Sodik si Unggas Baik Hati
Di sebuah hutan kecil yang teduh dan penuh suara kicau, hidup sekelompok unggas yang dikenal sangat kompak. Mereka terdiri dari Udin si ayam kate, Mamat si merak, Asep si merpati, Cecep si burung jalak, Ujang si cendrawasih, dan Dudung si beo. Mereka memiliki satu kebiasaan rutin: setiap pagi mereka berkumpul di bawah pohon beringin besar untuk bermain, bercerita, dan berbagi makanan.
Namun, tak jauh dari sana, ada seekor bebek yang penampilannya berbeda dari unggas lain. Sodik namanya, sering dijuluki “bebek jelek” karena bulunya kusam dan jalannya agak pincang. Meskipun begitu, Sodik selalu menunjukkan niat baik untuk berteman. Setiap hari ia mengintip dari kejauhan, berharap suatu saat bisa ikut bergabung dalam perkumpulan unggas itu.
Suatu pagi, dengan keberanian yang ia kumpulkan dari semalam, Sodik memberanikan diri mendekati mereka. “A… aku boleh ikut main?” tanyanya dengan suara pelan.
Namun sambutan yang datang sungguh jauh dari harapan.
“Eh, lihat tuh! Bebek jelek datang!” seru Udin sambil terkekeh.
“Iya, bulunya kusam banget. Nanti kumpulan kita jadi nggak estetik,” tambah Mamat, merak yang terkenal sombong.
“Aduh, jangan dekat-dekat, nanti suasana jadi aneh,” celetuk Cecep si jalak. Dudung si beo bahkan meniru suara bebek dengan nada mengejek, membuat yang lain tertawa.
Sodik hanya tersenyum kecil, meski hatinya ngilu. Ia mundur perlahan dan kembali ke semak tempatnya biasa duduk sendiri. “Nggak apa-apa… mungkin besok mereka berubah,” gumamnya mencoba menguatkan diri.
Hari-hari di hutan tetap berjalan seperti biasa, tapi perubahan kecil mulai terjadi di hati beberapa anggota kelompok unggas itu. Meski mereka masih mengejek Sodik, tak bisa
dipungkiri bahwa kehadiran bebek itu selalu ada. Seolah ia tak pernah menyerah, meski penolakan terus menghantamnya. Diam-diam, Asep si merpati kadang merasa bersalah, tapi ego kelompok membuatnya ikut arus.
Di sisi lain, Sodik mulai menjaga jarak. Ia tidak lagi terlalu dekat, namun selalu memastikan dirinya cukup terlihat agar mereka tahu ia masih ingin berteman. Setiap pagi ia berlatih berjalan, meskipun kakinya sakit, berharap suatu saat ia bisa lebih gesit dan diterima.
Beberapa kali, Sodik melihat mereka tertawa bersama dan bermain tarik daun atau beradu suara. Kadang ia tersenyum kecil, seakan menikmati kebahagiaan mereka meski hanya menjadi penonton. Tapi di malam hari, saat ia sendirian di tepi sungai, ia sering berbicara pada bayangannya sendiri.
“Kenapa mereka nggak suka aku ya? Apa karena aku beda?”
Atau, “Kalau suatu hari aku bisa bantu mereka, mungkin mereka bakal lihat aku dengan cara yang lain…”. Sodik bukan cuma berharap diterima, ia sungguh percaya bahwa dirinya punya nilai, meski orang lain belum melihatnya.
Di kelompok unggas itu sendiri, hubungan mereka tidak seharmonis yang terlihat. Udin yang paling vokal, sering memulai ejekan. Cecep suka mengikuti karena ia tipe yang ingin selalu terlihat lucu. Dudung menirukan suara Sodik karena dianggap hiburan. Mamat merasa superior, sementara Ujang dan Asep kadang ragu untuk ikut mengejek, tapi tetap diam demi menjaga keharmonisan kelompok.
Dalam diam, Ujang si cendrawasih pernah berkata lirih pada Asep, “Sebenarnya aku kasihan sama Sodik. Dia selalu datang lagi, padahal kita nggak pernah baik sama dia.”
Asep mengangguk kecil. “Aku juga. Tapi kamu lihat kan? Kalau kita bela dia, yang lain bakal bilang kita lembek.”
Ujang menarik napas. “Iya, tapi tetap saja… aku merasa ada yang salah.”
Perkataan itu membekas di benak Asep. Meskipun ia tidak berani mengatakan apa-apa, perlahan ia mulai memperhatikan Sodik lebih seksama. Ia melihat bagaimana Sodik selalu tersenyum meski diejek. Ia melihat bagaimana bebek itu selalu mencoba menahan sakit di kakinya. Dan yang paling ia lihat adalah ketulusan yang tidak dimiliki anggota kelompok mana pun.
