SUARA YANG SELALU SAMPAI
Setiap pagi, Sinta selalu duduk di bangku paling depan. Bukan karena ia ingin terlihat rajin atau ingin diperhatikan guru, tapi karena hanya di situlah ia bisa menangkap suara dengan lebih jelas. Sinta memang tidak sepenuhnya bisa mendengar. Sejak kecil, pendengarannya lemah. Dokter pernah bilang kalau telinganya masih bisa berfungsi, tapi tidak sekuat orang lain. Suara yang terlalu pelan, terlalu cepat, atau terlalu jauh akan hilang begitu saja—seperti kata-kata yang tidak sempat ia tangkap. Di kelas, hal itu sering membuatnya tertinggal.
“Anak-anak, buka halaman 45,” kata Bu Maya suatu pagi.
Sinta sedikit terlambat membuka buku. Ia menoleh ke kanan, melihat teman di sampingnya, lalu menyesuaikan.
Kadang ia merasa lelah harus selalu menebak-nebak.
“Sin, nanti istirahat ke kantin ya,” kata Lila suatu hari.
Sinta menatapnya. “Hah?”
“Ke kantin,” ulang Lila, kali ini lebih jelas.
“Oh… iya.”
Hal seperti itu terjadi hampir setiap hari.
Tidak semua orang mengerti. Ada yang sabar, tapi ada juga yang tidak.
“Capek ngomong sama kamu, harus diulang terus,” pernah seseorang berkata.
Sinta hanya diam. Ia menunduk dan pura-pura sibuk dengan buku. Padahal di dalam hatinya, ada perasaan yang sulit dijelaskan—sedih, tapi juga terbiasa.
Sepulang sekolah, Sinta jarang langsung bermain seperti anak lain. Ia lebih suka duduk di kamar, membaca buku, atau menulis di buku kecilnya. Buku itu sudah hampir penuh. Di dalamnya ada banyak hal—cerita tentang hari-harinya, tentang kata-kata yang tidak ia dengar, tentang perasaan yang tidak ia sampaikan ke siapa pun. Menulis membuatnya merasa “didengar”, meskipun tanpa suara.
Suatu hari, Bu Maya datang ke kelas dengan wajah yang berbeda.
“Ibu punya kabar,” katanya.
Kelas langsung ramai.
“Minggu depan kita akan tampil di acara sekolah.”
“Wahhh!”
Semua langsung bersemangat.
“Ada yang mau nyanyi?” “Saya, Bu!” “Ada yang mau tari?”
Tangan-tangan terangkat.
Sinta hanya diam.
Ia ingin ikut. Sangat ingin.
Tapi ia ragu.
Kalau harus mengikuti musik, bagaimana kalau ia terlambat masuk? Kalau harus mendengar aba-aba, bagaimana kalau ia tidak menangkapnya? Pikiran-pikiran itu terus berputar.
Sepulang sekolah, ia duduk di teras rumah. Buku kecilnya dibuka, dan ia menulis: Aku ingin ikut… tapi takut tidak bisa.
Ibunya keluar, duduk di sampingnya.
“Kamu kenapa?”
Sinta diam sebentar, lalu berkata pelan, “Di sekolah ada acara… semua harus tampil.” “Itu bagus.”
“Aku takut,” jawab Sinta jujur. “Aku nggak selalu dengar dengan jelas.”
Ibunya tidak langsung memberi jawaban. Ia hanya tersenyum kecil.
“Kamu memang tidak bisa mengandalkan telinga sepenuhnya,” katanya. “Tapi kamu punya cara lain.” Sinta menoleh. “Cara lain?”
“Kamu suka menulis, kan?”
Sinta mengangguk.
“Kenapa tidak pakai itu?”
Sinta terdiam. Ia belum pernah berpikir sejauh itu.
Malam itu, Sinta membuka kembali buku kecilnya.
Ia membaca halaman demi halaman.
Tentang hari pertama ia sadar pendengarannya berbeda. Tentang saat ia salah menjawab karena tidak mendengar pertanyaan. Tentang rasa malu, kesal, dan juga momen kecil yang membuatnya tetap bertahan.
Lalu, ia mulai menulis lagi.
Bukan sekadar catatan harian.
Ia mulai menyusun cerita.
Tentang dirinya.
Tentang dunia yang ia dengar setengah.
Tentang keheningan yang justru membuatnya belajar banyak hal.
