BAYANGAN MIMPI YANG TERJADI
Hujan turun perlahan di sebuah kawasan perumahan elit di pinggiran kota besar di Indonesia. Lampu lampu taman yang tertata rapi memantulkan cahayanya di jalanan yang basah. Kawasan itu dikenal sebagai tempat tinggal para pengusaha besar, pejabat, dan pengusaha luar negeri yang bekerja di Indonesia. Rumah-rumah di sana berdiri megah dengan pagar tinggi dan taman yang luas. Dari luar terlihat sempurna, seolah tidak ada masalah yang pernah muncul di dalamnya. Di salah satu rumah besar bergaya modern, seorang gadis remaja terbangun dari tidurnya dengan nafas yang tidak teratur. Dadanya terasa sesak seperti baru saja berlari jauh. Rambutnya yang sedikit berantakan menempel di wajahnya yang pucat. Ia duduk di atas tempat tidur sambil memegang dadanya yang berdegup cepat. Gadis itu bernama Krysie. Ia menatap ke arah jendela kamarnya yang sedikit terbuka.
Suara hujan terdengar jelas dari luar, namun bukan hujan yang membuatnya gelisah, yang membuatnya takut adalah mimpi yang baru saja ia alami. Dalam mimpinya, ia melihat seorang anak laki laki yang ia kenal berdiri di tepi kolam renang sekolah. Banyak orang di sekitarnya, seolah sedang menonton sebuah pertandingan besar. Anak laki laki itu terlihat percaya diri, bahkan sedikit angkuh seperti biasanya, lalu semuanya berubah dengan cepat. Ia melihat anak itu tiba tiba memegang wajahnya dengan panik. Tangannya menutup mata kirinya, air kolam seolah berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan. Anak laki laki itu berteriak kesakitan sementara orang orang di sekitarnya mulai panik. Krysie masih bisa mengingat ekspresi wajah itu dengan sangat jelas. Anak laki laki itu adalah Edmund, dan dalam mimpi itu, mata kiri Edmund tidak pernah benar benar sembuh. Krysie menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia sudah pernah mengalami mimpi aneh sebelumnya, tetapi mimpi yang satu ini terasa terlalu nyata. Rasanya seperti ia benar benar melihat masa depan. Ia menarik napas dalam dalam lalu turun dari tempat tidurnya. Di atas meja belajar terdapat sebuah buku kecil yang selalu ia bawa ke mana mana. Ia mengambilnya dan membuka halaman kosong. Tangannya menulis sesuatu dengan cepat. Jika mimpi ini benar benar terjadi. Ia berhenti menulis dan menatap kalimat yang belum selesai itu. Hatinya terasa tidak nyaman.
Krysie tidak bisa berbicara sejak kecil, namun ia sudah terbiasa mengekspresikan pikirannya melalui tulisan, buku kecil itu selalu menjadi cara baginya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ia menutup buku itu perlahan. Dalam pikirannya hanya ada satu pertanyaan, “Apakah mimpi itu benar benar hanya mimpi?”
Keesokan paginya kawasan elit itu kembali dipenuhi aktivitas seperti biasa. Mobil mobil mewah keluar masuk dari gerbang rumah yang dijaga oleh petugas keamanan. Para siswa berseragam rapi berjalan menuju sekolah internasional yang terletak tidak jauh dari kawasan tersebut. Di antara para siswa itu terdapat empat saudara yang cukup dikenal di lingkungan sekolah. Peter, Susan, Edmund, dan Lucy. Mereka baru pindah ke Indonesia sekitar satu tahun yang lalu dari Inggris. Ayah mereka adalah seorang pengusaha yang mendapat proyek besar di Indonesia sehingga seluruh keluarga harus tinggal di sana untuk sementara waktu. Peter adalah anak sulung. Ia sudah duduk di kelas terakhir SMA. Sikapnya tenang dan dewasa, jauh lebih matang dibandingkan usianya. Banyak guru yang menyukainya karena ia jarang membuat masalah. Susan, kakak kedua, juga tidak jauh berbeda. Ia cerdas, disiplin, dan sangat memperhatikan keluarganya. Lucy adalah yang paling muda. Ia memiliki sifat yang lembut dan mudah bergaul dengan siapa saja. Tidak butuh waktu lama baginya untuk memiliki banyak teman di sekolah. Namun di antara keempat saudara itu, Edmund adalah yang paling berbeda.
