Suara yang Tak Pernah Didengar
Di sekolah, aku selalu menganggap Dimas sebagai sahabat paling dekat. Ia sering mengajakku bekerja kelompok, meminjam catatanku, bahkan meminta bantuanku saat ia kesulitan pelajaran. Aku tidak pernah merasa keberatan, karena kupikir itulah arti pertemanan. Namun, rupanya tidak semua bantuan berbalas ketulusan. Suatu hari, seorang teman sekelasku
bernama Budi yang merupakan penyandang tuna rungu memberikan tanda seolah ingin bicara denganku. Kami memang tidak begitu dekat, jadi aku sedikit heran ketika ia menghampiriku dengan ekspresi serius. Saat istirahat, ia menuliskan sesuatu di selembar kertas kecil dan menyerahkannya kepadaku. “Hati-hati pada orang yang hanya datang saat butuh.” Aku tersenyum canggung, mengira ia hanya salah paham terhadap pertemananku dengan Dimas. Aku menggeleng pelan, mencoba meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Namun Budi menatapku lama, lalu menulis lagi. “Kamu tidak percaya sekarang. Tapi lihatlah cara dia memperlakukanmu ketika kamu tidak bisa menguntungkannya.” Kata-katanya menancap begitu saja, tetapi saat itu aku memilih untuk tidak mempercayainya. Dimas bukan orang seperti itu setidaknya itu yang kupikirkan. Namun sejak hari itu, ada bagian kecil dalam diriku yang mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kulihat.
Beberapa hari kemudian, ketika aku sedang sibuk mempersiapkan dekorasi untuk lomba kelas, Dimas tiba-tiba datang dengan wajah panik. “Bro, bikinin poster dong. Jam istirahat terakhir harus jadi.” Aku sebenarnya sudah kewalahan, tetapi sebelum sempat menjelaskan, ia berkata, “Ayolah, kamu kan teman baik ku.” Ia pergi begitu saja setelah menyerahkan tugasnya, bahkan tanpa menanyakan apakah aku punya waktu atau tidak. Ketika aku meminta bantuannya memasang dekorasi, ia hanya menjawab sambil berlalu, “Ntar aja, aku ada urusan.” Akhirnya aku mengerjakan semuanya sendiri. Konflik belum berhenti sampai di situ. Pada hari presentasi kelompok Bahasa Indonesia, guru memuji isi makalah kelompok kami yang sejujurnya sebagian besar aku kerjakan sendiri. Setelah kelas bubar, aku mendengar sesuatu yang membuat dadaku sesak. Dimas tertawa bersama temannya sambil berkata, “Untung ada dia, kalau enggak mana bisa dapet nilai bagus, Orangnya gampang dimanfaatin kok.” Aku terdiam di depan pintu kelas. Kata-kata itu seperti menamparku. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar dikecewakan oleh orang yang selama ini kusebut sahabat.
Puncaknya terjadi ketika aku sengaja tidak membawa buku catatan matematika untuk melihat reaksinya. Begitu ia tahu aku tidak membawa catatan, ia langsung kesal. “Ah, percuma duduk sama kamu kalau gitu. Aku cari yang lain aja.” Ia pergi tanpa menoleh sedikitpun. Tidak menanyakan alasanku, tidak menanyakan apakah aku baik-baik saja. Benang persahabatanku dengannya akhirnya putus. Saat jam istirahat, aku pergi ke taman sekolah dan duduk di bangku yang jarang dilewati orang. Rasanya marah, sedih, dan bodoh karena baru menyadari semuanya sekarang. Saat itulah Budi duduk di sampingku. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya membuka buku kecilnya. Di halaman yang ia buka tertulis, “Tidak semua orang bisa mendengar, tapi kadang yang tidak bisa mendengarlah yang paling peka.” Aku tertawa kecil. Kali ini bukan karena meremehkan, tetapi karena menyadari betapa benar kata-katanya sejak awal.
Aku menuliskan balasan. “Maaf… aku tidak percaya waktu itu. Dan terima kasih sudah memperingatkanku.” Sejak hari itu, aku mulai menjaga jarak dari Dimas. Namun, konflik kembali muncul beberapa minggu kemudian. Guru Bahasa Indonesia membagikan nilai presentasi. Kelompok kami mendapat nilai tinggi, tetapi guru menulis catatan khusus
“Pembagian tugas terlihat tidak seimbang. Mohon agar lebih adil.”. Dimas langsung menghampiri guru setelah kelas. Aku mendengar ia berkata, “Bu, saya takut nilai saya turun. Saya sebenarnya sudah berusaha, tapi dia yang menguasai semuanya. Saya nggak dikasih kesempatan.” Guru menatapku dan memanggilku mendekat. Sebelum aku sempat bicara, Budi
yang rupanya memperhatikan percakapan itu datang menghampiri. Ia menuliskan penjelasan panjang tentang bagaimana ia sering melihatku mengerjakan tugas sendirian sementara Dimas hanya datang untuk mengambil hasilnya.
Dimas panik dan berkata, “Bu dia itu nggak dengar! Mungkin salah nangkep!” Guru menjawab dengan tegas, “Tidak mendengar bukan berarti tidak bisa mengamati. Kadang orang yang tidak bisa mendengar justru lebih peka daripada orang biasa.” Dimas terdiam. Guru memutuskan untuk memberi penilaian terpisah dan memperingatkan Dimas agar tidak memperlakukan teman sebagai alat. Beberapa hari kemudian, konflik memuncak lagi ketika Dimas dan Budi sempat berdebat di lapangan. Dimas menegur Budi karena dianggap ikut campur. Ia berbicara kasar sambil meniru gerakan tangan Budi secara menghina. Aku datang tepat waktu dan berdiri di antara mereka. “Sudah cukup. Dia membelaku waktu itu karena dia peduli.” Dimas terlihat terkejut karena aku memilih berdiri di sisi Budi. “Kamu marah karena ketahuan, bukan karena kamu merasa benar. Kalau aku benar temanmu, seharusnya kamu tidak memanfaatkanku untuk kepentinganmu saja.” Kata-kataku membuatnya terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar terlihat menyesal.
Beberapa hari berlalu. Dimas akhirnya meminta maaf dengan lebih tulus, tanpa alasan atau pembelaan. Aku menerimanya, tetapi hubungan kami tidak sama seperti sebelumnya. Sementara itu, hubunganku dengan Budi semakin erat. Kami belajar saling memahami, saling menghargai, dan saling menerima. Ia mengajarkanku bahasa isyarat, dan aku membantunya dalam pelajaran. Kami menjadi pasangan belajar yang seimbang, bukan karena terpaksa, tetapi karena saling menghormati. Dari Budi, aku belajar satu hal penting bahwa keheningan tidak selalu berarti ketidakmampuan. Kadang, dalam diamnya seseorang justru tersimpan kejujuran, kepedulian, dan keberanian yang lebih lantang daripada suara siapa pun. Dan kini aku tahu suara yang tidak terdengar itu justru yang paling berhasil menyentuh hatiku.
Karya : Bintang Syafi,ul Umam