Vina, Putri Laut yang Kehilangan Cahaya
Di dalam Samudra Auralis yang luas dan indah seperti negeri dongeng, hiduplah seorang putri duyung kecil bernama Vina. Ia adalah pewaris terakhir Kerajaan Karang Birusebuah istana yang terbuat dari karang bercahaya, tirai rumput laut lembut, dan ikan-ikan berwarna cerah yang selalu berenang gembira. Semua makhluk laut mengenalnya karena matanya sungguh cantik. Mata itu biru berkilau seperti dua bintang kecil yang hidup di dalam air. Setiap kali Vina berenang, sinar dari matanya membuat lautan tampak lebih terang dan hangat.
Vina bukan putri duyung biasa. Ia bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat makhluk laut lain. Ia bisa melihat warna arus air ada arus merah ceria, arus hijau yang menenangkan, dan arus kuning yang berputar seperti tawa kecil. Ia bisa “mendengar” bisikan plankton, dan membaca cahaya yang melompat-lompat di permukaan laut seperti suara yang berubah menjadi warna. Kerajaannya selalu penuh tawa dan kebahagiaan. Sampai suatu malam… semuanya berubah.
Malam itu, Vina berenang ke permukaan sambil tertawa kecil mengejar kunang kunang laut yang berwarna biru dan hijau. Kunang-kunang itu seperti bintang kecil yang jatuh ke dalam laut. Ia tidak sadar bahwa badai besar mulai terbentuk di atas permukaan. Ombak naik setinggi tembok raksasa. Petir menyambar, dan angin mengaum kencang. Di tengah badai, sebuah kapal manusia terbalik. Kapal itu berputar-putar seperti mainan rusak. Tiangnya patah dan meluncur cepat ke dasar laut. Vina tidak sempat menghindar. Sebuah benturan besar menghantamnya. Cahaya terakhir yang ia lihat hanyalah api dari kapal yang pecah. Suara terakhir yang ia dengar hanyalah jeritan badai dan pecahan besi yang jatuh. Lalu… semuanya gelap.
Beberapa hari kemudian, ketika Vina terbangun, ia tak bisa melihat apa pun. Tidak ada cahaya. Tidak ada warna. Ia juga tak bisa mendengar tak ada suara ikan, tidak ada ombak, bahkan suara ibunya pun hilang. Ketika ia mencoba berbicara, tak ada suara yang keluar. Vina terjebak di dalam dunia tanpa cahaya dan tanpa suara.
Ia menangis, tapi air matanya hanya berubah menjadi gelembung kecil yang pecah tanpa suara. Ia meraba-raba sekelilingnya, namun yang terasa hanya dingin dan sepi. Setiap hari ia
mengamuk, memukul karang, menendang rumput laut, dan mengguncang air dengan putus asa. Kerajaan Karang Biru pun ikut tenggelam dalam kesedihan karena tak ada yang tahu bagaimana menolongnya.
Saat semua hampir menyerah, datanglah seorang guru dari Laut Utara bernama Araz. Ia adalah duyung besar dengan wajah tegas dan mata seperti batu karang. Ia jarang tersenyum, tidak banyak bicara, dan semua orang tahu bahwa ia melatih murid dengan cara keras. Namun, ia juga terkenal mampu menjinakkan makhluk laut paling liar sekalipun.
“Berikan aku tiga bulan,” katanya pada Ratu Karang Biru. “Jika aku gagal, aku akan pergi. Tetapi biarkan aku mencoba.”
Ratu setuju meski hatinya khawatir.
Saat mendekati Vina, Araz membuat air bergetar karena gerakan tubuhnya. Vina yang tak bisa melihat hanya merasakan getaran besar itu dan langsung panik. Ia meronta dan menangis tanpa suara, tapi Araz tetap menggenggam tangannya dan membawanya ke ruang latihan karang.
Di sana Araz mengetuk batu karang untuk membuat getaran. Ia menarik tangan Vina ke arah getaran itu, memaksanya memahami pola. Ia membuat pusaran air kecil lalu menekan tangan Vina agar ia mengerti isyarat. Jika Vina melawan, Araz membuat arus air lebih kuat agar ia kembali fokus.
