ANDI DAN KESEMPATAN KEDUA
Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang anak bernama Andi. Ia duduk di kelas 6 SD. Andi dikenal sebagai anak yang aktif, tapi sayangnya ia juga dikenal sangat nakal dan suka mengganggu orang lain.
Setiap hari di sekolah, selalu ada saja ulahnya. Ia sering mengambil pensil teman tanpa izin, menyembunyikan tas orang lain, dan menertawakan teman yang tidak bisa menjawab pertanyaan guru.
“Dasar kamu, gitu aja gak bisa!” kata Andi sambil tertawa keras.
Teman-temannya sebenarnya sudah sering kesal, tapi mereka memilih diam. Tidak sedikit juga yang takut kepada Andi karena sikapnya yang suka marah dan mengejek.
Suatu hari, datang seorang murid baru bernama Raka. Tubuhnya kurus, wajahnya tenang, dan ia berjalan sedikit berbeda. Salah satu kakinya tidak bisa digerakkan dengan sempurna, sehingga ia harus berjalan pelan dan agak pincang.
Saat pertama kali masuk kelas, semua siswa memperhatikan Raka. Ada yang penasaran, ada juga yang merasa iba. Namun berbeda dengan Andi.
Andi justru melihat Raka sebagai bahan ejekan.
“Eh, kenapa jalannya begitu? Kayak robot rusak!” ucap Andi sambil menirukan cara jalan Raka.
Beberapa anak tertawa kecil, tapi sebagian lainnya merasa tidak nyaman. Raka hanya menunduk dan duduk di bangkunya tanpa membalas.
Hari-hari berikutnya, Andi semakin sering mengganggu Raka. Kadang ia sengaja menaruh barang di jalan agar Raka tersandung. Kadang ia juga menirukan jalannya di depan teman teman.
“Pelan dong, nanti jatuh lagi!” kata Andi dengan nada mengejek.
Raka tetap diam. Ia memilih sabar walaupun hatinya sedih.
Guru mereka, Bu Sari, sebenarnya sudah menegur Andi beberapa kali.
“Andi, kamu harus belajar menghargai temanmu,” kata Bu Sari dengan tegas. “Iya, Bu,” jawab Andi, tapi ia tidak benar-benar berubah.
Di rumah pun, orang tua Andi sering mendapat laporan dari guru. Namun Andi selalu menganggapnya sepele.
“Ah, cuma bercanda,” katanya.
Suatu sore, ayah Andi pulang membawa sesuatu yang membuat Andi sangat senang: sebuah sepeda baru. Sepeda itu berwarna hitam merah, terlihat kokoh dan keren.
“Mau kamu jaga baik-baik ya,” kata ayahnya.
Andi langsung mencobanya. Ia berkeliling halaman rumah dengan wajah penuh kebanggaan. “Wah, keren banget!” teriaknya.
Keesokan harinya, Andi membawa sepeda itu keluar rumah. Ia berkeliling kampung sambil pamer ke teman-temannya.
“Lihat nih, sepeda baruku! Cepat banget!” katanya.
Ia mengayuh sepeda dengan sangat cepat. Angin terasa kencang di wajahnya, membuatnya semakin percaya diri.
Beberapa orang dewasa yang melihatnya mengingatkan.
“Andi, jangan ngebut! Bahaya!” teriak seorang warga.
Namun Andi tidak peduli.
“Tenang aja!” jawabnya sambil terus melaju.
Sore itu jalanan cukup ramai. Ada anak-anak bermain, ada ibu-ibu berjalan, dan beberapa kendaraan lewat. Tapi Andi tetap melaju dengan kecepatan tinggi.
Saat sampai di sebuah tikungan, Andi tidak mengurangi kecepatan. Ia merasa bisa mengendalikan semuanya.
Namun tiba-tiba, dari arah berlawanan muncul sebuah mobil pickup yang sedang berbelok. Andi kaget.
“Waduh!”
Ia mencoba mengerem, tapi sudah terlambat.
“BRAAAKK!”
