SUARA TAK TERLIHAT & CAHAYA TAK TERDENGAR
Nama ku Rendy, dosen baru di Universitas Negeri Surabaya. Tahun ini aku mendapatkan amanah mengampu mata kuliah Media Pembelajaran di jurusan Teknologi Pendidikan. Awal membuka daftar mahasiswa yang akan ku ajar, aku merasa kaget karena melihat ada dua nama yang langsung membuatku berhenti membaca dan berpikir: Cardo Empu, mahasiswa tunanetra, dan Mozi Ramadhan, mahasiswa tunarungu. Waktu itu aku langsung
berpikir bahwa ini akan menjadi tantangan baru untukku.
Sejak awal aku sudah memiliki tekad ingin membuat kelas yang aku ajar harus menjadi kelas yang nyaman untuk semua mahasiswa, termasuk mereka berdua. Di setiap pertemuan, aku selalu menyiapkan materi audio untuk Cardo, dan slide visual untuk Mozi. Terkadang aku sampai meminta tolong kepada kampus untuk menyediakan juru bahasa isyarat saat mata kuliah tertentu untuk membantu mereka yang membutuhkan. Aku selalu berusaha semampuku untuk membuat kelas yang aku ajar atau bahkan berusaha membuat lingkungan kampus menjadi lingkungan yang inklusif. Namun perjalanan menuju yang lebih baik tidak akan lepas dari yang namanya masalah. Suatu hari, aku masuk kelas seperti biasanya. Cardo seperti biasa, duduk di depan dengan tongkatnya yang terlipat, sedangkan Mozi duduk agak menyamping supaya bisa melihat slide materi dengan jelas. Namun, hari itu suasana kelas tampak berbeda. Suasana kelas terasa tidak seperti biasanya.
Yang ku khawatirkan selama ini akhirnya terjadi di hari itu. Saat aku memulai perkuliahan seperti biasanya, aku melihat ada beberapa mahasiswa yang duduk dibelakang mengeluarkan suara cekikikan sambil melihat ke arah Mozi dan Cardo, dimana diantaranya bernama Rusel dan Alex. Awalnya aku pura-pura tidak sadar dengan kelakuan mereka, sambil tetap melanjutkan mengajar. Setelah beberapa saat, aku mendengar Rusel berbisik kepada teman di sampingnya, yaitu Alex, namun suara bisikan itu terdengar jelas
Rusel: “Mereka itu ngapain kok duduk di depan terus? Kayak orang penting aja” Alex: “Iya lagi, ribet banget kalau kita harus menyesuaikan diri dengan mereka”
Setelah mendengar itu, aku sudah hampir meledak, namun aku masih bisa menahan diri dan segera menyelesaikan kelas. Setelah kelas selesai, tiba-tiba Cardo mendekat sambil meraba meja dosen. Dia ingin mengutarakan isi hatinya
Cardo: “Pak Rendy, apakah bapak ada waktu sebentar untuk saya bicara?” Aku(Rendy): “Boleh banget dong Do, ada apa memangnya?”
Cardo menarik napas dalam-dalam, lalu bercerita bahwa dia mendengar anak-anak lain pada ngetawain dia, walau dia sudah sering digituin, tapi dia tetap merasa sedih, apalagi di lingkungan perkuliahan. Padahal dia hanya ingin belajar secara normal seperti yang lain. Tidak lama kemudian Mozi juga datang sambil menepuk Pundak Cardo. Mozi mengetik sesuatu di hp nya, lalu menunjukkannya kepadaku:
Mozi: “Aku juga sering merasa diomongin sama mereka. Tapi aku nya pura-pura cuek aja.”
Aku langsung merasa dadaku terasa sesak dan panas. Menurutku hal ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Ini sudah masuk ranah bullying, dan tidak bisa dibiarkan.
Keesokannya, aku memulai kelas dengan tenang, para mahasiswa duduk dengan santai, sebagian masih ada yang mengantuk, sebagian lagi sibuk dengan hp masing-masing. Lalu Mozi dan Cardo berangkat bareng dan masuk seperti biasanya.
