Suara Tanpa Kata
Angin sore berhembus pelan melewati jendela kamar kecil di sebuah rumah sederhana. Tirai bergoyang perlahan membawa masuk cahaya matahari yang mulai redup. Di sudut kamar itu, ada seorang anak laki-laki duduk di lantai dengan sebuah gitar di pangkuannya. Namanya Arka Pratama. Jari-jarinya yang ramping bergerak pelan di atas senar gitar. Setiap petikan menghasilkan nada yang lembut seperti cerita yang mengalir tanpa kata-kata. Matanya terpejam seolah ia sedang berbicara dengan dunia melalui musik yang ia ciptakan sendiri.
Arka berbeda dengan anak-anak yang lain. Ia tidak bisa berbicara. Sejak lahir, pita suaranya tidak berkembang dengan baik. Dokter pernah menjelaskan hal itu kepada orang tuanya dengan suara hati-hati seolah takut melukai harapan mereka. Arka bisa mendengar dengan jelas. Ia dapat memahami kata-kata dari orang lain. Namun, tidak ada suara yang bisa
ia keluarkan dari bibirnya. Bagi sebagian orang, itu mungkin adalah kekurangan yang menyakitkan. Namun bagi Arka, dunia memiliki bahasa lain yaitu musik. Sejak kecil, Arka selalu tertarik pada suara. Suara rintik hujan yang jatuh di atap rumah, suara angin yang berhembus menyentuh daun-daun, atau suara panci yang berdentang di dapur ketika ibu sedang memasak. Semua suara itu seperti melodi bagi dirinya.
Ketika ia berusia sepuluh tahun, ayahnya membawa pulang sebuah gitar tua yang dibeli dari pasar loak. Gitar itu tidak sempurna. Di beberapa bagian catnya sudah mengelupas dan salah satu senarnya pernah putus lalu diganti dengan senar yang berbeda warna. Namun bagi Arka, gitar itu adalah harta yang paling berharga. Sejak hari itu, hampir setiap sore ia duduk di kamar dan mencoba memetik senarnya. Awalnya nada-nada yang keluar terdengar kacau. Kadang terlalu keras, kadang terlalu sumbang. Tetapi Arka tidak pernah menyerah.
Hari demi hari, tangannya semakin terampil. Jari-jarinya belajar menemukan posisi nada seperti seseorang yang sedang menemukan jalan pulang. Ibu sering memperhatikan Arka bermain gitar dari depan pintu kamar. Anaknya tidak banyak berinteraksi dengan orang lain. Ia
lebih sering menghabiskan waktu sendiri. Namun setiap kali Arka memainkan gitar, wajahnya terlihat hidup. Seolah-olah saat itu ia tidak lagi terkurung dalam keheningan yang membelenggu.
Sekolah bukanlah tempat yang selalu ramah bagi Arka. Di kelas, ia duduk di bangku pojok paling belakang dekat jendela. Ia mendengarkan dan memperhatikan pelajaran dengan serius serta menyalin materi penting dari guru dengan rapi. Namun ketika teman-temannya bercanda dan mengobrol Arka hanya bisa tersenyum kecil. Beberapa anak mulai memahami keadaannya. Namun tidak semuanya.
Suatu hari ketika jam istirahat, Arka sedang berjalan menuju ruang musik sekolah. Gitarnya tergantung di punggung. Tiba-tiba beberapa siswa menghentikannya.
“Arka!” panggil salah satu dari mereka.
Arka berhenti dan menoleh.
“Coba ngomong dong sekali saja,” kata anak itu sambil tertawa.
Temannya ikut tertawa.
“Dia kan bisu mana bisa ngomong,” sahut yang lain.
Arka menunduk. Tangannya menggenggam erat tali gitar di bahunya. Ada banyak kata yang ingin diucapkan. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak berbeda dari mereka. Ia ingin mengatakan bahwa ia juga punya mimpi seperti teman-teman sebayanya. Namun keheningan kembali menjadi satu-satunya jawaban.
