dari
Ibu Siti “MALINGG, MALLINGG...ADA ORANG MAU MALING KOTAK AMAL.” Teriakan yang tak hanya menarik pentugas kebersihan masjid dan warga sekitar namun juga penghakiman kepada Harun.
“Mana bu malingnya?” tanya warga.
“ITU, ITU PAK MAS-MAS YANG MAU MASUK MASJID.” Tak banyak berfikir panjang warga dan petugas kebersihan masjid langung menghajar Harun hingga babak belur tanpa mendengar cerita dari sisi Harun. “Tuhan aku harus bagaimana? Tubuhku sakit, bapak dirumah butuh aku, kemana lagi aku harus melangkah?” tanya Harun dalam hati.
Tubuh Harun rasanya sudah ingin menyerah. Memar, bibirnya robek, darah di tubuhnya mengalir derassetelah jadi bulan-bulanan masa, tak ada yang menghentikan atau melerai belum selesai masalah hidupnya masalah lain datang menghampiri hidupnya seperti pagelaran nestapa yang tiada akhir. Terdengar langkah pelan mendekat. Seorang lelaki tua, penjaga warung kecil di ujung gang, Pak Rahman namanya. Selama ini ia hanya mengenal Harun sebatas sapa, tapi matanya tak pernah melihat Harun sebagai bahan cercaan.
“Run… ayo bangun, Nak,” ujarnya pelan sambil meraih bahu Harun. Harun terisak, bukan karena sakit badan, tapi karena hatinya sudah terlalu penuh menahan luka. “Pak aku cuma mau sholat aku cuma mau minta Tuhan kuatkan aku sedikit aja… salah ya, Pak?” Pak Rahman menggeleng, suaranya lirih namun tegas, “Yang salah itu manusia yang merasa paling benar sampai lupa kalau Tuhan tak pernah menutup pintu buat siapa pun.”
Dari sini kita dapat mengambil pelajaran mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hubungan langsung dengan Tuhannya, tanpa perantara dan tanpa batasan dari penilaian manusia lain. Tak seorang pun berhak menghakimi ibadah atau nilai seseorang di hadapan Tuhan, termasuk latar belakang, bentuk, kondisi hidup, atau masa lalunya. Tuhan adalah hakim seadil-adillnya, semua manusia biarlah tuhan yang menghukum. Seperti sila ke 1 “ketuhanan yang maha esa” janganlah kalian berusaha menjadi tuhan diantara sesama manusia akibat kesombongan yang ada dalam diri.
Auliya nesya ananda safitri - 25080694011