Aku(Rendy): “Teman-teman, sebelum kita melanjutkan ke materi, saya ingin membahas sesuatu tentang kejadian kemarin.”
Ruangan Pun mendadak sunyi. Beberapa mahasiswa seperti Rusel dan Alex tiba-tiba tertunduk, seolah tahu arah pembicaraan yang kumaksud. Aku pun menatap mereka satu persatu. Beberapa diantara mereka mulai gelisah.
Aku(Rendy): “Teman-teman, Cardo dan Mozi datang ke kelas ini dengan perjuangan yang tidak semua orang bisa bayangkan. Cardo belajar dengan indera pendengaran yang sangat fokus, dan Mozi belajar melalui visual dan bahasa tubuh. Tapi komitmen mereka? Jauh lebih besar daripada sebagian orang yang hanya datang untuk absen.”
Di bangku paling belakang, terlihat Rusel dan Alex yang kemarin bercanda mulai menunduk.
Aku(Rendy): “Kalian tahu apa itu pendidikan inklusif? Itu bukan sekadar menerima mahasiswa disabilitas. Tapi menyediakan lingkungan yang adil, aman, dan nyaman untuk mereka berkembang, serta dibutuhkannya dukungan dari semua orang, termasuk kalian.”
Kelas menjadi benar-benar hening. Lalu aku memberanikan diri untuk mengambil langkah tegas.
Aku(Rendy): “Untuk yang merasa kemarin dengan sengaja menertawakan teman sendiri, nanti setelah jam saya mohon tinggal sebentar. Ada yang mau saya bicarakan dengan kalian.”
Setelah kelas, Rusel dan Alex menghampiri mejaku. Mereka dengan jujur berkata bahwa mereka mengaku salah dan meminta maaf.
Rusel & Alex: “Pak, kami minta maaf. Kami cuma bercanda… nggak maksud buat nyakitin.”
Aku(Rendy): “Canda yang bikin orang lain terluka, itu bukan canda, tapi sudah masuk ke ranah bullying” jawabku lembut tapi tegas.
Setelah itu, aku memberikan sedikit pemahaman tentang mahasiswa disabilitas, cara menghargai orang lain, dan pentingnya keberagaman kepada mereka berdua. Mereka berdua mendengarkan dengan serius, bahkan Rusel seperti sedang menahan air matanya agar tidak keluar. Akhirnya mereka sadar dan berjanji akan meminta maaf kepada Cardo dan Mozi.
Rusel & Alex: “Kami berdua bakal minta maaf langsung ke Cardo dan Mozi, Pak,” kata Dito.
Aku(Rendy): “Bagus. Tapi bukan cuma minta maaf. Tunjukkan secara langsung lewat sikap ke depannya.”
Pada kelas saya berikutnya, saya mengawali pembelajaran dengan menjelaskan pentingnya pendidikan inklusif di lingkungan pendidikan, termasuk di lingkungan perkuliahan.
Beberapa hari setelah kejadian, suasana kelas mendadak berubah drastis. Aku melihat Rusel membantu menuntun Cardo dan menunjukkan jalan sampai ke tempat duduk Cardo. Meski awalnya Cardo merasa kaget dan agak canggung, tapi lama-kelamaan mereka malah menjadi akrab. Alex juga beberapa kali terlihat berdiskusi bareng Mozi. Alex bahkan sampai mempelajari sedikit bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi baik dengan Mozi. Bahkan setelah beberapa waktu berlalu, mereka berempat malah menjadi akrab dan kemana-mana selalu bersama. Aku yang mengamati dari kejauhan hanya bisa tersenyum dan merasa bangga kepada mereka. Karena lingkungan kampus yang kuinginkan bukan lingkungan yang sempurna, tapi lingkungan yang mau belajar dan saling menghormati.
Terkadang aku masih melihat Rusel dan Alex bercanda dengan Cardo dan Mozi. Tapi kini candaan itu bukan untuk merendahkan, namun candaan yang berisi kehangatan terhadap hubungan sesama teman.
Suara yang dulu tidak terdengar, kini didengar. Cahaya yang dulu tidak terlihat, kini diterima.
Karya: Muhammad Ainul Yaqin - 25010024005