Teman yang Tak Terdengar
Sore itu kamar Zura dipenuhi cahaya matahari yang menembus tirai pink dan hitam. Gadis itu duduk di ujung ranjang, seragam SMAnya masih melekat dan wajahnya terlihat letih, campuran antara kesal, bingung, dan rindu pada kehidupan lama yang baru ia tinggalkan.
Ketukan pelan terdengar, lalu pintu terbuka sedikit.
“Zura… Umi masuk ya,” kata Umi dengan suara hangat.
Umi melangkah masuk dan melihat putrinya menatap lantai tanpa fokus. “Dari tadi kamu diam saja. Ada apa, Sayang?”
Zura menarik napas panjang, menahan semua yang ingin ia keluarkan.
“Mi… aku belum siap pindah sebenarnya. Teman-temanku dulu di Malaysia… mereka kayak keluarga. Terus sekolah baru ini… aku nggak nyaman. Hari pertama tadi… semua orang kayak sudah punya kelompok sendiri.”
Umi mengusap bahunya.
“Wajar merasa begitu. Kamu baru pindah, baru adaptasi.”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebih lebar.
“Assalamualaikum! Ada apa ini kok Umi langsung masuk kamar begitu?” Abi masuk dengan napas sedikit terengah, diikuti dua sosok laki-laki muda di belakangnya: Agas yang sudah kuliah semester empat, dan Azam, si kembaran Zura, yang baru masuk kuliah.
“Zura kenapa?” tanya Azam sambil melihat wajah adiknya.
“Jangan bilang kamu nangis gara-gara sekolah baru?” Agas nyeletuk sambil menyandarkan tubuh di kusen pintu.
Zura mendelik.
“Bang, aku nggak nangis. Cuma… berat aja.”
Abi langsung duduk di samping Zura.
“Kamu kuat, Nak. Abi tahu itu. Pindahan itu memang nggak mudah, tapi kamu pasti bisa lewatin.”
Zura mengangguk, meski matanya masih redup.
“Kalau besok aku gagal lagi gimana? Kalau aku nggak punya teman?”
Azam langsung menepuk dadanya sendiri, gaya sok gagahnya tidak pernah berubah sejak kecil.
“Kalau gitu, bilang ke aku. Besok aku antar jemput.”
Zura mencibir sambil tertawa kecil.
“Nggak usah lebay, Zam.”
Agas ikut duduk di lantai.
“Intinya, kamu nggak sendirian. Kita semuanya ada di sini.”
Perlahan ketegangan di wajah Zura mulai luntur. Ia merasa lebih baik, meski masih ada kekhawatiran yang tersisa.
Keesokan paginya, Abi mengantar Zura ke sekolah barunya.
Gerbang SMA itu besar, ramai, dan suasananya terasa riuh. Zura menggenggam tali tasnya erat.
“Abi pulang dulu ya. Zura semangat,” ujar Abi sambil menepuk punggung putrinya.
Hari kedua sekolah tidak jauh berbeda.
Orang-orang tampak sibuk dengan lingkaran pertemanan masing-masing. Zura merasa kecil di antara keramaian. Pelajaran berjalan, tapi suasananya tetap asing.
Saat jam istirahat, Zura melangkah keluar kelas untuk mencari udara segar. Di bawah pohon ketapang besar, ia melihat seorang siswi duduk sendirian. Rambutnya pendek sebahu, wajahnya lembut, dan ia fokus pada buku catatannya.
Ada ketenangan yang menarik Zura untuk mendekat.
“Hai…” sapa Zura.
Siswi itu menoleh dan tersenyum. Ia tidak menjawab dengan suara, tapi menggerakkan tangannya dalam bahasa isyarat. Gerakannya halus.
Zura menunjuk dirinya. “Aku Zura.”
Siswi itu mengambil buku kecil dari tasnya dan menulis cepat:
‘Namaku Hilza.’
“Oooh… kamu nggak bisa dengar?” tanya Zura pelan.
Hilza mengangguk.
Wajahnya tidak menunjukkan rasa malu sedikitpun. Justru ada ketegasan dan penerimaan yang kuat.
Zura tersenyum, lalu duduk di sampingnya.
Meski tidak banyak bicara, mereka menghabiskan sisa istirahat bersama. Ada sesuatu yang damai dari persahabatan sederhana itu, meski baru pertama kali bertemu.
Pulang sekolah, Zura berjalan sendirian menuju rumah. Di teras, Agas yang baru balik dari kampus menyapanya.
“Zura! Hari kedua gimana?”
“Lumayan,” jawab Zura santai.
“Abang lihat kamu pulang bareng cewek itu kemarin. Yang… kayaknya beda?” tanya Agas mencoba halus.
