Andi dan kesalahannya
Andi adalah anak yang dikenal nakal dan suka mencari perhatian di lingkungan tempat tinggalnya. Ia sangat sering mengganggu tetangganya, berteriak-teriak tanpa alasan, berlari lari tanpa peduli dengan orang yang ada disekitarnya. Dan yang paling menyebalkan ia suka sekali mengejek orang yang ia anggap mempunyai perbedaan.
Di kampung tersebut ada anak yang bernama Dika. Dika adalah anak yang pendiam, ia jarang bermain dengan anak-anak lain, lebih sering terlihat berjalan sendiri atau duduk di depan teras rumahnya. Ia memiliki keterbatasan pendengaran, sehingga hal itu mengharuskan Dika memakai alat bantu dengar dan berbicara dengan pelan terbata-bata. Karena hal itulah yang membuat Dika menjadi bahan ejekan oleh Andi.
“Dika kamu dengar ga sih?” teriak Andi saat melihat Dika yang sedang melewati depan rumah Andi.
Beberapa anak yang mendengar hal tersebut hanya diam, sebenarnya mereka sangat tidak nyaman dengan sikap Andi yang sering mengejek Dika, tapi mereka tidak berani menegur Andi.
Andi kemudian tertawa keras lalu menirukan cara bicara Dika dengan nada mengejek. “Ka...mu… de…ngar… nggak?” ucapnya sambil tertawa.
Mendengar hal tersebut Dika hanya diam dan tertunduk, ia tidak membalas, ia berjalan lebih cepat seolah ingin cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.
Namun, bagi Andi diamnya Dika justru menjadi hiburan baginya.
---
Suatu hari, ketika Andi mengejek Dika di depan anak-anak lain, tiba-tiba seorang ibu yang sedang menyapu halaman menegur Andi.
“Andi, kamu nggak capek ya ganggu terus?” ucap ibu itu dengan nada kesal.
Andi hanya tertawa kecil. “Ah, cuma bercanda, Bu.”
“Bercanda itu ada batasnya. Kalau orangnya nggak nyaman, itu bukan bercanda lagi,” jawab ibu tersebut.
Andi tidak menanggapi. Ia malah pergi begitu saja sambil bersiul, seolah tidak terjadi apa-apa.
Dari kejauhan, Dika sempat menoleh sebentar, lalu kembali berjalan. Tatapannya terlihat biasa saja, tapi sebenarnya ia sudah sangat terbiasa diperlakukan seperti itu.
---
Hari-hari berikutnya tidak pernah berubah. Setiap Dika lewat, Andi selalu menggodanya. Terkadang ia menepuk bahu Dika secara tiba-tiba dengan keras sehingga Dika terkejut. Selain itu, Andi biasanya sengaja berteriak keras tepat di depan telinga Dika, kemudian tertawa setelah melakukan hal tersebut.
Dika hanya bisa diam dan memilih untuk menjauh.
---
Menjelang malam, anak-anak di kampung mulai berkumpul. Mereka saling menunjukkan kembang api yang mereka beli. Ada yang membawa petasan kecil, ada juga yang hanya membawa kembang api yang menyala.
“Dika, kamu ikut main?” tanya salah satu anak dengan pelan.
Dika menggeleng kecil. Ia sebenarnya ingin ikut, tapi suara petasan yang keras membuatnya tidak nyaman.
Andi yang mendengar hal itu langsung menyela, “Ya jelas ga ikut lah, kan dia takut suara,” ucapnya sambil tertawa.
Beberapa anak terlihat tidak suka dengan ucapan itu, tapi lagi-lagi mereka hanya diam.
Andi sangat senang dan tidak sabar. Sejak siang hari ia telah membeli banyak sekali petasan di warung untuk ia mainkan di malam hari nanti.
Ia bermain petasan di depan rumahnya Bersama dengan beberapa teman-temannya.
Awalnya ia bermain petasan kecil kemudian melemparkannya ke jalan, setiap ada orang yang lewat ia akan melempari petasan tersebut, sehingga beberapa orang terkejut dengan suara ledakannya, Andi tertawa puas mendengar hal tersebut dan tidak merasa bersalah sama sekali.
“Hei, kalo main petasan jangan dilempar ke jalan dong!” teriak salah satu orang yang terkejut ketika tiba-tiba ada petasan di tengah jalan.
Andi tidak peduli.
Bukannya berhenti, ia malah mulai melemparkan petasan ke arah teman-temannya untuk menakuti mereka.
“Udah ndi, jangan keterlaluan!” ucap salah satu temannya.
Namun, Andi tidak peduli sama sekali.
Pada saat itu kebetulan Dika melewati depan rumah Andi, ia hendak pulang ke rumahnya.