Akhirnya Arka berjalan pergi tanpa berkata apa pun. Langkahnya membawa ke satu tempat yang selalu membuatnya merasa tenang, ruang musik sekolah. Ruang itu tidak terlalu besar tetapi selalu terasa hangat dan tenang bagi Arka. Dindingnya dipenuhi poster band terkenal dan foto-foto pertunjukan band sekolah dari tahun-tahun sebelumnya. Arka duduk di kursi kayu di sudut ruangan. Ia mengambil gitar dari punggungnya. Petikan pertama terdengar pelan. Nada kedua mengikuti dengan lembut. Kemudian melodi perlahan terbentuk mengalir lembut memenuhi ruangan yang sunyi itu. Arka memainkan gitar dengan penuh perasaan. Setiap nada seperti menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diucapkan.
Tanpa Arka sadari, seseorang berdiri di depan pintu. Seorang guru seni musik di sekolah Arka, namanya Pak Bima. Pak Bima awalnya hanya lewat di koridor. Namun ketika ia mendengar suara alunan lembut gitar dari dalam ruang seni langkahnya terhenti. Ia berdiri diam
dan mendengarkannya dengan seksama. Melodi yang dimainkan Arka bukan sekadar rangkaian nada biasa. Ada emosi di dalamnya. Kesedihan, harapan, dan keberanian yang bercampur menjadi satu. Ketika lagu itu selesai, Pak Bima perlahan bertepuk tangan. Arka terkejut dan ia segera menoleh ke arah pintu. Pak Bima tersenyum hangat.
“Itu kamu yang memainkan gitar tadi?”
Arka mengangguk pelan. Ia lalu mengambil buku kecil dari tasnya dan menulis sesuatu. Beberapa detik kemudian ia menunjukkan tulisan itu.
“Saya tidak bisa berbicara, Pak. Tapi saya suka musik.”
Pak Bima membaca kalimat itu perlahan. Kemudian ia menatap Arka lagi dengan tatapan yang penuh penghargaan.
“Kamu mungkin tidak berbicara dengan kata-kata,” kata Pak Bima lembut, “tapi musikmu berbicara sangat jelas.”
Sejak hari itu, Pak Bima sering mengajak Arka berlatih setelah jam sekolah usai. Ia mengajarkan berbagai teknik bermain gitar. Tentang ritme, harmoni, dan cara memainkan musik bersama orang lain. Arka belajar dengan sangat cepat. Lebih cepat dari yang dibayangkan Pak Bima.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengumumkan sebuah acara besar. Festival band antar sekolah yang dilaksanakan di sekolah Arka. Poster acara itu ditempel di berbagai sudut sekolah. Banyak siswa mulai membicarakannya dengan penuh semangat.
Suatu sore di ruang musik, Pak Bima menatap Arka dengan senyum penuh ide. “Bagaimana kalau kamu ikut festival itu?”
Arka terdiam sejenak.
Ia menulis sesuatu di bukunya.
“Saya tidak bisa bernyanyi.”
Pak Bima tertawa pelan. Ia menggeleng pelan.
“Tidak semua orang di band harus bernyanyi, Arka,” katanya lembut. “Setiap orang punya perannya masing-masing. Ada yang memainkan musik, ada yang
menampilkan lirik lewat suara. Kamu bisa membuat musiknya dan nanti akan ada yang menyanyikan lagu itu.”
Arka menatap gitarnya sejenak. Untuk pertama kalinya, ia mulai membayangkan dirinya berdiri di atas panggung bersama sebuah band yang membiarkan gitarnya berbicara sementara suara dari sang vokalis akan melengkapi cerita yang ia mainkan lewat nada.
Beberapa hari kemudian, Pak Bima mempertemukan Arka dengan empat siswa lain yaitu Satya, Juan, Niko dan Mahesa. Mereka sama-sama menyukai musik. Awalnya latihan mereka terasa canggung. Arka tidak bisa berbicara sehingga komunikasi sering terhambat. Namun perlahan mereka menemukan cara sendiri. Mereka memutuskan menggunakan bahasa isyarat sederhana dan tulisan di kertas serta tatapan mata yang saling memahami. Hari demi hari, musik mereka semakin menyatu. Drum Niko memberikan irama yang kuat seperti memberikan semangat yang membara melalui pukulan stik drumnya. Bass Juan mengisi bagian dalam musik dengan nada-nada yang stabil. Keyboard Satya memberikan warna melodi yang lembut membuat alunan lagu terasa lebih hangat dan penuh perasaan.
