Teknologi dalam Pendidikan: Mendorong Inklusi untuk Semua
Pendidikan inklusif bertujuan agar semua siswa, terlepas dari latar belakang, kemampuan, atau tempat tinggal, bisa mendapatkan pembelajaran berkualitas. Teknologi menjadi bagian penting dalam mendorong inklusi, karena mampu menghilangkan hambatan yang ada, menyesuaikan pembelajaran, dan memperluas akses ke pendidikan. Esai ini menjelaskan dampak positif teknologi dalam pendidikan inklusif, didukung oleh contoh nyata dalam tiga tahun terakhir dan teori pendidikan yang relevan. Sumber berita atau artikel yang digunakan akan disebutkan di akhir setiap bagian untuk memudahkan verifikasi.
Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) memungkinkan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa, sehingga memperluas akses bagi mereka dengan berbagai kemampuan. Teori pembelajaran adaptif, yang dipelopori oleh Benjamin Bloom, menekankan bahwa pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu membuat hasil belajar lebih baik. Contoh nyata: Pada tahun 2022, platform AI seperti Duolingo menggunakan algoritma untuk menyesuaikan materi pelajaran bahasa kepada siswa yang mengalami kesulitan, yang membantu jutaan orang di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil. Kasus ini menunjukkan bagaimana teknologi bisa mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi dengan memberikan akses yang gratis dan mudah.
Teknologi juga membantu siswa dengan disabilitas berpartisipasi secara penuh dalam proses belajar. Alat seperti perangkat lunak pengenalan suara, serta realitas virtual (VR) menjadi contoh yang memungkinkan pembelajaran yang lebih inklusif. Teori Universal Design for Learning (UDL) oleh CAST menekankan pentingnya fleksibilitas dalam sistem pembelajaran agar bisa menyesuaikan kebutuhan beragam siswa. Contoh terkini: Pada 2023, beberapa sekolah di Amerika Serikat menggunakan VR untuk siswa autis, seperti proyek di California yang menyediakan simulasi sosial, sehingga meningkatkan keterampilan interaksi mereka. Studi menunjukkan peningkatan partisipasi hingga 70% di kelas inklusif.
Teknologi daring juga membantu mengurangi kesenjangan karena jarak, terutama di daerah terpencil.
Teori konektivitas digital menurut UNESCO menekankan pentingnya infrastruktur digital untuk mewujudkan pendidikan inklusif secara global. Contoh dari 2021 hingga 2023: Selama pandemi, beberapa platform seperti Zoom dan Google Meet digunakan di Indonesia untuk pembelajaran jarak jauh. Aplikasi seperti Ruang Guru membantu siswa di daerah pedalaman. Data menunjukkan penurunan jumlah siswa yang putus sekolah di wilayah terpencil, meskipun masih ada tantangan dalam akses internet.
Meskipun teknologi membantu mendorong inklusi, masalah kesenjangan akses internet masih ada.Inovasi seperti satelit Starlink (2023) mulai membantu, terutama di wilayah seperti Afrika, di mana desa-desa mendapatkan koneksi internet untuk pembelajaran online, meningkatkan partisipasi siswa. Teori ini menggarisbawahi bahwa diperlukan investasi yang terus-menerus untuk memperbaiki akses digital.
Sumber:
https://www.theguardian.com/commentisfree/2023/jul/14/ai-artificial-intelligence-disrupt education-creativity-critical-thinking
https://link.springer.com/article/10.1007/s10055-023-00850-8
https://www.reuters.com/science/starlink-is-now-available-congo-musk-says-2025-05-04/
Mohammad Rehan Aysel Fauzi - 25010024004