Melihat Dika yang lewat Andi pun tersenyum jahil.
Ia menyalakan petasannya kemudian melempparkan ke dekat kki Dika. “DUARR!”
Dika pun kaget dan mundur cepat.
“Andi, jangan begitu…” ucap Dika pelan, nyaris tak terdengar.
“Hahaha! aku hanya bercanda!” tawa Andi.
Dika hanya diam, lalu berjalan pergi ke rumahnya dengan cepat.
Untuk pertama kalinya salah satu teman Andi berkata, “Itu nggak lucu, ndi.” Namun Andi hanya mengangkat bahu acuh.
---
Hari semakin larut, suasana semakin ramai dengan suara petasan dari berbagai tempat, tetapi satu-persatu anak mulai masuk ke rumah, karena mereka sudah dicari oleh orang tuanya masing-masing.
Andi merasa belum puas bermain petasan, jadi ia memutuskan untuk bermain sendiri di depan rumahnya.
Kemudian ia mengeluarkan jenis petasan yang lebih besar dari sebelumnya.
“Yang ini pasti lebih seru,” ucap Andi sambil menyalakan sumbunya, api menyala dengan cepat.
Andi berniat melemparkannya ke jalan, tapi seketika ia ragu sesaat.
Sumbu sudah hampir habis
“Eh-“
“DUARR!”
Ledakan keras terjadi tepat di tangan kirinya.
Andi berteriak kesakitan, ia terjatuh di halaman depan rumahnya. Tangannya terasa sangat sakit, telinganya juga berdenging. Suara yang ada disekitarnya pelan-pelan menjadi samar.
Warga yang masih di sekitar rumah Andi berlari mendekat.
“Cepat, bawa ke rumah sakit!” teriak salah satu warga.
Malam yang tadinya penuh tawa, kini penuh dengan kepanikan.
---
Hari-hari setelah kejadian itu terasa sangat berbeda bagi Andi. Ia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya. Terkadang ia hanya duduk diam di ruang tunggu sambil melihat orang-orang berlalu-lalang. Ia tidak bisa lagi mendengar suara dengan jelas seperti dulu.
Semenjak kejadian tersebut, hidup Andi berubah sangat drastis.
Tangan kirinya yang terluka parah, pendengarannya yang tidak bisa berfungsi secara normal seperti dulu. Ia sekarang sangat kesulitan mendengar suara orang yang ada disekitarnya dengan jelas.
Setiap hari di rumahnya terasa sunyi, itu membuat Andi menjadi lebih banyak diam. Tidak ada lagi tawa keras dan sikap usil seperti sebelumnya.
Dalam kesunyian tersebut, ia pun mulai mengingat semua perbuatannya. Tentang Dika.
Tentang ejekan-ejekan yang dulu ia anggap lucu. Sekarang, ia merasakan sendiri bagaimana sulitnya ketika ia tidak dapat mendengar dengan jelas.
Pada suatu siang ketika Andi sedang duduk di teras rumah, tiba-tiba ada seseorang datang.
Ternyata Dika.
Andi terkejut tidak menyangka kalau Dika akan datang untuk menjenguknya. Dika duduk disampingnya.
“Maaf…” ucap Andi pelan.
Dika tersenyum kecil.
“Iya,” jawabnya singkat.
Tidak ada marah, tidak ada ejekan.
Sejak kejadian itu, Andi mulai berubah. Ia tidak lagi mengejek, ia mulai belajar menghargai orang lain meskipun orang itu mempunyai perbedaan.
Ia juga mulai mencoba mendekati Dika dengan cara yang berbeda. Kadang hanya dengan duduk Bersama, kadang mencoba berbicara pelan agar Dika bisa mengerti.
Kini, setiap melihat anak-ank bermain petasan di kampung, Andi hanya diam dan mengamati. Ia tahu, semua yang terjadi padanya saat ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.
Kadang ia merasa menyesal ketika mengingat bagaimana dulu ia memperlakukan Dika. Hal-hal yang dulu ia anggap sepele, ternyata bisa menyakiti orang lain. Ia juga mulai menyadari bahwa tidak semua orang bisa menerima perlakuan yang sama, dan setiap orang punya perasaan yang harus dihargai.
Perubahan itu memang tidak langsung sempurna. Tapi Andi berusaha sedikit demi sedikit, mulai dari hal-hal kecil. Ia belajar untuk lebih tenang, tidak asal bicara, dan mulai memikirkan perasaan orang lain sebelum bertindak.
Dan dari situ Andi belajar bahwa kita harus menjaga sikap dan menghargai orang lain, sebelum semuanya terlambat.
Nur Azrinaz Fitria - 25010684160