Edmund dikenal sebagai siswa yang cukup sulit diatur. Ia sering melanggar aturan kecil di sekolah, membolos latihan tertentu, atau terlibat dalam perdebatan dengan siswa lain. Meski begitu, banyak orang tetap memperhatikannya karena kemampuannya dalam olahraga. Ia sangat berbakat dalam berenang dan memanah. Pelatih sekolah bahkan pernah mengatakan bahwa Edmund memiliki potensi untuk menjadi atlet profesional jika ia benar benar serius.
Namun Edmund juga memiliki sifat yang membuat banyak orang sulit menyukainya, Ia keras kepala, Ia sering merasa dirinya lebih baik dari orang lain, dan yang paling sering terjadi, ia tidak pernah mau mendengarkan nasihat siapa pun.
Di sekolah yang sama dengan Edmund, Krysie juga berjalan melewati gerbang utama bersama beberapa temannya. Seragam sekolahnya rapi dan tasnya tergantung di bahu dengan santai. Meskipun ia tidak bisa berbicara, Krysie dikenal sebagai anak yang ramah. Ia selalu tersenyum kepada siapa saja yang menyapanya. Banyak siswa menyukai kehadirannya karena ia tidak pernah bersikap sombong meskipun keluarganya juga termasuk salah satu yang paling kaya di kawasan elit itu. Lucy adalah salah satu sahabat terdekatnya. Mereka sering duduk bersama di
taman sekolah saat jam istirahat. Pagi itu Lucy melihat Krysie datang dengan wajah yang sedikit berbeda dari biasanya. Lucy mendekat dan menyapanya dengan ceria. Krysie tersenyum kecil lalu membuka buku kecilnya dan menulis sesuatu. “Aku mimpi aneh semalam” Lucy membaca tulisan itu dengan rasa penasaran, “Mimpi apa?” Krysie terdiam beberapa saat sebelum menulis lagi, “Tentang Edmund” Lucy mengangkat alisnya sedikit. Ia tahu hubungan Edmund dan Krysie tidak pernah benar benar baik. Bukan karena Krysie melakukan sesuatu yang salah, tetapi karena Edmund sendiri yang selalu bersikap dingin kepadanya. Bahkan beberapa kali Edmund terlihat jelas tidak menyukai kehadiran Krysie.
Sementara itu di sisi lain lapangan sekolah, Edmund sedang berlatih memanah bersama beberapa temannya. Ia berdiri dengan sikap percaya diri sambil menarik tali busur, anak panah melesat dengan cepat dan mengenai bagian tengah target, beberapa siswa di sekitarnya bertepuk tangan kecil. Edmund hanya tersenyum puas. Di kejauhan, tanpa sengaja ia melihat Lucy dan Krysie sedang berbicara di taman sekolah, ekspresi wajahnya langsung berubah sedikit. Ia mengalihkan pandangannya seolah tidak ingin melihat mereka terlalu lama, dalam pikirannya, Krysie hanyalah gadis aneh yang suka menulis hal hal tidak penting di bukunya, dan yang paling ia tidak suka, Krysie sering memperhatikannya seperti sedang memikirkan sesuatu tentang dirinya, hal itu membuat Edmund merasa tidak nyaman, ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Krysie juga sedang menatap ke arah lapangan dengan perasaan gelisah, gambar dari mimpinya semalam masih sangat jelas di kepalanya, kolam renang, air yang menyakitkan, dan Edmund yang memegangi mata kirinya dengan wajah penuh rasa sakit, Krysie menunduk perlahan dan menulis satu kalimat lagi di buku kecilnya “Aku rasa sesuatu yang buruk akan terjadi” Lucy membaca kalimat itu dan merasakan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Ia tidak tahu mengapa, tetapi kata kata itu membuatnya merinding sedikit, dan tanpa mereka sadari, mimpi yang dialami Krysie malam itu perlahan mulai bergerak menuju kenyataan.
