Teknologi dari ITS: Mendorong Inklusi lewat Neutrack AI Glove
Perkembangan teknologi membuka jalan bagi pendidikan inklusif bukan hanya menyediakan akses fisik ke sekolah, tetapi juga memungkinkan penyandang disabilitas mengikuti proses belajar dan aktivitas harian dengan lebih mandiri. Di sinilah keberadaan alat bantu teknologi memberi arti besar. Di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sebuah inovasi nyata menunjukkan bagaimana teknologi bisa menjadi jembatan ke kesetaraan hak belajar dan mobilitas.
Lewat program pengabdian masyarakat (Abmas), Departemen Teknik Informatika ITS memperkenalkan sarung tangan pintar bernama Neutrack AI Glove di lingkungan sekolah luar biasa, yaitu SMPLB-A YPAB Surabaya. Neutrack AI Glove dirancang untuk membantu penyandang tunanetra bernavigasi dan mengenali benda di sekitarnya melalui kombinasi sensor dan kecerdasan buatan. Dengan demikian, alat ini memberikan “indera tambahan” bagi siswa tunanetra membantu mereka merasakan lingkungan sekitar dengan cara yang berbeda dari tongkat atau panduan manual biasa.
Dalam praktiknya, siswa dan guru di SMPLB-A YPAB dilibatkan langsung, mereka mendapat pelatihan, melakukan uji coba penggunaan, dan memberikan umpan balik terhadap alat bantu ini. Menurut kepala sekolah, Neutrack AI Glove terbukti “lebih simpel dan cocok untuk siswa” dibanding alat bantu tradisional, serta meningkatkan rasa leluasa siswa dalam bergerak.
Kasus ini memperlihatkan bahwa teknologi jika dirancang dengan empati dan kebutuhan nyata bisa mengurangi hambatan fisik dan sosial bagi penyandang disabilitas. Bukan hanya soal akses ke materi pelajaran, tetapi akses ke ruang, kemandirian, dan integrasi sosial. Ini sangat relevan dengan prinsip pendidikan inklusif yang menekankan bahwa setiap anak berhak mendapatkan peluang yang setara tanpa diskriminasi.
Namun, refleksi saya menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup dibutuhkan komitmen lembaga, guru, serta adaptasi lingkungan belajar. Neutrack AI Glove bagus sebagai inovasi awal, tetapi agar dampaknya maksimal sekolah harus mendukung distribusi alat, memberikan pelatihan terus menerus, dan merespons masukan pengguna untuk pengembangan berkala.
Sebagai mahasiswa S1 Teknologi Pendidikan, saya melihat bahwa integrasi teknologi inklusif seperti ini cocok menjadi bagian dari kurikulum inklusif di sekolah terutama di Indonesia, di mana masih banyak penyandang disabilitas menghadapi keterbatasan akses. Bila kita sebagai calon pendidik dan perancang teknologi mampu membumikan ide dan inovasi seperti di ITS, maka mimpi pendidikan yang benar-benar inklusif bukanlah sekedar wacana.
Dalam kesimpulan, kisah Neutrack AI Glove dari ITS memberi gambaran nyata bahwa teknologi adalah alat pemberdayaan. Dengan desain yang tepat dan pelibatan aktor pendidikan, alat sederhana sekalipun bisa memperluas akses, mendukung kemandirian, dan membawa harapan bagi siswa yang selama ini terpinggirkan. Pendidikan inklusif dapat menjadi nyata ketika teknologi dimanfaatkan secara tepat dan didukung oleh komitmen bersama.
Sumber :
https://www.its.ac.id/news/2024/09/12/abmas-its-kenalkan-teknologi-ai-untuk-penyandang-tunanetra/
Dwiki Nanda Kurniawan