Teknologi sebagai Jembatan Inklusi: Penggunaan Screen Reader bagi Siswa Tunanetra
Teknologi memainkan peran krusial dalam mendukung pendidikan yang inklusif. Dalam era pendidikan saat ini, inklusi mencakup penyediaan akses pembelajaran yang setara untuk semua peserta didik, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Salah satu dari contoh nyata dan menarik tentang bagaimana teknologi bisa membantu dalam membuat pendidikan lebih adil dan inklusif untuk semua siswa adalah penggunaan screen reader di Sekolah Luar Biasa Negeri yang ada di Rejang Lebong, Bengkulu. Di sana, siswa tunanetra yang mungkin kesulitan mengakses materi pembelajaran karena keterbatasan penglihatan kini bisa mendengarkan teks digital melalui alat ini, sehingga mereka bisa belajar mandiri dan ikut serta dalam kegiatan kelas seperti teman-teman lainya.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Jurnal Kontribusi (2023) mengungkapkan bahwa alat seperti NVDA dan JAWS memungkinkan siswa tunanetra mengakses konten pembelajaran digital melalui output audio. Perangkat ini mengubah teks digital yang sebelumnya tidak terlihat bagi mereka menjadi suara yang bisa didengar oleh siswa tunanetra. Dalam praktiknya, guru menyediakan bahan ajar dalam format dokumen elektronik, dan siswa menggunakannya melalui laptop yang dilengkapi screen reader. Teknologi ini tidak hanya bisa meningkatkan otonomi siswa dalam proses belajar, tetapi juga memperkaya interaksi mereka dengan materi-materi akademik. Dengan adanya contoh ini, menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar bantuan tambahan, tapi juga penghubung untuk menutup celah dalam pembelajaran. Sebelum munculnya pembaca layar, siswa tunanetra sangat mengandalkan buku Braille atau bantuan dari para guru dan teman sekelas. Saat ini, berkat screen reader, mereka bisa memperoleh akses yang lebih luas ke sumber digital, mampu mengikuti tempo pembelajaran kelas, dan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara mandiri.
Namun, pelajaran penting dari adanya kasus ini adalah bahwa efektivitas teknologi dalam mendukung inklusi sangat ditentukan oleh persiapan guru dan bantuan dari sekolah. Penerapan screen reader membutuhkan latihan khusus untuk guru dan siswa, serta peralatan yang memadai. Tanpa infrastruktur yang solid dan pemahaman yang mendalam, teknologi yang seharusnya inklusif bisa menjadi kurang berguna atau bahkan tidak dimanfaatkan. Secara umum, penerapan screen reader di SLB Rejang Lebong menegaskan bahwa teknologi memiliki kemampuan besar untuk mendorong inklusi dalam pendidikan. Dengan dukungan yang sesuai, teknologi dapat berfungsi sebagai sarana yang memungkinkan bagi setiap peserta didik, dengan berbagai perbedaan dan kebutuhan, untuk mengakses pembelajaran dan mewujudkan potensi mereka secara maksimal.
Sumber kasus: https://jurnal.ciptamediaharmoni.id/index.php/kontribusi/article/view/296
Zahira Helga Prasasti (25010024039)