Teknologi & Inklusi: Mewujudkan Pendidikan untuk Semua
Perkembangan teknologi saat ini membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Jika dulu akses pendidikan sering dipengaruhi oleh latar belakang sosial, kondisi fisik, atau letak geografis, kini teknologi memberi peluang baru agar semua siswa dapat belajar dengan cara yang lebih setara. Di ruang kelas yang semakin beragam, teknologi hadir bukan sebagai pengganti guru, tetapi sebagai jembatan yang membantu setiap anak memiliki kesempatan untuk memahami materi sesuai kemampuan dan kebutuhannya.
Salah satu contoh nyata dapat dilihat dari penelitian dalam jurnal Implementasi Penggunaan Teknologi Digital sebagai Media Pembelajaran Pada Pendidikan Inklusi di Indonesia. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bagaimana teknologi digital membantu siswa berkebutuhan khusus untuk tetap belajar bersama teman-teman reguler melalui media pembelajaran yang lebih fleksibel dan ramah akses. Misalnya, siswa dengan hambatan penglihatan bisa terbantu melalui fitur pembaca layar (screen reader) atau teks-ke-suara. Sementara siswa yang kesulitan membaca dapat memakai materi dalam bentuk audio atau video sehingga tidak tertinggal dalam proses pembelajaran.
(Link kasus: https://ejournal.unma.ac.id/index.php/educatio/article/view/8586)
Selain mendukung aksesibilitas, teknologi juga membuat proses belajar menjadi lebih fleksibel. Kehadiran platform pembelajaran daring memungkinkan siswa mengakses materi kapan pun dan dari mana pun—sesuatu yang sangat membantu bagi siswa di daerah terpencil atau yang tidak memiliki banyak fasilitas belajar. Bahkan, model pembelajaran seperti Stanford Mobile Inquiry-based Learning Environment (SMILE) menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya alat pasif, tetapi juga mampu mendorong siswa untuk lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri.
Pengalaman di beberapa kampus inklusif, seperti yang dilakukan UNESA, menunjukkan bahwa ketika teknologi digunakan dengan tepat, mahasiswa berkebutuhan khusus bisa mendapatkan materi ajar yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Misalnya, dosen dapat menyediakan materi dalam berbagai format teks, audio, visual sehingga mahasiswa bisa memilih cara belajar yang paling nyaman.
Namun, upaya menghadirkan inklusi berbasis teknologi tentu tidak lepas dari tantangan. Akses internet yang belum merata dan keterbatasan perangkat menjadi hambatan besar, terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Literasi digital guru dan siswa pun masih perlu ditingkatkan agar teknologi benar-benar menjadi alat bantu yang efektif, bukan sekadar formalitas atau beban tambahan. Dalam konteks ini, peran sekolah dan pemerintah sangat penting untuk memastikan pemerataan fasilitas dan pelatihan.
Secara pribadi, saya melihat bahwa teknologi memiliki potensi besar untuk menciptakan pendidikan yang lebih inklusif. Jika diimplementasikan dengan kesadaran dan tanggung jawab, teknologi bisa menjadi ruang baru di mana setiap anak apa pun kondisinya dapat belajar, tumbuh, dan berpartisipasi tanpa merasa tersisih. Pada akhirnya, inklusi bukan hanya soal menyediakan fasilitas, tetapi tentang memastikan bahwa semua siswa merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Teknologi, bila digunakan dengan bijak, dapat menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan hal tersebut.
Chelsy Azzahra Taqiyyah Evril - 25010024021