Hari hari setelah mimpi itu terasa berjalan biasa saja, setidaknya bagi kebanyakan orang di sekolah. Suasana sekolah internasional tempat mereka belajar tetap ramai seperti biasanya. Para siswa sibuk dengan kelas, kegiatan organisasi, dan latihan olahraga. Namun bagi Krysie, perasaan tidak nyaman itu tidak benar benar hilang. Setiap kali ia melewati kolam renang sekolah, bayangan dari mimpinya muncul kembali di kepalanya, air yang berkilau di bawah sinar matahari justru membuatnya merasa gelisah. Ia teringat jelas bagaimana dalam mimpinya Edmund berdiri di tepi kolam dengan wajah penuh percaya diri sebelum semuanya berubah
menjadi kekacauan. Lucy beberapa kali memperhatikan perubahan sikap sahabatnya itu. Krysie memang tetap tersenyum seperti biasa kepada teman teman lain, tetapi Lucy tahu ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Suatu siang saat mereka duduk di taman sekolah, Lucy kembali menanyakan tentang mimpi itu. Krysie mengeluarkan buku kecilnya dan menulis perlahan, “Aku melihat Edmund di kolam renang, dia terlihat kesakitan, mata kirinya seperti terbakar” Lucy membaca tulisan itu dengan dahi sedikit berkerut. Ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Mimpi memang sering terasa nyata, tetapi tetap saja itu hanya mimpi. Mungkin kamu terlalu banyak pikiran, tulis Lucy di halaman berikutnya sambil bercanda kecil. Krysie tidak langsung membalas. Ia hanya menutup bukunya perlahan dan menatap ke arah kolam renang yang terlihat dari kejauhan. Perasaan aneh itu masih ada, seolah mimpi tersebut bukan sekedar bunga tidur.
Di sisi lain sekolah, Edmund sedang berada di area latihan olahraga. Ia baru saja selesai berlatih memanah. Beberapa temannya berdiri di dekatnya sambil membicarakan pertandingan renang yang akan diadakan beberapa hari lagi. Nama Edmund sudah tercatat sebagai salah satu peserta utama. Bagi banyak orang di sekolah, hal itu bukan hal yang mengejutkan. Edmund memang dikenal sebagai salah satu perenang tercepat di tim sekolah. Ia juga tampak sangat percaya diri. Bahkan terlalu percaya diri menurut beberapa orang, “Aku pasti menang lagi kali ini” katanya sambil menyandarkan badannya ke dinding, beberapa temannya tertawa kecil, sementara yang lain hanya mengangguk setuju. Edmund memang sering berbicara seperti itu. Ia terbiasa merasa bahwa dirinya selalu berada satu langkah di depan orang lain, namun tidak semua orang menyukai sikap itu.
Di antara para siswa yang berdiri agak jauh dari mereka, ada beberapa orang yang terlihat tidak senang melihat Edmund selalu menjadi pusat perhatian. Salah satunya adalah siswa dari sekolah lain yang akan menjadi lawannya dalam lomba renang nanti. Tatapan mereka sesaat tertuju pada Edmund sebelum kembali berbicara dengan suara pelan. Sementara itu, Krysie yang sedang berjalan menuju perpustakaan tanpa sengaja melewati area kolam renang. Ia berhenti sejenak di dekat pagar pembatas. Air kolam terlihat tenang, tidak ada yang aneh. Namun entah mengapa, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, Ia kembali teringat mimpi itu, dalam bayangannya, ia bisa melihat Edmund memegang wajahnya dengan panik, air yang seharusnya menjadi tempat latihan justru berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan. Krysie
menutup matanya sejenak lalu berjalan pergi dari sana. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mimpi itu tidak akan benar benar terjadi.
Hari pertandingan renang akhirnya tiba, kolam renang sekolah dipenuhi oleh para siswa, guru, dan beberapa tamu undangan dari sekolah lain. Suasana terasa ramai dan penuh semangat. Para peserta berdiri di tepi kolam sambil melakukan pemanasan. Edmund terlihat santai seperti biasanya. Ia bahkan sempat bercanda dengan beberapa temannya sebelum lomba dimulai. Di tribun penonton, Lucy duduk bersama beberapa temannya. Di sebelahnya, Krysie duduk dengan buku kecil di pangkuannya, sejak pagi ia sudah merasa gelisah, matanya tidak pernah benar benar lepas dari Edmund yang berdiri di tepi kolam, beberapa kali Lucy mencoba mengajaknya berbicara, tetapi Krysie hanya menjawab singkat melalui tulisan. Ia terlihat terlalu fokus pada sesuatu yang bahkan Lucy sendiri tidak mengerti.
