Tantangan Mewujudkan Pendidikan Inklusif yang Sebenarnya
Setelah membaca dan mempelajari isi dari buku Inclusive Education for the 21st Century yang disunting oleh Linda J. Graham, saya jadi banyak belajar tentang makna sebenarnya dari pendidikan inklusif. Ternyata, selama ini masih banyak kesalahpahaman tentang apa yang disebut sebagai “inklusi”. Banyak sekolah, guru, bahkan masyarakat mengira bahwa pendidikan inklusif itu sekadar menempatkan siswa dengan kebutuhan khusus di sekolah umum. Tapi menurut Graham, hal itu belum bisa disebut inklusi sejati melainkan baru tahap integrasi. Di sistem integrasi, siswa dengan disabilitas memang berada di ruang yang sama dengan teman-temannya, tetapi sistem belajar, kurikulum, dan cara mengajar tetap dibuat untuk anak yang dianggap “normal”. Siswa yang berbeda justru harus menyesuaikan diri dengan sistem yang sudah ada. Akibatnya, mereka sering kali merasa tertinggal, tidak dimengerti, bahkan tersisih. Padahal, inklusi sejati itu sebaliknya sistem pendidikanlah yang seharusnya menyesuaikan diri dengan keberagaman siswa, bukan siswa yang dipaksa menyesuaikan dengan sistem.
Selain itu, dari yang saya baca buku ini juga menyoroti adanya sikap ableism dalam dunia pendidikan, yaitu kecenderungan untuk menilai dan mengambil keputusan berdasarkan pengalaman anak yang “berkemampuan normal”. Sikap ini tanpa sadar membuat anak dengan kebutuhan berbeda dianggap kurang mampu atau menjadi beban, padahal mereka hanya butuh dukungan dan cara belajar yang sesuai. Graham mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya tidak lagi berpusat pada “anak rata-rata”, tetapi pada semua anak termasuk mereka yang belajar dengan cara berbeda. Yang saya pelajari dari buku ini adalah bagaimana Graham tidak hanya mengkritik, tapi juga menawarkan solusi. Ia memperkenalkan konsep seperti Universal Design for Learning (UDL) dan Multi-Tiered Systems of Support (MTSS). Dua pendekatan ini menekankan pentingnya merancang pembelajaran yang fleksibel sejak awal, agar bisa diakses oleh semua siswa tanpa harus menunggu mereka “gagal” terlebih dahulu. Dengan kata lain, guru perlu menyiapkan berbagai cara penyajian materi, cara berpartisipasi, dan cara menilai hasil belajar agar setiap siswa punya peluang yang sama untuk berhasil.
Setelah saya mempelajari dan memahami isi dalam buku ini menurut saya yang dibahas di buku ini sangat relevan dan sesuai dengan kondisi pendidikan Indonesia yang masih dalam proses menuju sistem inklusif. Banyak sekolah sudah membuka diri terhadap keberagaman, tapi belum semua siap dalam hal pemahaman, pelatihan guru, dan fasilitas pendukung. Buku ini mengingatkan saya bahwa inklusi sejati bukan proyek sesaat, tapi sebuah perubahan budayaperubahan cara kita memandang anak-anak di sekolah.Jadi, setelah membaca buku ini, saya bisa menyatakan bahwa masalah terbesar pendidikan saat ini bukan tentang kekurangan fasilitas atau kurangnya niat baik, tetapi soal cara pandang. Selama sekolah masih berfokus pada “anak normal” dan bukan pada keberagaman semua anak, maka inklusi hanya akan jadi slogan. Tapi kalau setiap guru mau melihat perbedaan sebagai kekuatan, bukan hambatan, maka inklusi sejati bukan hal yang mustahil.
Oleh: Prasetyo Budi Pratama 24010044051