“Tetap Berdiri dalam Caraku Sendiri”
Di pagi itu matahari belum tinggi, tetapi halaman sekolah sudah ramai oleh suara langkah siswa yang bergegas ke kelas. Raka tiba lebih awal dari biasanya. Ia mengayuh roda kursi rodanya perlahan, menikmati udara yang sejuk dan aroma tanah basah setelah hujan semalaman. Di pangkuannya, ia membawa bendera kecil—hadiah dari kakaknya saat ulang tahun.
“Pagi, Rak!” seru Bima, salah satu teman sekelasnya.
“Pagi,” jawab Raka sambil tersenyum.
Bima berlari menyusul teman-temannya, sementara Raka berhenti di bawah pohon trembesi besar. Dari sana ia melihat panitia lomba upacara mulai memasang garis-garis barisan di lapangan. Setiap tahun, saat momen seperti ini datang, Raka selalu merasa campuran antara senang dan sedih. Senang karena ia suka melihat suasana upacara yang khidmat, sedih karena ia selalu hanya menjadi penonton.
Namun pagi ini, Bu Sinta menghampirinya.
“Raka,” panggilnya lembut.
Raka menoleh. “Iya, Bu?”
Bu Sinta berjongkok agar sejajar dengan Raka. “Tahun ini kamu ikut barisan upacara bersama teman-temanmu.”
Raka mengerutkan dahi. “Tapi… aku tidak bisa berdiri lama, Bu. Bahkan berdiri sebentar saja sulit.”
“Raka,” kata Bu Sinta sambil memegang bahu anak itu, “ada banyak cara untuk berdiri. Kadang orang berdiri dengan kaki, kadang dengan suara, kadang dengan hati. Kamu tidak harus sama dengan semua orang untuk menunjukkan hormat.”
Raka menunduk. Kata-kata itu terasa asing, tetapi menghangatkan.
“Kalau aku malah mengganggu barisan, bagaimana?”
“Tidak ada yang terganggu,” jawab Bu Sinta. “Kami hanya perlu membuat ruang untukmu—seperti dunia ini memang seharusnya.”
Ketika waktu upacara tiba, Raka merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Barisan kelasnya sudah rapi. Dini, ketua kelas, memberi isyarat dengan tangan agar Raka maju ke depannya.
“Di sini, Rak,” kata Dini sambil membantu sedikit memutar kursi roda Raka.
Beberapa siswa melihat ke arahnya. Ada yang tersenyum, ada yang tampak penasaran, tapi tak seorang pun menunjukkan ekspresi meremehkan. Teman-temannya berdiri sedikit melebar agar Raka mendapatkan ruang.
“Kamu siap?” tanya Dini pelan.
Raka mengangguk, meski tenggorokannya terasa kering.
Suara pemimpin upacara menggema di seluruh lapangan. Ketika bendera mulai dinaikkan, semua siswa berdiri tegak. Raka mengatur nafasnya. Ia tidak bisa bangkit berdiri, tetapi ia mengangkat kepalanya, meletakkan tangan di dada, dan memegang bendera kecil dengan erat.
Angin pagi menyapu wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa seperti penonton. Ia adalah bagian dari momen itu—bagian dari barisan, bagian dari kehormatan.
Ia merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Bukan kelemahan. Bukan kesedihan. Tetapi rasa bangga yang selama ini ia pikir hanya bisa dirasakan oleh mereka yang berdiri dengan kaki yang kokoh.
“Saya… berdiri,” bisikan pada dirinya sendiri.
Sesaat setelah upacara selesai, beberapa teman menghampirinya.
“Keren banget, Rak,” ujar Bima.
“Kamu bikin kelas kita lebih lengkap,” tambah Dini dengan senyum lebar.
Raka tertawa kecil, masih menyimpan rasa haru yang menggebu.
“Aku cuma duduk,” ujarnya malu-malu.
“Nggak,” kata Dini. “Kamu berdiri. Dengan caramu.”
Kata-kata itu menghentak jauh ke dalam.
Minggu-minggu berikutnya, Raka menjadi lebih percaya diri. Ia mulai ikut kegiatan kelas lainnya. Ia ikut lomba membaca puisi, meski membacanya sambil duduk. Ia ikut kerja kelompok di
lapangan, meski harus minta bantuan teman untuk membawa barang. Ia bahkan menjadi koordinator dekorasi untuk acara pentas seni, memanfaatkan kreativitas tangannya yang lincah.
Suatu sore, ketika ia sedang duduk di halaman sambil menggambar pemandangan sekolah, Bu Sinta datang dan duduk di sampingnya.
“Kamu terlihat berbeda beberapa hari ini,” kata Bu Sinta, tersenyum.
“Berbeda gimana, Bu?”
“Lebih… tinggi,” jawab Bu Sinta sambil tertawa kecil.
Raka ikut tertawa. “Bu, aku ini duduk. Mana bisa tinggi.”
“Tinggi bukan hanya soal badan, Raka.”
Lalu ia menatap anak itu dengan penuh ketulusan.
“Kamu berdiri dalam caramu sendiri, dan itu membuatmu tinggi.”
Raka menatap langit yang memerah senja.
Ia tak pernah membayangkan dirinya bisa merasa setinggi itu.
Dan saat itu, ia tahu:
Meskipun kakinya lemah, hatinya berdiri lebih kokoh daripada sebelumnya.
Karya:mohammad firman ali Basri