Zura memicingkan mata.
“Bang, dia namanya Hilza. Dia temanku.”
“Iya, iya… cuma maksud abang, dia punya keterbatasan kan? Kamu yakin mau bergaul sama dia? Takutnya orang bakal salah paham. Kamu itu masih SMA, lingkungan kamu”
Zura langsung memotong.
“Bang, Hilza itu manusia. Sama kayak kita. Cuma dia nggak bisa dengar. Itu doang. Kenapa aku harus jauhin dia?”
Agas terdiam.
Umi yang lewat mendengar pembicaraan mereka dan langsung berdiri di depan Agas.
“Agas,” ucap Umi pelan tapi tegas, “justru pendidikan inklusi itu ada supaya anak-anak seperti Hilza tetap bisa belajar, bersosialisasi, dan tumbuh tanpa merasa rendah diri. Mereka itu bukan ingin dikasihani. Mereka ingin dimanusiakan dipandang sama seperti kita.”
Zura terdiam, mendengarkan.
“Kamu seharusnya bangga adikmu bisa jadi jembatan untuk dia,” lanjut Umi. “Nggak semua orang punya kemampuan untuk merangkul perbedaan. Banyak orang dewasa pun belum tentu berani dekat dengan orang yang berbeda. Tapi Zura bisa. Itu menunjukkan dia punya hati yang besar.”
Agas menelan ludah, mulai tersentuh.
Umi melanjutkan dengan nada yang lebih dalam:
“Kamu belajar psikologi. Tapi ilmu itu tidak berarti apa-apa kalau kita masih menilai seseorang dari kekurangannya. Inklusi itu bukan tulisan di buku kuliah. Inklusi itu tentang bagaimana hati kita menerima orang lain, memberi ruang agar mereka merasa punya tempat di dunia.”
Zura menatap abangnya.
“Aku cuma pengen jadi teman yang baik, Bang.”
Agas menunduk.
Ia tidak menjawab.
Menjelang senja, Zura menerima pesan:
Hilza: Aku lewat depan rumah kamu. Aku mau balikin buku catatan yang kamu ketinggalan tadi.
Zura buru-buru turun ke teras.
Umi, Abi, Agas, dan Azam secara refleks ikut keluar melihat siapa yang datang.
Di depan pagar, Hilza berdiri sambil tersenyum lembut. Ia menyerahkan buku pada Zura dan membungkuk sopan.
Umi menyapa dengan hangat, “Terima kasih, Nak. Baik sekali kamu.”
Hilza menulis di ponselnya dan menunjukkan:
‘Rumah saya searah. Sekalian lewat.’
Setelah berpamitan, Hilza berjalan menuju jalan raya untuk menyeberang. Dan saat itulah semuanya berubah.
Hilza berhenti ketika melihat seorang nenek kesulitan membawa kantong belanjaan yang berat.
Dengan cepat ia menghampiri nenek itu, mengetuk tangan sang nenek dengan sopan, lalu menunjuk belanjaannya.
Nenek itu tersenyum, seolah menemukan malaikat kecil.
Hilza mengangkat satu kantong belanjaan, kemudian menuntun nenek itu menyeberang dengan hati-hati.
Langkahnya pelan tapi yakin, penuh perhatian dan kesabaran.
Di teras rumah, keluarga Zura menyaksikan semuanya.
Agas terpaku.
Kata-kata yang tadi ia lontarkan menggema di kepala dan kini terasa sangat keliru.
Zura menoleh pelan.
“Bang… itu Hilza. Teman yang sempat Bang ragukan.”
Agas menghela nafas panjang.
“Aku… aku salah, ya?”
Zura mengangguk dengan senyum lembut.
“Nggak apa-apa. Yang penting Bang mau lihat lagi dengan cara yang benar.”
Umi menepuk bahu Agas dengan bangga.
“Kebaikan itu tidak selalu terdengar. Kadang kebaikan justru terlihat dari tindakan diam yang tulus.”
Saat Hilza selesai menyeberangkan nenek itu, ia melambaikan tangan kecil ke arah Zura. Zura membalas lambaian itu dengan senyum hangat.
Agas menatap adiknya.
“Besok… kalau kamu pulang bareng Hilza lagi, boleh aku ikut?”
Zura tertawa pelan.
“Tentu boleh. Hilza pasti senang.”
Dan sore itu, tanpa perlu banyak suara,
tanpa dialog panjang,
tanpa penjelasan rumit
Hilza mengajarkan kepada mereka bahwa kadang, justru dari seseorang yang hidup dalam keheningan,
kita belajar makna kemanusiaan yang paling lantang.
Khansa’ Na’ilatus Sa’adah (25010024020)