CAHAYA YANG PERNAH HILANG
Sebelum gelap itu datang, Aluna adalah anak yang hidupnya terasa begitu utuh.
Ia tumbuh dalam rumah sederhana dengan dinding berwarna pucat yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Namun bagi Aluna kecil, rumah itu selalu terasa hangat. Setiap sudutnya menyimpan cerita tangga kayu yang sering ia naiki dengan langkah cepat, jendela besar tempat ia biasa duduk sambil memandangi langit sore, dan ruang keluarga yang sering dipenuhi suara televisi serta percakapan.
Rumah itu tidak besar. Dindingnya mulai kusam, tangganya berderit, dan atapnya kadang bocor saat hujan deras. Namun bagi Aluna kecil, rumah itu adalah dunia.
Ia selalu berlari. Naik turun tangga tanpa rasa takut, tertawa tanpa alasan yang jelas, dan bernyanyi di mana saja. Suaranya jernih, seperti tidak pernah mengenal kesedihan.
“Aluna, jangan lari-lari!” suara ibunya sering terdengar dari dapur.
“Aku nggak jatuh kok, Bu!” jawabnya ringan, lalu kembali berlari.
Bagi Aluna, hidup adalah tentang bergerak. Tentang mencoba. Tentang menikmati setiap hal kecil yang ia temui.
Ia suka duduk di dekat jendela saat sore, memandangi langit yang berubah warna. Kadang ia bernyanyi pelan, kadang ia hanya diam, menikmati angin yang menyentuh wajahnya.
Saat itu, hidup terasa utuh.
Namun semua berubah… tanpa peringatan.
Hari setelah kecelakaan itu, rumah yang dulu penuh tawa menjadi sunyi.
Langkah kaki Aluna tidak lagi berlari. Ia berjalan pelan, ragu, seolah setiap langkah adalah sesuatu yang asing. Dunia yang dulu ia kenal… kini menjadi gelap.
“Aku dulu bisa lari ya, Bu?” tanyanya suatu pagi.
Ibunya terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Iya…”
“Cepat banget?”
“Iya…”
Aluna tersenyum kecil. Tapi senyum itu bukan lagi senyum yang sama.
Sejak saat itu, hidupnya berubah total. Ia harus belajar dari awal, belajar berjalan tanpa melihat, mengenali rumah dengan sentuhan, dan menghafal jarak yang dulu tidak pernah ia pikirkan.
Satu… dua… tiga langkah… Namun seringkali ia salah.
Suatu sore, ia tersandung kursi dan jatuh. Tubuhnya membentur lantai dengan keras.
“Aku nggak apa-apa…” katanya cepat saat ibunya mendekat.
Namun suara lain terdengar, tajam dan dingin.
“Makanya jangan sok bisa sendiri.”
Aluna terdiam, ia tidak membalas. Tapi kata-kata itu menetap di dalam hatinya.
Hari-hari berikutnya tidak lebih mudah, dan perhatian yang dulu terasa hangat perlahan berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Ibunya sering terdengar lelah. Ayahnya semakin jarang bicara lali kakaknya pun menjauh.
Kalimat-kalimat kecil mulai terasa menyakitkan.
“Duduk aja, nggak usah kemana-mana.”
“Jangan pegang itu, nanti jatuh lagi.”
“Ribet banget sih…”
Aluna mulai mengerti, ia bukan lagi anak yang ceria, tetapi ia sekarang berubah menjadi beban di keluarganya.
Suatu malam, ia mendengar percakapan dari luar kamar.
“Biaya terus keluar…” suara ayahnya berat.
“Ya kita harus gimana lagi…” jawab ibunya pelan.
“Aku capek. Dia nggak bisa bantu apa-apa.”
Aluna menunduk.
Tangannya menggenggam erat ujung bajunya, ia tidak menangis saat itu.
Tapi sesuatu di dalam dirinya… retak.
Waktu terus berjalan, Aluna tumbuh menjadi remaja, tapi hidupnya terasa berhenti. Ia tidak punya banyak teman, tidak punya ruang untuk berkembang, dan tidak punya tempat untuk merasa diterima. Hingga suatu hari, ia mendengar kalimat yang tidak pernah bisa ia lupakan.
“Kalau dia nggak seperti ini… hidup kita lebih mudah.”. Sejak saat itu, ia berhenti berharap. Hari ia ditinggalkan datang tanpa banyak penjelasan.
“Kamu tinggal dulu di rumah tante, ya,” kata ibunya.
“Iya…” jawab Aluna pelan.
Ia mengerti akan situasi yang terjadi di keluarganya.
Perjalanan itu sunyi, tidak ada janji untuk kembali, dan tidak ada kepastian.
Dan saat langkah kaki keluarganya menjauh…
Aluna berdiri diam dan lagi – lagi ia sendirian.
Namun di tengah kesepian itu, ada satu hal yang tidak pernah meninggalkannya.
Suaranya…Ia mulai bernyanyi lagi. Diam-diam yaitu pada saat malam, saat dunia terasa paling sunyi. Suaranya tidak lagi ringan seperti dulu.
Ada luka di dalamnya.
Ada kesedihan yang tidak terucapkan.
Namun justru karena itu… suaranya menjadi lebih hidup.
Lebih dalam…Lebih jujur.