Tapi lagi-lagi, diamnya Asep membuat tidak ada yang berubah.
Di sisi lain hutan, masalah yang jauh lebih besar mulai muncul. Beberapa hewan kecil menghilang dalam beberapa hari terakhir. Ranting-ranting patah, jejak kaki besar terlihat di sekitar padang rumput. Hutan seperti memberi pertanda bahwa ada seseorang mulai masuk ke wilayah yang biasanya aman.
Sodik adalah salah satu yang pertama menyadarinya, karena ia tinggal di tepi sungai, wilayah yang sering dilintasi manusia. Awalnya ia tidak terlalu paham, sampai suatu hari ia mendengar suara langkah berat. Ia mengikuti jejak itu dari kejauhan, dan melihat seorang pria membawa senapan serta jaring besar. Mata pemburu itu tajam, menelusuri setiap sudut hutan, seolah mencari burung-burung dengan warna cerah.
Sodik terdiam. Otaknya langsung memutar bayangan Ujang yang bulunya berwarna emas dan hijau, Mamat dengan ekor megahnya, serta Asep yang sering terbang rendah. “Ini bahaya… mereka bisa ditangkap.”
Ia bimbang sesaat. Bagian dirinya ingin diam saja—dengan semua perlakuan buruk yang ia terima, wajar jika ia memilih tak peduli. Tapi hati Sodik beda. Meski disakiti, ia tetap peduli.
“Kalau aku nggak kasih tahu, mereka bisa celaka. Mereka memang nggak baik, tapi… mereka tetap sesama unggas.”
Dengan tekad penuh, ia berlari secepat mungkin, meski kakinya pincang dan sakitnya menyengat sampai dada. Ia menembus semak, melompati akar, dan hampir terjatuh beberapa kali. Ia tidak peduli, yang penting menyelamatkan mereka.
Saat Sodik tiba, mereka masih santai. Udin sedang berlagak jagoan, Mamat memamerkan ekornya, Ujang sedang membersihkan bulunya. Semua terlihat damai.
“K–kalian harus pergi sekarang!” teriak Sodik sambil terengah.
Keenam unggas terbelalak.
“Ada pemburu! Dia bawa senapan dan jaring besar! Dia ada di hutan bagian utara, mengarah ke sini!” Ujang langsung panik. Asep ikut terbang rendah melihat sekitar. Mamat yang tadinya sombong tiba-tiba pucat. Udin gemetaran.
Tanpa menunggu lama, mereka langsung kabur. Sodik mengarahkan mereka ke jalur aman yang ia tahu, menghindari tempat terbuka, lalu menyuruh mereka mengibas daun-daun supaya jejak terhapus.
Beberapa menit kemudian, barulah suara langkah berat pemburu terdengar. Dan seketika hutan berubah sunyi.
Pemburu itu datang terlambat para unggas sudah menghilang.
Setelah yakin aman, Sodik pulang ke sungainya sendirian.
Ia tidak menunggu ucapan terima kasih.
Ia tidak menunggu pengakuan.
Ia hanya ingin mereka selamat.
Keesokan paginya, ketika matahari muncul malu-malu di balik pepohonan, Sodik melihat enam unggas itu datang menghampirinya di tepi sungai. Bukan dengan tawa mengejek, bukan dengan gaya sombong, tapi dengan wajah menyesal.
“Dik…” Udin membuka suara, “kami mau minta maaf.”
Sodik tidak percaya.
Mamat menunduk untuk pertama kalinya. “Kami sudah salah besar. Selama ini kami sombong, ngeremehin kamu, dan ngejek kamu dari penampilan doang.”
Asep melangkah maju. “Kamu bisa aja ninggalin kami kemarin… tapi kamu pilih menolong kami.”
“Kalau bukan karena kamu, mungkin kami udah ketangkep,” tambah Ujang dengan suara lirih.
Dudung, yang biasanya ribut, hanya berkata, “Maafin kami ya, Dik. Kami mau berubah.”
Keheningan menggantung sesaat sebelum Sodik akhirnya berbicara. “Aku mau… asalkan mulai sekarang kita saling menghargai. Aku cuma ingin punya teman.”
Enam unggas itu langsung mengangguk bersamaan.
Untuk pertama kalinya, mereka membuka lingkaran pertemanan mereka dan mengajak Sodik masuk. Sejak hari itu, mereka tidak hanya menerima Sodik sebagai teman baru mereka belajar memperbaiki sikap, menghilangkan kebiasaan menghina, dan membangun kelompok yang benar-benar inklusif. Mereka belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan alasan untuk saling memahami.
Dan di bawah beringin besar itu, sebuah persahabatan baru tumbuh: hangat, tulus, dan penuh makna.
MUHAMMAD SAFIQUL ADITYA - 25010024038