AKU YANG TETAP BERTAHAN
Namaku Raya, aku adalah anak satu satunya dalam keluarga yang tinggal di Pacitan, sebuah kabupaten kecil yang berada di ujung barat Jawa Timur. Sejak kecil aku sangat suka dengan kegiatan berbau teknologi, seperti membuat sebuah website atau aplikasi. orang tuaku juga mendukung minatku, dengan membelikan sebuah laptop dan alat penunjang lainnya. Dibangku sekolah dasar dan menengah pertama ini aku merasakan masa yang menyenangkan yang berbeda pada masa SMA ku. Di masa sekolah menengah atas, Aku mengikuti mengikuti ekstrakurikuler IT, ekstra yang aku cintai dan sangat aktif pada ekskul tersebut, sampai-sampai, aku diajak oleh ketua ekstraku untuk mengikuti lomba. Kami sering berkumpul, baik untuk berdiskusi maupun sekedar bercanda.
Menjelang 1 minggu sebelum masa kepengurusan jabatan ketua ekstraku ini berakhir, di malam hari, dengan suasana malam yang awalnya tenang menjadi penuh pikiran, karena mendadak, aku disuruh ketua ekstra untuk mengikuti rapat malam tetapi melalui daring yang dimana rapat itu membahas tentang kandidat kepengurusan ekstra untuk periode selanjutnya, dan akulah yang terpilih untuk menjadi ketua ekstra untuk periode selanjutnya.
Singkatnya, satu hari menjelang serah terima jabatan, malam harinya aku menyiapkan paparan misi dan program kerja yang sudah aku pikirkan di jauh jauh hari, aku mengerjakan hingga larut. Sehingga keesokan paginya aku terlambat bangun, yang membuatku panik dan terburu-buru karena takut terlambat, bahkan aku sampai lupa untuk pamitan ke orang tuaku , sesuatu yang biasanya tidak pernah kulewatkan saat aku berangkat sekolah. Aku baru menyadarinya saat sudah sampai di penitipan sepeda di depan sekolah. Namun, aku malah memilih untuk mengabaikan dan langsung bergegas masuk.
Pada waktu itulah, kehidupanku yang penuh dengan kebisingan menjadi kesunyian, saat menyeberang jalan, aku terlalu buru buru sehingga tidak menoleh kanan dan kiri, dalam sekejap, sebuah mobil melaju kencang dari arah kanan dan menghantam tubuhku, aku terpental cukup jauh, dan mengenai bagian indera pendengaranku, aku bangkit dan menepi tetapi pandanganku mulai gelap hingga aku kehilangan kesadaran. Dalam ketidaksadaran itu, aku bermimpi melihat diriku yang
menjadi ketua ekstra dan menjalankan semua program kerja yang sudah aku susun, namun itu hanyalah mimpi yang tidak akan menjadi kenyataan.
Di malam harinya setelah kejadian, aku sudah siuman dan pertama kalinya aku melihat semua alat medis terpasang di tubuhku, saat aku mulai sadarkan diri, aku merasakan suatu hal yang sangat berbeda dari sebelumnya, yaitu kesunyiaan, aku awalnya mengira ruangan yang aku tempati ini memang dibuat sunyi untuk menjaga ketenangan pasien. Malam itu terasa begitu asing. Berbeda dari malam-malam biasanya, ketika aku tidur di kamarku sendiri. Kini, aku hanya ditemani kesunyian.
Keesokan paginya, aku dipindahkan ke ruangan rawat inap, dari kejauhan, aku melihat kedua orang tua ku yang sudah menungguku. Tetapi, wajah mereka terlihat sedih, aku senang melihat mereka, tetapi juga bingung, melihat mereka yang terlihat sedih ketika melihat kedatanganku, aku langsung memeluk mereka.
“Ayah.. Ibu..” ucapku yang sangat lantang itu, Namun sekitar aku terdiam.
Ada suatu keanehan, ketika aku mengucapkan tadi aku tidak mendengar suara sama sekali dari ucapan mulutku, aku mencoba berbicara lagi, tetapi tidak ada yang terdengar. Dunia di sekelilingku terasa benar benar sunyi.
