Sunspot Whispers: Deaf Hearts Entwined in Queer Shadows
Drama I Hear the Sunspot (2024) mengangkat kisah Sugihara Kohei, seorang mahasiswa yang kehilangan pendengarannya setelah demam tinggi saat SMP. Kehilangan pendengaran membuat dunia Kohei menjadi dingin dan sunyi, tanpa suara detik jam, kicauan burung, atau kesibukan ibu di dapur. Kohei berusaha berbaur di SMA dan universitas, tetapi teman-temannya belum siap menerimanya sebagai individu utuh. Ia terisolasi, menjauh dari interaksi sosial, dan dikenal sebagai orang dingin serta anti-sosial. Drama ini menguliti tema menjadi tuli dan queer di dunia yang belum setara, membawa genre Boys Love ke kedalaman baru.
Kohei bukan tuli sejak lahir; ia dididik di lingkungan orang dengar dan mengandalkan pembacaan bibir untuk berkomunikasi. Ia tidak menguasai bahasa isyarat dan tidak pernah masuk sekolah khusus tuli, membuatnya menjadi "inte" atau tuli yang dididik secara eksklusif di sekolah umum. Hal ini menyebabkan Kohei kehilangan sense of belonging, terjebak di antara dunia dengar dan tuli. Ia berpura-pura memahami percakapan, tertawa tanpa paham, dan enggan bertanya ulang agar tidak dikucilkan lebih lanjut. Namun, usahanya sia-sia karena teman-temannya justru mengasihaninya, memperlakukannya sebagai korban tak berdaya.
Di universitas, Kohei bertemu Sagawa Taichi, yang menawarkan bantuan sebagai pencatat kuliah dengan imbalan bento. Awalnya transaksional, hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan dan romansa yang membantu Kohei keluar dari isolasinya. Taichi menerima Kohei lebih dari identitas tuli-nya, memperlakukannya setara tanpa belas kasihan. Drama ini menunjukkan bagaimana Taichi memarahi orang lain yang mereduksi Kohei, mendorongnya untuk merangkul identitasnya. Perjalanan ini menggambarkan cinta romantis yang natural, tanpa perlu narasi panjang tentang penerimaan diri.
Drama I Hear the Sunspot mengeksplorasi interseksi identitas tuli dan queer, yang jarang diangkat dalam genre Boys Love. Kohei menghadapi intersectional invisibility, di mana masyarakat tidak mengakui pengalamannya sebagai tuli dan queer secara bersamaan. Teman-temannya menganggap hubungannya dengan Taichi hanya pertemanan, menyangkal aspek queer-nya. Ahli seperti Robert McRuer menjelaskan bahwa hegemoni heteroseksualitas dan able-bodiedness saling berkaitan, membuat keberadaan queer disabilitas seperti Kohei terus disangkal. Namun, identitas tuli membantu Kohei lebih mudah menerima queer-nya.
Kohei menghadapi diskriminasi atau ableisme, di mana disabilitasnya dianggap inferior dan memerlukan belas kasihan. Contohnya, teman-temannya sengaja membiarkannya menang dalam permainan basket atau mengambil tugasnya tanpa izin. Mahasiswi Miho ingin menjadi "penyelamat" Kohei, seperti karakter tuli di manga favoritnya. Peneliti seperti Fiona Kumari Campbell mendefinisikan ini sebagai diskriminasi berdasarkan standar tubuh tertentu. Ellen Samuels menggambarkan pengalaman tuli tak terlihat, di mana Kohei terpinggirkan dari komunitas tuli dan dengar.
Melalui hubungannya dengan Taichi, Kohei mulai mendefinisikan ulang identitasnya sebagai tuli, tidak lagi memalukannya. Ia belajar bangga dengan disabilitasnya sebelum menerima aspek queer-nya. Perubahan ini membuat Kohei lebih aktif, seperti bermain basket, berkemah, dan bergabung dengan klub bahasa isyarat. Dalam hubungan dengan Taichi, ia terbuka menunjukkan perhatiannya tanpa penyangkalan. Visualnya menunjukkan Kohei lebih sering tersenyum, dengan bahasa tubuh yang terbuka dan tidak lagi menghindari kontak mata.
Meski diapresiasi karena memberikan suara pada identitas marginal, drama ini dikritik karena casting aktor tuli oleh orang dengar. Nakazawa Motoki, pemeran Kohei, dan Shiraishi Yua, pemeran Maya, adalah aktor dengar, bukan tuli. Ini dianggap kurang prioritas pada representasi autentik dari komunitas tuli. Pelibatan aktor tuli penting untuk menghindari tokenisme dan mempertebal stigma. Drama ini mengingatkan pentingnya advokasi representasi tuli di industri hiburan.