Di depan mereka berdiri Mahesa, sang vokalis. Suaranya jernih dan penuh emosi mengalir lembut mengikuti setiap nada yang dimainkan. Ia menyanyikan lirik-lirik yang seolah melengkapi cerita yang dibawa oleh musik mereka. Dan di antara semua itu, gitar Arka menjadi pusatnya. Petikan dari senar gitarnya mengikat setiap bagian musik menjadi satu kesatuan
seolah-olah gitar itu sedang berbicara dan mengungkapkan semua perasaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Musik mereka seperti cerita yang hidup.
Hari festival akhirnya tiba. Aula sekolah penuh dengan penonton. Lampu panggung terang menyilaukan dan suara riuh murid-murid memenuhi ruangan. Di belakang panggung, Arka berdiri memegang gitarnya. Tangannya terasa sedikit dingin dan berkeringat. Ini pertama kalinya ia tampil di depan begitu banyak orang.
Satya tersenyum kepadanya.
“Kita pasti bisa,” katanya.
Juan menepuk bahu Arka.
Ketika nama band mereka dipanggil, mereka berjalan naik ke panggung. Lampu sorot langsung menyinari mereka. Beberapa penonton terlihat antusias dan penasaran dengan penampilan mereka. Musik dimulai dengan petikan gitar Arka. Nada pertama mengalun pelan,
lembut dan penuh perasaan. Tak lama kemudian drum Niko masuk perlahan memberikan irama yang teratur. Bass Juan menyusul dengan nada yang dalam dan diikuti alunan keyboard Satya yang menambah warna pada melodi.
Di bagian depan panggung, Mahesa sang vokalis berdiri dengan mikrofon di tangannya. Ketika musik mulai mengalir lebih jelas, ia menarik nafas pelan lalu mulai bernyanyi. Suaranya yang jernih dan hangat menyatu dengan setiap nada yang dimainkan oleh teman temannya. Suara Mahesa seolah membawa cerita dari lagu itu sementara petikan gitar Arka tetap menjadi jiwa dari keseluruhan musik mereka. Tanpa perlu mengucapkan satu kata pun Arka dapat merasakan bahwa melalui gitar dan suara Mahesa, perasaan yang selama ini ia pendam akhirnya bisa tersampaikan kepada semua orang yang mendengarnya.
Melodi itu berkembang menjadi lagu yang penuh emosi. Namun semua orang di ruangan itu bisa merasakan ceritanya. Petikan gitar Arka semakin kuat. Nadanya melompat lompat seperti harapan yang tumbuh di tengah keheningan.
Di antara penonton, ibunya duduk dengan mata yang mulai basah. Ia melihat anaknya berdiri di atas panggung. Anak yang dulu sering dipandang berbeda dari anak-anak lainnya. Anak yang tidak bisa berbicara. Namun malam itu, seluruh ruangan mendengarkan suaranya melalui musik. Ketika lagu berakhir, aula tiba-tiba hening beberapa detik lalu tepuk tangan menggema dengan sangat keras. Arka menatap penonton dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak bisa mengucapkan terima kasih. Namun senyumnya mengatakan segalanya.
Malam itu, band mereka memenangkan penghargaan Penampilan Terbaik. Setelah acara selesai, Pak Bima menghampiri Arka.
“Kamu tahu sesuatu Arka?” katanya.
Arka menatapnya.
“Dunia sering mengira bahwa suara hanya berasal dari kata-kata.”
Pak Bima menunjuk gitar di tangan Arka.
“Padahal, musik juga bisa berbicara.”
Arka menatap gitarnya lama. Di dalam hatinya, muncul sebuah tekad sekaligus mimpi yang perlahan tumbuh semakin jelas. Suatu hari nanti, ia ingin berdiri di panggung yang lebih besar dengan berisikan ribuan orang. Dan meskipun ia tidak bisa berbicara. Musik akan selalu menjadi suaranya.
Nayla Sal Sabila - 25010684159