Ayahku dengan wajah perasaan penuh kesedihan tetapi harus menunjukan raut muka senyum di depan hadapanku, memberi tahu tentang keadaanku yang sekarang melalui aplikasi catatan yang ada di ponsel.
“Nak, kamu harus sabar, kamu anak kuat kok, ayah percaya sama kamu” Tanganku gemetar saat membalasnya
“Aku kenapa yah… Kenapa aku tidak bisa mendengar?”
Ayahku terdiam sejenak, lalu kembali menulis.
“Nak maafkan ayah… kamu harus bisa menerima semua ini…telingamu mengalami kerusakan yang parah akibat kecelakaan kemarin, yang membuatnya kamu tidak bisa mendengar” kalimat itu terasa seperti menghantamku untuk kedua kalinya. Aku terdiam, pikiranku kosong setelah
mengetahui keadaanku yang sekarang ini, air mataku jatuh. Semua mimpi mimpi yang selama ini kurancang seakan lenyap dalam sekejap.
Ibuku mengusap air mataku sambil tersenyum, seolah ingin mengatakan bahwa aku harus kuat. Dengan tangan yang masih bergetar, aku menuliskan sebuah kalimat di ponselku.
“ibu… sampai kapan aku seperti ini?” ucapan melalui ponselku, ibuku kemudian membalasnya
“kamu harus tabah, nak., kamu akan seperti ini seterusnya, tapi ayah dan ibu akan tetap selalu ada disampingmu”, kalimat dari ibuku sangat membuat pikiran sedih semakin sesak. Sedih bingung dan takut campur aduk menjadi satu.
Seminggu kemudian, aku diperboleh untuk pulang oleh dokter tetapi belum sepenuhnya pulih. setibanya aku dirumah, aku sangat merindukan rumah dan kamar tidurku tetapi dengan suasana yang berbeda, suasana yang sangat hening dan sunyi. Tidak ada lagi suara suara yang menyertai hari hariku.
aku memutuskan untuk mengambil cuti sekolah selama satu bulan. meskipun aku tahu itu akan membuatku tertinggal pelajaran, karena aku belum siap menghadapi dunia luar dengan keadaanku yang sekarang ini.
seminggu berlalu, aku masih berada di fase penolakan dan kemarahan, berkali kali aku menyalahkan diriku sendiri. Andai saat itu aku tidak terburu buru menyeberang jalan raya mungkin dan andai sempat berpamitan ke orang tuaku, mungkin semua ini tidak terjadi. Aku juga takut dan kepikiran apakah orang tuaku apa mereka masih menyayangiku dan menerima kekurangan yang aku miliki ini. Perlahan, aku mulai sudah tidak memikirkan hal hal yang dulu aku sukai, salah satunya kegiatan ekstrakurikuler. Mimpiku menjadi ketua, menjalankan program kerja semuanya terasa sesuatu yang tidak mungkin terjadi lagi. Aku merasa, semua itu hilang bersama suara yang sudah tidak bisa aku dengar lagi.
tiga minggu berlalu. Aku benar benar berada di titik terendah dalam hidupku, aku mengalami depresi, sampai sampai terlintas dalam pikiranku mengakhiri hidup ini.
Namun, sebelum semua itu terjadi, ayahku menyadari perubahan sikapku ketika ia datang ke kamarku dengan wajah penuh kekhawatiran. Ayahku merangkul erat tubuhku dan menangis. Tanpa sepatah katapun, ia menuliskan suatu di lembaran kertas.
“Nak, jangan menyerah. Hidupmu masih panjang. Kekuranganmu saat ini bukanlah menjadi hambatan untuk mengejar cita cita mu, kamu tetap bisa meraih masa depan dengan caramu sendiri”
Kata kata itu membuat hatiku bergetar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sendirian. Aku mulai menyadari bahwa aku tidak pernah merasa malu atau kecewa terhadap keadaanku yang sekarang ini. Semua ketakutan dan pikiran buruk yang menghantui ku hanya berasal dari diriku sendiri. Orang tuaku justru ingin aku melanjutkan sekolah mereka memberiku pilihan antara tetap sekolah lama tetapi akan mencari guru pendamping atau shadow teacher atau pindah ke sekolah yang khusus disabilitas atau SLB.
