Teman yang Tak Terlihat
Sore hari, di kelas yang sunyi, duduklah seorang perempuan di sebelah jendela ruang kelas. Perempuan itu terlihat sedang membaca buku sambil mendengarkan lagu, dia bernama Felicia. Felicia adalah perempuan yang pendiam, dan tidak terlalu populer di kelas. Namun, menurut salah satu anak di kelas Yovi namanya, Felicia itu berbeda. Setiap hari, Yovi selalu menatap Felicia, mencuri-curi pandang untuk melihatnya, di kelas, di kantin di mana pun saat Yovi melihat Felica.
Siang itu, di kantin sekolah “Woi, Yov! Liatin Feli terus. Udahlah, samperin aja sana wkwkwkwk.” Akbar bercanda dengan Yovi “Apasih bar, diem lah. Sapa juga sih yang liatin dia, geer.” Balas Yovi “Tai Yov, kayanya semua bisa liat deh kalo kamu dari tadi liatin dia.” Balas Sandi “Sapa sih yang liatin? Aku lo liatin temenku disana” Yovi menjawab sambil menunjuk ke arah sana. Bel istirahat akhirnya bunyi dan mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Di kelas, bu guru langsung datang dan memulai pelajaran. Bu guru mulai menjelaskan dan di akhir pelajaran Bi guru memberikan tugas “Baik anak anak, ibu akan beri tugas kelompok. Buatlah mading mengenai bencana alam yang ada di Indonesia. Untuk deadline sendiri 2 minggu lagi ya, terus dipresentasikan.” Setelah pembagian kelompok, Yovi sadar bahwa dia sekelompok dengan Felicia. Saat mengetahui hal tersebut, Yovi merasa senang karena ini pertama kalinya dia satu kelompok dengan Felicia.
Jumat sore, sepulang sekolah, kelompok Yovi berkumpul di kelas untuk mengerjakan tugas mading. “Oke guys, aku udah bagi semua tugasnya ya. Bentar, aku kirim ke grup,” ucap Wulan sambil menatap ponselnya. Saat membaca pembagian tugas itu, Yovi kaget karena Felicia mendapat bagian paling banyak dan cukup berat. “Feli, kamu gak mau protes? Tugasmu banyak banget loh,” tanya Yovi pelan. “Gak apa-apa kok Yov, aku nggak keberatan,” jawab Felicia sambil tersenyum tipis. Namun Yovi tak setuju. “Jangan gitu, Fel. Ini gak adil. Lihat tuh, tugas mereka dikit banget.” Lalu Yovi menegur, “Wulan, kok
kamu bagi tugasnya gak adil sih? Feli kebanyakan, kamu sama Hita malah dikit.” Hita langsung menyahut, “Punyaku itu materi berat woy, jangan sok tahu.” Yovi tetap tenang, “Udah aku baca kok, tetep aja nggak adil. Mending pake spin wheel biar adil.” Wulan menghela napas, “Yaudah-yaudah, spin aja lah, ribet banget,” dan akhirnya mereka setuju untuk membagi tugas ulang lewat spin wheel agar lebih adil bagi semuanya.
Hari demi hari mereka bekerja kelompok sepulang sekolah. Yovi selalu berusaha duduk di sebelah Felicia, membantu ketika Felicia kesulitan, dan memberi dukungan. Namun, Yovi mulai sadar bahwa teman sekelompok mereka sering tidak menghargai Felicia. Setiap Felicia memberi pendapat, dia diabaikan. Hingga suatu hari, Yovi tak tahan lagi. “Woi, kalian ini niat kerja kelompok nggak sih? Kok nyebelin banget jadi orang?” tegur Yovi. “Apaan sih Yov? Ngaco banget,” jawab Wulan. “Iya, marah-marah gajelas, autis lu,” timpal Hita. Yovi makin emosi, “Kalian dari kemarin ngecuekin Feli. Padahal dia berpendapat baik-baik. Kasihan tau!” Felicia mencoba menenangkan, “Udah Yov, mungkin mereka nggak dengar.” Tapi Yovi tetap membela. Akhirnya, Wulan dan Hita minta maaf setelah sadar sikap mereka salah, dan mulai mendengarkan saran Felicia.
Hari menjelang presentasi, Yovi melihat Felicia belum pulang. “Loh Feli? Kok belum pulang? Biasanya udah cabut duluan,” tanya Yovi. “Aku lagi nunggu papa, masih ada urusan,” jawab Felicia. Mendengar itu, Yovi lihat peluang. “Mau kuantar? Rumah kita kan searah,” ajaknya. Felicia awalnya menolak, “Nggak usah, nanti malah repotin.” Tapi Yovi tetap memaksa dengan halus, “Ayolah, sekalian lewat.” Akhirnya Felicia setuju, dan di perjalanan mereka asyik ngobrol. Yovi kasih masukan soal sifat dan sikap Felicia, dan sejak itu keduanya mulai dekat dan lebih sering bersama.
Cerita ini mencerminkan sila ke-2 Pancasila, yaitu “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Yovi menunjukkan sikap kemanusiaan dengan membela Felicia yang diperlakukan tidak adil oleh teman-temannya. Yovi menegakkan keadilan dan menghargai martabat manusia, sekaligus mengajarkan bahwa setiap orang berhak didengar dan dihargai dalam kebersamaan.
Gabriel Jeconiah Pramudya - 25080694036