TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI PENGUAT INKLUSI
Peran teknologi dalam pendidikan semakin terasa terutama ketika membahas inklusi, karena teknologi mampu memperkecil hambatan belajar yang dialami siswa berkebutuhan khusus. Melalui perangkat asistif, media pembelajaran digital, dan aplikasi pendukung, siswa yang memiliki keterbatasan sensorik maupun fisik dapat terbantu untuk mengakses materi pelajaran dengan cara yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Inilah yang membuat teknologi menjadi jembatan penting menuju pendidikan yang lebih adil dan ramah bagi semua peserta didik.
Salah satu contoh nyata dapat dilihat dalam penelitian berjudul “Utilization of Assistive Technology in Special Needs Children's Learning (Inclusive Education)” yang dilakukan di sebuah sekolah inklusi di Boyolali. Penelitian ini mengkaji penggunaan teknologi asistif dalam pembelajaran siswa berkebutuhan khusus di kelas reguler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi seperti alat bantu visual, aplikasi pendukung belajar, dan media digital membantu siswa memahami materi yang sebelumnya sulit diikuti. Meskipun sekitar 33 persen guru dalam penelitian itu dilaporkan belum memahami penggunaan teknologi asistif, dan hampir 48 persen memerlukan bantuan dalam penerapannya, penelitian ini membuktikan bahwa teknologi tetap memberikan dampak positif terhadap partisipasi siswa dalam kelas inklusif. Link studi kasus: https://jurnal.uns.ac.id/disability/article/view/80244
Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat tambahan, tetapi benar-benar membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif. Siswa dengan kebutuhan khusus dapat belajar bersama teman sebaya tanpa merasa terpinggirkan, sementara guru memiliki lebih banyak pilihan dalam menyampaikan materi. Fleksibilitas ini menjadikan proses belajar terasa lebih manusiawi, karena setiap siswa dapat menyesuaikan cara belajarnya sesuai kemampuan masing
masing.
Di sisi lain, keberhasilan pemanfaatan teknologi tetap bergantung pada kesiapan sekolah dan guru. Tanpa pelatihan yang memadai, teknologi bisa saja tidak digunakan secara optimal. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk memberikan dukungan yang konsisten, baik dalam bentuk pendampingan maupun peningkatan kompetensi guru. Jika hal ini dapat diwujudkan, maka teknologi benar-benar bisa menjadi alat yang membawa perubahan nyata bagi pendidikan inklusif.
Dengan melihat contoh tersebut, saya memahami bahwa teknologi tidak hanya tentang alat yang canggih, tetapi tentang bagaimana alat tersebut dimanfaatkan untuk memberi ruang yang adil bagi setiap siswa. Melalui integrasi teknologi yang tepat, inklusi bukan lagi sekadar konsep, tetapi dapat hadir sebagai praktik nyata dalam kehidupan belajar sehari-hari.
Bintang Syafi’ul Umam