Warung Bu Sari
Setiap pagi, aroma gorengan dari warung kecil di ujung gang selalu jadi tanda hari baru dimulai. Warung itu milik Bu Sari, perempuan paruh baya yang dikenal ramah dan suka bercanda. Bukan cuma tempat membeli sarapan, warung itu juga jadi tempat orang-orang berbagi cerita tentang pekerjaan, keluarga, atau sekadar gosip ringan.
Di antara pelanggan setianya, ada Adit, pemuda tunanetra berusia dua puluh tahun. Sejak kecil, penglihatannya hilang karena demam tinggi. Tapi Adit tak pernah membiarkan gelap menutup semangatnya. Setiap pagi, ia datang ke warung dengan tongkat putih di tangan, langkahnya hati-hati namun percaya diri.
“Pagi, Bu Sari,” sapa Adit dengan suara hangat.
“Pagi juga, Dit! Mau seperti biasa ya? Pisang goreng dua sama kopi pahit?” Adit tertawa kecil. “Iya, Bu. Kalau diganti kopi manis, nanti hidup saya nggak seimbang.” Bu Sari ikut tertawa, sementara pelanggan lain yang duduk di bangku panjang ikut tersenyum.
Awalnya, tak semua orang di gang itu terbiasa dengan kehadiran Adit. Ada yang merasa sungkan, ada juga yang takut salah bicara. Tapi Bu Sari selalu menjadi contoh. Ia memperlakukan Adit sama seperti pelanggan lainnya tidak lebih, tidak kurang. Mungkin karena itu, lambat laun semua orang pun ikut berubah.
Suatu hari, hujan turun deras sejak pagi. Jalanan licin, genangan air menutupi permukaan gang. Adit tetap datang seperti biasa, menenteng payung hitamnya yang sudah agak usang. Saat hendak pulang, tongkatnya tersangkut di lubang kecil di jalan. Ia sempat terhuyung.
Tanpa diminta, Dimas, remaja SMA yang sering nongkrong di warung itu, langsung menghampiri.
“Hati-hati, Kak. Sini, saya bantu.”
Adit tersenyum. “Boleh, tapi kamu yang tuntun langkahnya, jangan diseret ya.” Dimas tertawa kecil, lalu menggandeng tangan Adit perlahan. Mereka berjalan beriringan, menyusuri gang becek itu sambil bercakap-cakap ringan. Dari situlah pertemanan mereka dimulai.
Sejak hari itu, Adit jadi semakin akrab dengan warga sekitar. Anak-anak kecil sering datang ke rumahnya sekadar belajar membaca huruf Braille. Ibu-ibu pun kadang meminta Adit membantu menulis surat atau membaca pesan suara di ponsel. Adit memang tak bisa melihat, tapi kepekaannya membuat banyak orang merasa diterangi olehnya.
Suatu sore, saat suasana warung mulai sepi, Bu Sari duduk di sebelah Adit. “Dit, aku ingin hias dinding warung biar nggak kelihatan polos. Tapi aku bingung mau gambar apa.”
Adit diam sejenak, menyentuh permukaan dinding yang kasar dengan ujung jarinya. “Kalau aku boleh saran, Bu, buatlah gambar tangan-tangan yang saling menggenggam. Warna boleh apa saja, asal penuh.”
Bu Sari tersenyum. “Tangan menggenggam?”
“Iya. Soalnya, buatku, warna paling indah itu bukan yang kelihatan, tapi yang dirasakan. Dan aku bisa rasakan warna itu setiap kali orang-orang di sini saling bantu.”
Ide itu disambut antusias oleh warga. Minggu berikutnya, mereka bergotong royong melukis dinding warung Bu Sari. Anak-anak membawa cat warna-warni, remaja menggambar bentuk tangan, sementara para ibu menyiapkan makanan ringan. Walau sederhana, semua ikut terlibat.
Hasilnya luar biasa. Dinding yang tadinya kusam kini dipenuhi gambar tangan berbagai ukuran yang saling menggenggam di tengah semburat warna cerah. Di bawahnya, tertulis kalimat yang disarankan Adit:
“Kita berbeda cara melihat, tapi satu dalam rasa.”
Hari itu, Bu Sari menatap dinding itu dengan mata berkaca-kaca.
“Lihat, Dit... sekarang warungku bukan cuma tempat jual gorengan, tapi juga tempat kita belajar tentang kebersamaan.”
Adit tersenyum, menatap ke arah suara Bu Sari. “Saya memang nggak bisa lihat warnanya, Bu, tapi saya bisa rasakan kehangatannya.”
Sejak saat itu, warung kecil di ujung gang menjadi lebih dari sekadar tempat makan. Ia menjadi simbol kecil dari arti inklusi: bahwa setiap orang, apapun kondisinya, punya tempat yang sama di tengah masyarakat. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan alasan untuk saling mendekat.
Dan setiap pagi, ketika aroma pisang goreng kembali memenuhi udara, orang-orang tahu warung Bu Sari bukan cuma tempat sarapan, tapi juga tempat di mana semua orang diterima dengan penuh rasa.
Fattaqur Rozaq - 25010024008