Peluit tanda perlombaan dimulai akhirnya terdengar, para peserta langsung melompat ke dalam kolam, air memercik ke segala arah saat mereka mulai berenang dengan kecepatan penuh. Sorakan penonton terdengar dari berbagai sisi tribun. Edmund langsung memimpin sejak awal. Gerakan tangannya kuat dan cepat. Banyak orang sudah yakin bahwa ia akan memenangkan perlombaan itu lagi, namun beberapa detik kemudian sesuatu yang aneh terjadi, di tengah lintasan, Edmund tiba tiba memperlambat gerakannya, tangannya berhenti mengayuh air. Ia muncul ke permukaan sambil memegangi wajahnya, awalnya banyak orang mengira ia hanya kelelahan atau terkena air secara tidak sengaja. Namun ekspresi wajahnya berubah menjadi panik, Ia memegang mata kirinya dengan kuat, beberapa orang di sekitar kolam mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Edmund keluar dari kolam dengan wajah kesakitan. Ia terus menggosok mata kirinya seolah ada sesuatu yang sangat menyakitkan di sana. Para pelatih dan petugas segera mendekatinya. Suasana yang tadinya penuh sorakan berubah menjadi kacau. Di tribun penonton, Lucy berdiri dengan wajah kaget, sementara itu, Krysie hanya duduk diam dengan wajah pucat, tangannya gemetar saat membuka buku kecilnya, tanpa sadar ia menuliskan satu kalimat pendek “Ini sama seperti dalam mimpi” Beberapa saat kemudian diketahui bahwa air di salah satu jalur kolam tercampur dengan bahan kimia tertentu. Bahan itu bereaksi dengan kaporit di air sehingga menimbulkan iritasi yang sangat kuat. Edmund adalah orang yang paling parah terkena dampaknya, Ia langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, kabar itu dengan cepat menyebar di seluruh sekolah.
Beberapa hari kemudian, Edmund akhirnya kembali ke rumah setelah menjalani pemeriksaan yang cukup panjang. Dokter mengatakan bahwa kondisi matanya sudah membaik, tetapi penglihatannya di mata kiri tidak bisa kembali sepenuhnya seperti dulu, untuk melindungi matanya dari cahaya yang terlalu terang, ia harus menggunakan penutup mata, Berita itu membuat banyak orang terkejut. Edmund dikenal sebagai atlet yang sangat berbakat. Tidak ada yang menyangka kejadian seperti itu bisa terjadi padanya, Ketika Lucy mengunjungi Krysie setelah mendengar kabar tersebut, ia menemukan sahabatnya sedang duduk di kamar sambil menatap buku kecilnya, Lucy duduk di sampingnya dan berkata pelan, Aku tidak menyangka itu benar benar terjadi, Krysie tidak menjawab. Ia hanya menulis perlahan di bukunya “Aku juga tidak menyangka” Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa mimpi itu bukan kebetulan, dan yang lebih membuatnya takut adalah satu hal, mimpi itu bukan satu satunya mimpi yang ia alami, masih ada satu mimpi lagi, mimpi yang jauh lebih buruk dari yang pertama.
Dalam mimpi tersebut ia melihat Edmund berjalan sendirian di sebuah jalan yang gelap. Hujan turun dengan deras dan lampu jalan memantulkan cahaya yang samar di aspal yang basah. Sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempat Edmund berdiri. Beberapa orang keluar dari mobil itu dan mencoba menarik Edmund masuk ke dalam kendaraan tersebut. Edmund berusaha melawan. Ia memukul dan mendorong mereka sampai akhirnya berhasil melarikan diri. Namun ketika ia berlari menjauh dalam keadaan hujan deras, kakinya terpeleset di jalan yang licin. Di pinggir jalan itu terdapat jurang kecil yang cukup curam meskipun tidak terlalu dalam. Edmund terjatuh dengan keras, tangannya menghantam batu dan tanah yang dipenuhi tanaman liar. Dalam mimpi itu Krysie melihat luka di tangan Edmund cukup dalam dan darah mengalir cukup banyak, namun yang membuatnya semakin takut adalah tanaman yang terkena luka itu, tanaman tersebut terlihat seperti tanaman liar beracun. Beberapa hari setelah kejadian dalam mimpi itu, luka di tangan Edmund terlihat semakin parah. Infeksi menyebar dan akhirnya para dokter tidak memiliki pilihan selain melakukan amputasi. Setiap kali mengingat mimpi itu, Krysie merasa tubuhnya dingin, Ia tidak ingin hal itu benar benar terjadi.