Tabrakan keras terjadi. Sepeda Andi menghantam mobil, dan tubuhnya terpental jatuh ke jalan. Orang-orang langsung berteriak panik.
“Andi! Cepat tolong!”
Andi tergeletak tidak bergerak. Kakinya terluka parah. Darah terlihat di jalan. Warga segera membawanya ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Andi menjalani operasi. Kondisinya cukup serius. Dokter berusaha menyelamatkan nyawanya.
Beberapa jam kemudian, Andi sadar. Ia merasa sangat sakit. Tubuhnya lemah. “Bu…” panggilnya pelan.
Ibunya langsung mendekat sambil menangis.
“Andi, kamu sudah sadar, Nak…”
Andi mencoba menggerakkan kakinya, tapi ia tidak merasakan apa-apa. “Bu… kakiku kenapa?” tanyanya dengan suara gemetar.
Ibunya tidak bisa langsung menjawab. Dokter kemudian datang dan menjelaskan dengan hati hati.
“Untuk menyelamatkan nyawa kamu, kami harus mengamputasi kaki kamu yang terluka parah,” kata dokter.
Andi terdiam. Ia tidak percaya.
“Maksudnya… kakiku… sudah tidak ada?” tanyanya.
Dokter mengangguk pelan.
Air mata Andi langsung mengalir. Ia merasa dunia seakan runtuh. Ia tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi.
Hari-hari setelah itu sangat berat bagi Andi. Ia harus belajar duduk, berpindah ke kursi roda, dan menerima kenyataan bahwa hidupnya sudah berubah.
Ia tidak bisa lagi berlari, bermain bola, atau naik sepeda seperti dulu.
Andi sering termenung. Ia mulai mengingat semua perbuatannya dulu.
Ia ingat bagaimana ia mengejek Raka. Ia ingat bagaimana ia menertawakan orang lain. Sekarang, ia merasakan sendiri bagaimana menjadi berbeda.
Suatu hari, teman-temannya datang menjenguk. Mereka membawa buah dan makanan. Andi merasa malu. Ia tidak berani menatap mereka.
Lalu, Raka juga datang.
Andi semakin tidak enak hati.
Raka mendekat dan tersenyum.
“Hai, Andi. Gimana kabarnya?” tanyanya pelan.
Andi menunduk.
“Aku… aku minta maaf ya, Rak… aku dulu sering jahat sama kamu…” ucap Andi dengan suara bergetar.
Raka menggeleng pelan.
“Gak apa-apa. Yang penting sekarang kamu semangat,” jawabnya.
Andi kaget. Ia tidak menyangka Raka akan sebaik itu.
Sejak saat itu, Andi mulai berubah. Ia tidak lagi marah-marah atau sombong. Ia belajar menerima keadaan dan mencoba menjadi lebih baik.
Ia juga mulai rajin belajar. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan hidupnya.
Ketika kembali ke sekolah, Andi menggunakan kursi roda. Awalnya ia merasa minder, takut diejek seperti dulu ia mengejek orang lain.
Namun ternyata, teman-temannya justru mendukungnya.
“Semangat ya, Andi!” kata mereka.
Andi merasa terharu.
Ia juga sering membantu teman-temannya sebisa mungkin. Jika ada yang kesulitan belajar, ia mencoba membantu.
Ia kini menjadi anak yang lebih sabar dan pengertian.
Suatu hari, Andi melihat Raka kesulitan membawa buku.
Tanpa ragu, Andi mendekat.
“Sini, aku bantu,” katanya.
Raka tersenyum.
Mereka kini menjadi teman baik.
Andi akhirnya benar-benar mengerti satu hal penting: setiap perbuatan memiliki akibat. Dan apa yang kita lakukan kepada orang lain, bisa saja suatu hari kita rasakan sendiri.
Walaupun Andi kehilangan kakinya, ia mendapatkan sesuatu yang lebih berharga: hati yang lebih baik dan kesempatan untuk berubah.
Sejak itu, Andi berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi merendahkan orang lain. Karena ia tahu, setiap orang punya perjuangan masing-masing.
Dan setiap orang pantas dihargai.
ALYA HILMALIA PUTRI - 25010684113