Suatu hari, langkahnya tersandung di halaman rumah.
Tubuhnya hampir jatuh, namun seseorang menahannya.
“Pelan,” suara itu terdengar tenang.
Aluna terdiam. “Maaf… aku nggak lihat.”
“Nggak apa-apa,” jawabnya.
Itulah pertama kalinya ia bertemu Revan.
Revan tidak datang dengan cara istimewa. Ia hanya… hadir.
Ia tidak memandang Aluna dengan kasihan, tidak menjauh, dan tidak memperlakukannya seperti beban. “Kenapa kamu sering ke sini?” tanya Aluna suatu hari.
“Karena aku mau.”
“Kenapa?”
Revan sempat diam sebelum menjawab, “Karena kamu nggak seburuk yang kamu pikir.” Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Aluna, itu seperti cahaya.
Perlahan, hidupnya berubah.
Revan mengenalkan dunia yang selama ini terasa jauh. Membuatnya mencoba hal baru. Membuatnya percaya pada dirinya sendiri lagi.
Tanpa sepengetahuan Aluna, suatu hari Revan merekam suaranya dan dunia mulai mendengar. Orang-orang menyukainya. Membagikannya. Mencari tahu siapa pemilik suara itu.
Saat Revan memperdengarkan semua itu, Aluna hanya diam.
“Aku… bisa ya?” bisiknya.
“Kamu dari dulu bisa,” jawab Revan.
Hari pertama ia berdiri di panggung, tangannya gemetar.
“Aku takut,” katanya pelan.
“Takut kenapa?”
“Aku nggak bisa lihat mereka… tapi mereka bisa lihat aku.”
Revan tersenyum. “Mereka cuma denger kamu.”
Aluna menarik napas.
Dan saat ia bernyanyi…
Semua berubah, tepuk tangan menggema panjang dan tulus.
Air mata jatuh di pipinya untuk pertama kalinya…
Ia merasa diterima.
Namun kesuksesan membawa masa lalu kembali.
Suatu hari, ibunya datang.“Luna…” suaranya bergetar.
Aluna diam.
“Mama minta maaf…”
Aluna menunduk, lalu berkata pelan, “Maaf karena apa?” Tidak ada jawaban yang mudah. Karena luka tidak hilang hanya dengan satu kata.
Meski begitu, hidup Aluna tidak lagi sama, Ia bukan lagi gadis kecil yang berlari tanpa arah. Bukan lagi remaja yang merasa tidak diinginkan.
Ia adalah seseorang yang pernah jatuh… dan berhasil bangkit.
Dengan caranya sendiri, dengan suaranya, dan dengan keberanian yang ia temukan dari luka. Pada suatu malam, ia duduk di dekat jendela, seperti dulu.
Angin menyentuh wajahnya.
Ia tersenyum kecil. “Dulu aku nggak punya siapa-siapa,” katanya pelan. Revan yang duduk di sampingnya hanya diam.
“Sekarang?” tanyanya.
Aluna menoleh sedikit, meski ia tidak bisa melihat.
“Sekarang… aku punya alasan untuk tetap hidup.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…Aluna merasa utuh kembali.
Cahayanya memang pernah hilang.
Namun kini…ia menemukannya lagi.
Pada akhirnya, Aluna mengerti bahwa hidup tidak pernah benar-benar mengambil segalanya darinya, hanya mengubah cara ia melihat dan merasakannya. Ia memang pernah kehilangan cahaya, kehilangan arah, bahkan kehilangan orang-orang yang seharusnya menjadi tempat pulang, tetapi dari semua kehilangan itu, ia justru menemukan sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya keteguhan untuk berdiri sendiri dan keberanian untuk tetap hidup meski dunia terasa tidak adil. Luka yang dulu begitu menyakitkan kini tidak lagi terasa seperti beban yang harus ia pikul sendirian, melainkan bagian dari perjalanan yang membentuknya menjadi lebih kuat, lebih dalam, dan lebih mengerti arti menerima diri sendiri. Ia tidak lagi menunggu untuk diterima oleh orang lain, karena ia sudah lebih dulu menerima dirinya apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dan di tengah suara tepuk tangan, sorot lampu panggung yang tidak bisa ia lihat, serta dunia yang kini mengenalnya bukan sebagai beban, melainkan sebagai seseorang yang berarti, Aluna akhirnya menyadari bahwa cahaya itu tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya sempat redup, tersembunyi di dalam dirinya, menunggu waktu yang tepat untuk kembali bersinar, lebih terang dari sebelumnya, dan kali ini, tidak akan mudah padam lagi.
Pesan yang dapat dipetik dari cerpen diatas adalah bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan, bahkan terkadang terasa sangat tidak adil, tetapi setiap manusia memiliki kekuatan dalam dirinya untuk bertahan dan menemukan kembali cahayanya. Jangan pernah merasa bahwa dirimu tidak berarti hanya karena orang lain tidak melihat nilaimu, karena pada akhirnya, yang paling penting adalah bagaimana kamu melihat dan menerima dirimu sendiri. Selama kamu tidak menyerah, selama kamu masih mau melangkah meski pelan, maka selalu ada harapan, selalu ada jalan, dan selalu ada cahaya yang menunggu untuk kembali bersinar dalam hidupmu.
by: Maydita Prismadani - 048