Teknologi dan Inklusi dalam Pendidikan
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, teknologi tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi sudah menjadi bagian penting dari cara kita belajar dan mengajar. Dalam konteks pendidikan, saya melihat teknologi memiliki peran besar dalam mendorong inklusi. Inklusi di sini bukan hanya tentang menerima siswa dengan kebutuhan khusus, tetapi juga memastikan setiap anak—dengan latar belakang, kemampuan, atau kondisi apapun—mendapat kesempatan belajar yang setara. Salah satu contoh nyata yang sering saya temui dari berita dan media adalah penggunaan screen reader di sekolah untuk siswa tunanetra. Di beberapa sekolah inklusi di Jakarta dan Surabaya, perangkat seperti JAWS atau NVDA mulai digunakan agar siswa dapat membaca teks digital tanpa harus bergantung pada guru pendamping. Dengan teknologi itu, siswa tunanetra bisa mengakses e book, tugas online, bahkan ujian berbasis komputer. Bagi saya, ini bukan sekadar soal kecanggihan teknologi, tetapi soal bagaimana sebuah alat sederhana bisa membuka pintu akses pendidikan yang selama ini terasa sempit bagi sebagian orang.
Contoh lain datang dari sekolah-sekolah di daerah terpencil. Selama pandemi beberapa tahun lalu, saya melihat banyak cerita di media tentang guru-guru yang memanfaatkan WhatsApp, video pendek, atau aplikasi ringan untuk tetap mengajar murid yang tidak punya fasilitas lengkap. Ternyata, teknologi tidak harus selalu rumit. Pesan suara dari guru atau rekaman video sederhana ternyata mampu membantu siswa yang kesulitan belajar secara daring. Dari situ saya belajar bahwa inklusi juga tentang kreativitas dan kemampuan memanfaatkan apa yang ada agar tidak ada murid yang tertinggal.
Dalam teori pendidikan modern, ada konsep Universal Design for Learning (UDL) yang menekankan bahwa pembelajaran harus memberi banyak cara bagi siswa untuk mengakses materi, mengekspresikan pemahaman, dan terlibat dalam proses belajar. Teknologi sangat cocok dengan prinsip ini. Misalnya, siswa yang sulit fokus bisa terbantu dengan aplikasi text-to-speech atau video animasi; siswa yang lebih visual bisa belajar melalui infografis; dan siswa yang lambat memahami materi bisa mengulang video pembelajaran sebanyak yang mereka butuhkan tanpa rasa malu. Kalau dipikir-pikir, tantangan terbesar bukan pada teknologinya, tetapi pada bagaimana guru dan sekolah menggunakannya dengan bijak. Teknologi tidak otomatis membuat kelas menjadi inklusif. Justru yang membuat teknologi bermakna adalah cara ia digunakan untuk memahami kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Ketika guru mau mencoba, membuka diri, dan memadukan alat digital dengan empati, barulah inklusi benar-benar terasa di kelas.
Akhirnya, saya melihat bahwa teknologi pada dasarnya adalah jembatan. Ia bisa menghubungkan siswa yang sebelumnya terpinggirkan dengan kesempatan belajar yang lebih luas. Namun jembatan itu hanya akan kokoh jika didukung oleh kesadaran bahwa setiap anak berhak mendapatkan ruang belajar yang adil. Teknologi membantu membuka jalan, tetapi manusialah yang menentukan apakah jalan itu akan benar-benar membawa semua orang maju bersama.
MOHAMMAD FIRMAN ALI BASRI - 25010024031