TAK ADA PELANGI DENGAN SATU WARNA
“Jikalau dunia diciptakan dalam satu warna, niscaya takkan ada pelangi. Dan jikalau hati manusia dibuat serupa, takkan pernah kita mengenal indahnya perbedaan.”
Tak ada yang benar-benar sama di Summertown, Suburban area di utara Oxford. Bahkan, dua bunga di taman pun mekar dengan cara berbeda. Begitu pula manusianya. Dan itulah yang membuat area itu indah, sekaligus menantang. Gadis berhijab itu bernama Amara, mahasiswi di University of Oxford. Ia berteman baik dengan Selena, gadis berkalung salib yang berasal dari Inggris. Ketika Ramadhan, Amara sempat diajak oleh Selena untuk makan siang setelah kelas tadi. Namun, Amara menolak dengan lembut, sebab ia sedang berpuasa.
“Mengapa kamu tidak makan bersama denganku tadi?” tanya Selena.
Pertanyaan tersebut membuat Amara terdiam sejenak. Ia sungguh bingung, jawaban apa yang akan ia berikan kepada sang kawan mengenai hal tersebut, sebab agama Islam merupakan agama yang paling sedikit dianut oleh masyarakat Inggris. Tak lama, Amara menemukan jawaban.
“Aku sedang berpuasa, Selena. Dalam agamaku, Islam, berpuasa berarti tidak diperbolehkan untuk makan dan minum sampai waktu berbuka tiba,” jawab Amara. Selena terlihat bingung. Yang ada di pikirannya adalah, “Bukankah kemarin Amara sempat membantunya mendekorasi pohon natal? Apakah itu diperbolehkan?”. Tampaknya, Amara mengerti apa yang dipikirkan oleh kawan baiknya itu.
“Ah, iya. Jika kamu berpikir mengapa aku membantumu mendekorasi pohon natal saat akhir tahun lalu,” Amara tersenyum lembut, menatap mata Selena yang penuh tanya. "Itu karena kamu adalah sahabatku, Selena," lanjut Amara pelan. "Bagiku, membantu sahabatku yang sedang bersukacita merayakan hari rayanya adalah hal yang wajar. Aku ada di sana sebagai Amara, sahabatmu."
Selena masih tampak mencerna. "Tapi, bukankah itu berbeda? Maksudku, itu kan simbol agama lain?"
Amara mengangguk. "Itu simbol perayaanmu, dan aku menghormatinya. Agamaku mengajarkan untuk berbuat baik dan menghargai semua orang. Aku membantumu memasang
bintang di puncak pohon itu sebagai bentuk kasih sayang sebagai sahabat, bukan sebagai bentuk ibadahku. Aku tidak ikut berdoa dalam ritual mu, tapi aku ikut berbahagia untukmu." Amara menarik napas sejenak, mencari contoh yang pas.
"Lihat kita sekarang," kata Amara. "Aku sedang berpuasa, ini ibadahku. Kamu tidak ikut berpuasa, kan? Tapi kamu duduk di sini menemaniku, bertanya baik-baik, dan aku yakin kamu tidak akan sengaja makan besar di depanku. Betul?"
Selena mengangguk cepat. "Tentu saja tidak! Aku akan menghormatimu." "Nah, itulah yang namanya toleransi, Selena," simpul Amara. "Aku membantumu merayakan kebahagian di hari Natal, dan kamu menghormatiku yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kita bisa tetap menjadi sahabat baik, rayakan perbedaan kita, tanpa harus kehilangan keyakinan kita masing-masing."
Wajah Selena yang tadi bingung perlahan berubah cerah. Sebuah senyum pemahaman terbit di bibirnya.
"Wah, Amara. Aku belajar hal baru hari ini. Terima kasih sudah menjelaskan." "Sama-sama," jawab Amara.
"Kalau begitu," Selena melirik jam tangannya. "Kapan waktu berbuka tiba? Aku mau ikut menemanimu. Aku tidak akan makan, aku ingin tahu saja. Boleh?" Amara tertawa lepas. "Tentu saja boleh, Selena! Nanti kita berbuka puasa bersama. Aku akan buatkan es buah spesial untukmu!"
Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita tersebut adalah kita harus pintar-pintar membedakan mana urusan keyakinan pribadi, yaitu ibadah dan mana urusan sosial, yaitu pertemanan. Contohnya sangat jelas, yakni Amara tetap teguh menjalankan puasanya, sebab itu adalah ibadahnya. Tetapi dia juga tidak masalah dalam membantu Selena menghias pohon Natal. Dia melakukan itu murni sebagai sahabat, bukan berarti mengikuti ibadahnya. Ini sangat menggambarkan Sila Pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa" yang tidak hanya taat kepada Tuhan kita sendiri, tapi juga harus menghormati orang lain untuk beribadah dengan tenang.
Salsabilla Az Zahra - 25080694086