Suatu Hari, Aku Tak Sendirian Lagi
Dira duduk di pojok kelas, menatap jendela sambil menggoyang-goyangkan kaki. Di luar sana, teman-temannya tertawa riang. Namun bagi Dira, suara itu hanya lewat di telinga. Ia tidak memiliki alasan untuk ikut tertawa. Sejak dulu, Dira tidak pernah merasa nyaman berteman dengan teman-teman perempuannya. Menurutnya, mereka terlalu rumit dan mudah menilai. Satu kesalahan kecil saja bisa menjadi bahan ghibah yang tidak ada habisnya. Karena itu, sejak kelas sepuluh, Dira lebih sering bergaul dengan teman laki
laki, bermain game, dan berbicara santai tanpa drama.
Namun keadaan berubah ketika ia naik ke kelas sebelas. Di kelas baru, hanya ada empat siswa laki-laki, dan sisanya perempuan. Laki-laki di kelasnya pun bukan tipe yang mudah diajak bermain atau berbincang. Hari pertama saja, Dira sudah merasa seperti orang asing. Tidak ada yang mengajaknya bicara, dan ia pun tidak berusaha memulai. Hari-hari berlalu begitu saja. Saat istirahat, Dira hanya duduk di bangkunya, berpura-pura sibuk menulis. Kadang pura-pura bermain HP, padahal ia hanya membuka kalkulator. Selama hampir satu tahun, ia bahkan tidak tahu di mana letak kantin sekolah.
Selama satu tahun itu, nilainya masih bagus, tetapi tidak sebaik biasanya. Dari yang selalu masuk lima besar, kini ia turun ke peringkat delapan. Saat menerima rapor, Dira hanya terdiam. “Mungkin ini harga dari sendirian,” pikirnya. Tetapi di dalam hatinya, ia mulai lelah. Lelah belajar tanpa berbagi dan diskusi, lelah datang ke sekolah tanpa suara yang menyapanya lebih dulu.
Suatu hari, saat pelajaran ekonomi, Dira memberanikan diri bertanya kepada teman sebangkunya. “Dewi, bagian ini maksudnya gimana ya? Aku bingung deh.” Dewi menoleh dan tersenyum, “Akhirnya kamu berbicara juga, Dir.”
Mereka tertawa kecil, dan sejak percakapan itu, Dira merasa hatinya sedikit lebih ringan. Hari-hari berikutnya, ia mulai pelan-pelan berinteraksi dengan teman-temannya. Awalnya hanya membicarakan pelajaran, lalu berlanjut ke hal-hal ringan, bahkan sesekali berbagi cerita pribadi. Ternyata, rasanya menyenangkan.
Dira belajar bahwa berinteraksi bukan berarti harus penuh drama. Ada kebahagiaan kecil ketika bisa tertawa bersama, saling membantu mengerjakan tugas, dan saling mendengarkan. Nilainya pun perlahan naik kembali, dan semangat belajarnya
tumbuh lagi. Hingga akhirnya, saat kelas dua belas, Dira berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik di sekolah. Namun baginya, hal yang paling berharga bukanlah angka di rapor, melainkan keberanian untuk berubah dan membuka diri.
Setelah lulus, Dira diterima di salah satu universitas negeri melalui jalur prestasi. Hari pertama kuliah, ia memasuki ruang kelas barunya dan berkenalan dengan teman teman barunya. Namun di sudut ruangan, matanya tertuju pada seorang mahasiswi yang duduk sendirian. Ia selalu menunduk, jarang berbicara, dan tampak canggung ketika teman-teman lain tertawa. Sekilas, Dira merasa seperti melihat dirinya yang dulu.
Saat jam istirahat, Dira menghampirinya. “Hai, aku Dira. Kamu sendirian saja?” mahasiswi itu menjawab pelan. “Iya, aku Reni.” Dira tersenyum. “Ayo ikut makan bareng di food court ”. Sejak hari itu, Dira selalu berusaha mengajak Reni berbicara, membantu jika ada kesulitan, dan melibatkannya dalam kegiatan kelompok. Awalnya Reni selalu diam, tetapi lama-lama mulai terbuka. Dira sadar, kali ini ia bukan lagi orang yang ditolong, melainkan orang yang menolong.
Suatu sore, setelah kelas berakhir, Reni berkata pelan, “Terima kasih, ya. Kamu orang pertama yang mengajakku bicara.” Dira tersenyum hangat. “Tidak apa-apa, aku mengerti rasanya menjadi kamu.”
Malam itu, Dira berbaring di kasurnya dengan lampu kamar yang sudah diredupkan. Matanya menatap langit-langit, sementara pikirannya masih melayang pada percakapan dengan Reni tadi siang. Ia tersenyum kecil dan berbisik pada dirinya sendiri, “Dulu aku belajar untuk berani berbicara. Sekarang aku belajar untuk berani mendengarkan. Dan ternyata, keduanya sama pentingnya.”
Dira menyadari bahwa setiap orang butuh tempat untuk didengarkan, diterima, dan dianggap. Tindakan kecil Dira mengingatkan bahwa kemanusiaan bukan hanya tentang membantu orang miskin atau korban bencana, tetapi juga tentang hal-hal kecil seperti menyapa, memahami, dan tidak membiarkan siapa pun merasa sendirian. Dari sikapnya itu, terlihat nilai Sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, ketika seseorang mau memahami dan menghargai orang lain dengan tulus, serta Sila ke-3, Persatuan Indonesia, yang tampak dari usahanya membangun kebersamaan lewat kepedulian kecil yang membuat orang lain merasa tidak sendirian.
Dea Lustika Sari (25080694020)