Beberapa hari setelah kejadian di kolam renang, suasana sekolah terasa sedikit berbeda. Banyak siswa masih membicarakan apa yang terjadi pada Edmund. Sebagian merasa kasihan, sebagian lagi terkejut karena kejadian itu begitu tiba tiba. Edmund yang biasanya selalu terlihat percaya diri kini jarang muncul di sekolah selama beberapa waktu. Ketika akhirnya ia kembali, banyak orang langsung menyadari perubahan pada penampilannya. Di mata kirinya kini
terdapat penutup mata hitam yang selalu ia pakai ke mana mana. Ia masih berjalan dengan langkah yang sama seperti dulu, tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda dalam cara orang orang memandangnya. Sebagian siswa berusaha bersikap biasa saja, tetapi tidak sedikit yang diam diam memperhatikan setiap kali Edmund lewat di koridor sekolah. Edmund sendiri tampaknya tidak terlalu peduli dengan semua itu. Ia tetap bersikap seperti biasanya, meskipun terkadang terlihat lebih mudah tersulut emosi ketika seseorang menanyakan kondisi matanya, ia mencoba mencari Edmund di sekolah, ia menemukannya di dekat lapangan olahraga bersama beberapa temannya. Dengan sedikit ragu, Krysie mendekat, Edmund langsung menyadari kehadirannya dan menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, Krysie membuka buku kecilnya dan mulai menulis dengan cepat, “Tolong jangan keluar rumah kalau hujan malam ini” Edmund membaca tulisan itu dengan wajah bingung. Lalu ia tertawa pendek, “Kamu serius?” Krysie menulis lagi, “Aku bermimpi sesuatu yang buruk akan terjadi” Edmund langsung menggeleng dengan kesal, baginya, apa yang ditulis Krysie terdengar sangat tidak masuk akal. Dalam pikirannya, Krysie hanyalah gadis yang terlalu banyak berkhayal, Lucy yang kebetulan melihat kejadian itu mencoba membantu menjelaskan “Dia cuma khawatir, kata Lucy pelan” namun Edmund tetap tidak peduli. Ia hanya mengangkat bahu dan pergi meninggalkan mereka.
Malam itu hujan benar benar turun dengan deras, angin bertiup cukup kencang dan jalanan di kawasan elit tempat mereka tinggal menjadi sangat licin. Di rumahnya, Krysie duduk di dekat jendela sambil menatap hujan yang turun tanpa henti. Ia terus memikirkan apakah Edmund akan mendengarkan peringatannya atau tidak. Namun jauh di dalam hatinya, ia sudah merasa bahwa Edmund tidak akan peduli. Beberapa jam kemudian kabar buruk benar benar datang.
Edmund keluar rumah malam itu. Ia mengatakan kepada keluarganya bahwa ia hanya ingin pergi sebentar untuk bertemu temannya. Di tengah perjalanan, sebuah mobil tiba tiba berhenti di dekatnya. Beberapa orang mencoba memaksanya masuk ke dalam mobil. Edmund berusaha melawan. Ia berhasil memukul salah satu dari mereka dan melarikan diri ke arah jalan yang lebih sepi. Namun hujan yang deras membuat jalan menjadi sangat licin. Saat ia berlari menjauh, kakinya terpeleset di pinggir jalan yang berbatasan dengan jurang kecil, tubuhnya jatuh cukup keras, tangannya terbentur batu dan tanah yang dipenuhi tanaman liar, luka yang ia dapatkan terlihat cukup parah, beberapa orang yang menemukan Edmund kemudian membawanya ke rumah sakit.