Hari demi hari latihan dilakukan.
Awalnya Vina marah dan takut. Araz seperti badai baginya keras, kuat, dan tak terlihat. Namun sedikit demi sedikit, ada sesuatu yang berbeda. Araz tidak pernah berhenti mencoba, selalu membuka jalan kecil di tengah kegelapan Vina. Dan meskipun terlihat kasar, ia selalu memastikan Vina tidak terluka.
Pada minggu ketiga latihan, sebuah keajaiban kecil terjadi. Araz membuat pusaran lembut di telapak tangan Vina. Awalnya Vina bingung. Tapi lama-kelamaan ia merasa ada getaran yang seperti memiliki arti. Arti itu seperti suara tanpa suara, seperti kata tanpa huruf. Kata itu adalah: “ikuti.”
Tangan Vina bergetar. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, ia memahami sesuatu. Kegelapan dalam hidupnya akhirnya memberi celah kecil.
Setelah hari itu, ia belajar semakin cepat. Ia belajar “mendengar” dengan kulitnya. Ia mulai “melihat” dengan merasakan tekanan air. Ia bisa membedakan pesan, tanda, dan emosi hanya dari getaran arus.
Dunia barunya mulai terbentuk.
Araz bahkan tersenyum kecil melihat perkembangan itu meski Vina tak bisa melihatnya, ia merasakan air menjadi sedikit lebih hangat di sekitarnya.
Pada bulan ketiga, badai aneh datang dari Laut Hitam. Dari dalamnya muncul monster laut raksasa bernama Leviathan. Tubuhnya gelap seperti malam tanpa bulan. Matanya seperti bara api. Ekor panjangnya mampu menghancurkan karang hanya dengan satu kibasan. Ia datang untuk suatu hal:
cahaya yang dulu ada dalam diri Vina.
Meskipun Vina sudah buta, cahaya itu masih tersisa dalam dirinya, seperti bintang kecil yang tersembunyi.
Kerajaan Karang Biru hancur. Karang beterbangan, ikan-ikan bersembunyi, dan arus air berubah kacau. Araz menyadari bahwa Vina adalah targetnya. Ia segera membawa Vina kabur, namun Leviathan memblokir jalan keluar dengan tubuhnya yang besar. Monster itu mengeluarkan arus hitam yang meledak dalam air. Araz melindungi Vina dengan tubuhnya sendiri. Ia terkena serangan itu dan terluka parah. Getaran air di sekitar Vina melemah. Saat Vina meraba wajah Araz, ia merasakan tubuh gurunya mulai dingin. Dengan sisa tenaga, Araz menggenggam tangan Vina dan mengirimkan getaran terakhir: “Hi-dup… Ca-ha-ya… di da-lam-mu…”
Getaran itu berhenti. Araz jatuh.
Vina menangis tanpa suara. Kesedihannya begitu dalam hingga seluruh lautan ikut bergetar. Dari tubuhnya, muncul cahaya biru lembut yang makin lama makin terang. Cahaya itu menyebar menjadi gelombang besar dan menghantam Leviathan. Monster itu terkejut, meraung, lalu melarikan diri kembali ke Laut Hitam.
Kerajaan selamat.
Namun cahaya itu meredup. Dan hati Vina terasa kosong.
Vina tidak pernah sembuh dari kebutaannya. Ia tetap tidak bisa mendengar atau berbicara. Tetapi ia tumbuh menjadi putri laut yang kuat, baik hati, dan bijaksana. Ia memimpin kerajaan dengan merasakan arus air yang bergerak di sekelilingnya.
Ia menciptakan bahasa baru dari getaran air bahasa yang bisa digunakan oleh makhluk laut yang tidak bisa melihat atau mendengar. Bahasa itu menjadi hadiah dan warisan dari Araz. Setiap malam, Vina berenang ke batu karang tempat Araz beristirahat. Ia menyentuh permukaannya yang dingin dan berkata dalam hatinya:
“Terima kasih, Guru. Cahaya itu masih ada.”
Dan setiap kali ia berada di sana, muncul kembali cahaya biru lembut dari dasar laut… seolah Araz masih menjaganya dari dalam kegelapan.
SYAFRIDA HALIZAH - 25010024003