Hari demi hari, tulisan itu semakin panjang.
Kadang ia berhenti, merasa tulisannya kurang bagus. Tapi ia mencoba lagi.
Ibunya sesekali membaca diam-diam, lalu tersenyum tanpa banyak komentar.
“Itu sudah bagus,” katanya suatu malam.
“Benarkah?”
“Iya. Itu kamu banget.”
Di sekolah, persiapan mulai serius.
“Sinta, kamu mau tampil apa?” tanya Bu Maya.
Sinta sempat ragu. Tapi kali ini ia tidak ingin mundur.
“Saya mau baca tulisan saya sendiri, Bu.”
Bu Maya tersenyum bangga. “Ibu tunggu ya.”
Sejak itu, Sinta mulai latihan.
Ia berdiri di depan cermin, membaca perlahan. Mengatur napas. Mengulang bagian yang terasa kurang. Kadang ia salah mengucapkan kata. Kadang ia lupa bagian tertentu.
Tapi ia tidak berhenti.
Hari yang ditunggu akhirnya datang.
Aula sekolah penuh. Suaranya ramai, bercampur menjadi satu. Sinta tidak bisa menangkap semuanya. Tapi ia bisa merasakan suasananya. Ia berdiri di belakang panggung, menggenggam kertasnya. Tangannya dingin.
“Gugup?” tanya Lila.
Sinta mengangguk.
“Tenang, kamu pasti bisa.”
Nama Sinta dipanggil.
Langkahnya terasa pelan, tapi pasti.
Lampu terasa terang. Ia berdiri di depan banyak orang.
Ia tidak terlalu jelas mendengar suara di sekitarnya.
Tapi kali ini, itu tidak terlalu penting.
Ia menarik nafas.
Dan mulai membaca.
Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas. Ia membaca tentang bagaimana rasanya hidup dengan pendengaran yang tidak sempurna.
Tentang harus meminta orang mengulang.
Tentang rasa takut salah paham.
Tentang perasaan ketika dianggap merepotkan.
Namun, ia juga membaca tentang hal lain.
Tentang bagaimana ia belajar memperhatikan gerak bibir.
Tentang bagaimana ia mulai memahami ekspresi orang.
Tentang bagaimana keheningan membuatnya lebih peka terhadap hal-hal kecil.
Dan tentang bagaimana ia menemukan suaranya lewat tulisan.
Aula perlahan menjadi hening.
Semua mendengarkan.
Tidak ada yang berbicara.
Sinta terus membaca, tanpa terburu-buru.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu mengejar suara.
Karena kali ini, ia yang sedang bersuara.
Beberapa detik setelah ia selesai, suasana tetap diam. Lalu, tepuk tangan terdengar. Pelan.
Kemudian semakin ramai. Sinta terdiam sejenak. Ia tidak menyangka. Ia menunduk sedikit, lalu berjalan kembali. Di kursinya, ia duduk dengan nafas yang masih sedikit cepat. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Ia merasa lega.
Setelah acara selesai, beberapa orang mendekatinya.
“Itu bagus sekali,” kata seorang guru.
“Terima kasih sudah berani berbagi,” kata yang lain.
Lila langsung memeluknya.
“Keren banget, Sin. Aku sampai merinding.”
Sinta tersenyum.
Bukan senyum biasa.
Ada rasa bangga yang pelan-pelan tumbuh.
Malamnya, seperti biasa, ia membuka buku kecilnya.
Ia menulis:
Kali ini aku tidak takut lagi.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan:
Ternyata aku tidak harus mendengar semua suara untuk bisa bersuara.
Sinta menutup bukunya perlahan.
Ia mulai mengerti sesuatu.
Ia mungkin tidak bisa mendengar seperti orang lain.
Tapi itu tidak berarti suaranya hilang.
Ia hanya menggunakan cara yang berbeda.
Dan ternyata—
Suaranya tetap sampai.
Pesan Cerpen:
Cerita ini mengajarkan bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Setiap orang memiliki cara masing masing untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan dirinya. Kita juga diajak untuk lebih peka dan sabar terhadap orang lain, karena tidak semua orang memiliki kondisi yang sama. Yang terpenting, jangan takut untuk mencoba. Karena setiap orang punya “suara”, meskipun cara menyampaikannya berbeda.
by: Shelomita Pramesti Dwi R - 050