Teknologi dan Inklusi dalam Pendidikan Indonesia Inklusi
Perkembangan teknologi dalam pendidikan bagaikan membuka jendela baru ke dalam ruang kelas yang lebih adil dan ramah bagi semua orang. Ketika saya memikirkan inklusi, saya membayangkan sebuah ruangan besar yang pintunya tidak pernah terkunci dan teknologi adalah kunci cadangan yang memastikan tidak ada yang tertinggal di luar. Pendidikan inklusif bukan hanya tentang menerima keragaman, tetapi juga memastikan setiap siswa memiliki akses yang memadai untuk belajar. Dalam konteks ini, teknologi membawa peluang yang dulu tampak jauh. Salah satu contoh yang paling jelas adalah berita dari Kompas (2023) tentang siswa tunanetra yang menggunakan pembaca layar di sekolah.
Dengan perangkat lunak pembaca layar, siswa dapat mengakses materi digital, mengikuti ujian, dan berinteraksi dengan guru secara mandiri. Tanpa teknologi, proses ini memerlukan asisten khusus namun kini, teknologi membantu siswa bergerak lebih bebas dalam pembelajaran mereka. Teknologi seperti ini bukan hanya alat, tetapi jembatan yang menyatukan perbedaan kemampuan dalam satu ruang pembelajaran.
Selain itu, selama pandemi COVID-19, banyak laporan menunjukkan bagaimana aplikasi konferensi video dan platform LMS membantu siswa di daerah terpencil. Beberapa sekolah menggunakan video rekaman pelajaran dan grup WhatsApp untuk menjangkau siswa yang kesulitan hadir secara langsung. Guru juga mengirim materi dalam format audio kepada siswa yang kesulitan membaca. Hal ini menunjukkan bahwa inklusi tidak selalu memerlukan teknologi super canggih; bahkan teknologi sederhana pun dapat Guru juga kirim materi dalam bentuk audio buat siswa yang kesulitan baca. Ini nunjukin kalau inklusi tidak selalu butuh teknologi super canggih; bahkan alat sederhana dapat memperluas jangkauan pendidikan jika digunakan dengan kreativitas dan empati.
Dari perspektif teoritis, pendekatan Universal Design for Learning (UDL) menekankan bahwa pembelajaran harus dirancang secara fleksibel untuk memenuhi kebutuhan berbagai jenis siswa. Teknologi mendukung prinsip-prinsip UDL melalui berbagai media: teks digital yang dapat diperbesar, video dengan subtitle, audio penjelas, dan platform kuis yang dapat diakses kapan saja. Ketika raga ini tersedia, siswa memiliki lebih banyak jalur untuk mencapai pemahaman seperti jalan kecil yang semuanya menuju ke pusat kota pengetahuan.
Pada akhirnya, teknologi memberikan kita kesempatan untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil. Setiap inovasi yang dirancang dengan mempertimbangkan inklusivitas merupakan langkah kecil menuju ruang belajar yang lebih terbuka—ruang di mana setiap suara, tanpa kecuali, dapat didengar. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, kita tidak hanya memodernisasi pendidikan, tetapi juga memperluas jangkauan sistem pendidikan kepada siapa pun yang ingin belajar.
https://www.kompas.com/edu/read/2025/10/14/090500071/cerita-siswa-slb gunakan-papan-interaktif-saat-belajar-di-kelas-jadi?utm_source=Various&utm_medium=Referral&utm_campaign=Top_Mobile
SYAFRIDA HALIZAH - 25010024003