Awalnya para dokter mengira luka itu bisa sembuh seperti biasa. Namun beberapa hari kemudian kondisi luka tersebut justru semakin buruk. Infeksi menyebar dengan cepat karena
racun dari tanaman yang mengenai lukanya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, para dokter akhirnya mengambil keputusan yang sangat berat, tangan kanan Edmund harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya, kabar itu mengejutkan banyak orang. Bagi Edmund sendiri, keputusan itu terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Selama ini hidupnya selalu berkaitan dengan olahraga. Ia berenang hampir setiap hari dan berlatih memanah dengan penuh semangat, Kini semua itu hilang dalam waktu yang sangat singkat.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, Edmund jarang keluar rumah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu sendirian, Ia mulai memikirkan banyak hal yang dulu tidak pernah ia pedulikan, Ia teringat bagaimana Lucy pernah mencoba memperingatkannya. Ia juga teringat bagaimana Krysie datang dengan buku kecilnya dan menuliskan sesuatu dengan wajah serius, namun ia justru menertawakannya.
Suatu sore, setelah cukup lama tidak muncul di sekolah, Edmund akhirnya datang kembali, langkahnya terasa lebih lambat dari biasanya, Ia berjalan menuju taman sekolah tempat Lucy dan Krysie sering duduk setelah pulang sekolah, Lucy adalah orang pertama yang menyadari kedatangannya, Ia menatap Edmund dengan sedikit terkejut, tetapi kemudian tersenyum kecil, Krysie yang duduk di sampingnya ikut menoleh, untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara, Edmund berdiri di depan mereka dengan ekspresi yang jauh berbeda dari biasanya, Ia menarik nafas perlahan sebelum akhirnya berkata dengan suara yang tidak terlalu keras, “Aku datang untuk minta maaf” Lucy menatapnya dengan heran. Ia tidak pernah mendengar Edmund berbicara dengan nada seperti itu sebelumnya, Edmund kemudian menatap Krysie “Selama ini aku selalu menganggapmu aneh, aku pikir semua yang kamu tulis cuma halusinasi” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi ternyata kamu hanya mencoba memperingatkanku” Krysie menatapnya dengan tenang. Ia membuka buku kecilnya dan menulis beberapa kata, “Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi” Edmund membaca tulisan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sombong dan tidak pernah mau mendengarkan orang lain.
Hari hari setelah itu perlahan berubah, Edmund mulai belajar menerima keadaan barunya. Ia memang tidak bisa lagi menjadi atlet seperti dulu, tetapi ia mulai menemukan hal hal lain yang bisa ia lakukan, hubungannya dengan Lucy juga menjadi lebih dekat. Ia bahkan mulai berbicara lebih sering dengan Krysie. Suatu sore ketika matahari mulai tenggelam, mereka kembali
duduk di taman sekolah seperti biasa angin sore bertiup pelan di antara pepohonan. Edmund duduk di bangku taman dengan penutup mata di wajahnya dan lengan bajunya yang kosong bergerak tertiup angin, Krysie duduk tidak jauh darinya sambil memegang buku kecilnya, Lucy memperhatikan mereka berdua dengan senyum kecil, untuk pertama kalinya setelah semua kejadian itu, suasana terasa benar benar tenang, Edmund menatap langit yang mulai berubah warna, Ia sadar bahwa hidupnya tidak lagi sama seperti dulu, Namun kali ini ia tidak merasa marah atau kecewa seperti sebelumnya, Ia justru merasa bahwa semua kejadian itu telah mengajarkannya sesuatu yang jauh lebih penting, kadang-kadang hidup memberikan peringatan dengan cara yang tidak kita pahami, dan kadang-kadang orang yang kita anggap paling aneh justru adalah orang yang paling tulus ingin melindungi kita. Di sampingnya, Krysie menulis satu kalimat terakhir di buku kecilnya sebelum menutupnya perlahan, “Beberapa mimpi memang datang untuk menakutkan, namun sebagian mimpi datang hanya untuk menyelamatkan seseorang sebelum semuanya terlambat”.
DINDA AMIRA NAURA PUTRI - 25010684114