Malam itu, setelah membaca nasihat dari ayahku, aku tidak bisa tidur. Kata kata ayahku terus terpikirkan. Kata kata itulah yang membuatku untuk menerima semua kenyataan dan belajar berdamai dengan diriku sendiri. Dan saat itu. Aku memutuskan untuk kembali melangkah.
Sebulan berlalu. Masa cuti sekolahku telah berakhir, dan aku harus kembali melanjutkan pendidikan di bangku SMA. Aku memilih untuk tetap melanjutkan bersekolah yang sudah aku tempuh selama 2 tahun. aku berada di kelas 12 hanya yang dimana hanya selangkah satu tahun lagi untuk menyelesaikan masa putih abu abuku. Namun, semuanya sangat berbeda saat awal aku masuk sekolah lagi. Beberapa teman mulai menjauh, bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka tidak tahu bagaimana berkomunikasi denganku ini.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya tiba di hari kelulusan SMA ku, aku bersyukur dan bangga dalam diriku karena aku bisa lulus 3 tahun seperti teman temanku yang lainya, meskipun sempat tertinggal dan harus berjuang dengan keterbatasan yang ada pada diriku ini. Masa putih abu abu telah usai, aku melangkah ke jenjang berikutnya yaitu perkuliahan.
Aku memilih jurusan pendidikan informatika, jurusan yang sejak lama ku impikan. mungkin terdengar menyulitkan bagi seseorang yang mempunyai kekurangan pendengaran sepertiku. Namun, aku tetap memilih jalanku sendiri. Di bangku perkuliahan, aku mulai beradaptasi dengan cara belajar yang berbeda. Aku memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu, seperti aplikasi speech to text, untuk memahami penjelasan dosen. aku juga bergabung dengan komunitas tuli dan mulai aktif dalam berbagai kegiatan. Aku bahkan dipercaya untuk menjadi pelatih bahasa isyarat di lingkungan kampus.
Seiring berjalannya waktu, aku sudah mulai Memasuki semester akhir, Aku mulai kebingungan mencari ide untuk tugas akhir. Berhari hari mencari referensi, tetapi aku tidak kunjung menemukan nya. Aku melakukan bimbingan, dan dosen pembimbingku untuk menyarankan bahwa tugas akhirku berupa membuat sebuah inovasi teknologi asistif untuk seorang tunarungu.
Malam hari, setelah aku melakukan bimbingan, langsung muncul ide dalam pikiranku yaitu sebuah teknologi yang bisa membantu seorang tunarungu untuk bisa berkomunikasi dengan seorang pada umumnya yaitu berupa kacamata yang menampilkan teks dan gelang yang menerjemahkan bahasa isyarat menjadi suara. Aku menghabiskan waktu selama 2 minggu untuk membuat nya, Hingga akhirnya, teknologi sederhana itu berhasil diselesaikan. Saat melihat hasilnya, aku tidak percaya. Aku yang dulu merasa kehilangan segalanya kini mampu menciptakan sesuatu yang bermakna. Dan Aku pun langsung mengajukan diri untuk presentasi tugas akhir.
Singkatnya aku mendapatkan jadwal presentasi di pagi hari. aku memasuki ruang presentasi dengan perasaan campur aduk. Gugup, takut, tetapi juga penuh harapan. Aku mencoba menenangkan diri, menganggap para dosen penguji sebagai teman kelasku sendiri. Aku menyampaikan semuanya dengan lancar. Setiap pertanyaan dapat dijawab dengan tenang.
Detik detik itu terasa menyenangkan dalam hidupku, hingga akhirnya keputusan penentuan aku lulus atau tidaknya pun keluar. Aku dinyatakan lulus dengan nilai yang sangat sempurna menurutku. Mengetahui itu Air mataku langsung jatuh. Bukan karena kesedihan, tetapi karena rasa haru yang tak terbendung. Perjuanganku selama ini dengan segala keterbatasan yang kupunya akhirnya terbayar.
Aku berhasil meraih gelar yang selama ini kuimpikan. Dalam diam, aku mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku. Mereka adalah alasan aku mampu bertahan dan melangkah sejauh ini. Dan untuk pertama kalinya, aku juga berterima kasih pada diriku sendiri. Karena aku tidak menyerah. Karena aku tetap memilih untuk bertahan, bahkan saat dunia terasa sunyi.
Tri Julia Anggraen - 153