DISABILITAS
Di sebuah Desa bernama Desa Sawunggaling yang terletak di Provinsi Jawa Timur, hiduplah sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kebahagiaan. Keluarga tersebut terdiri dari Ibu, Ayah, 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuannya. Anak laki-lakinya bernama Latif dan anak perempuannya bernama Putri. Latif berusia 12 tahun yang duduk di bangku SD kelas 6, sedangkan si Putri berusia 8 tahun yang duduk di bangku SD kelas 2. Mereka kakak adik yang akur dan jarang sekali berkelahi karena sikap dewasanya Latif yang senantiasa mengayomi adiknya.
Di pagi hari, pada hari Senin. Si Ibu bernama Sari ini membangunkan kedua anaknya untuk bersiap berangkat ke Sekolah. Bu Sari memasak di dapur dan menyiapkan sarapan dan apa-apa yang dibutuhkan anak-anaknya, tak lupa juga Bu Sari menyiapkan kebutuhan suaminya bernama Pak Bambang yang akan berangkat ke kantor. Di pagi itu keluarga kecil Pak Bambang nampak sibuk untuk menjalani harinya. Keluarga mereka bukanlah keluarga yang kaya, namun cukup untuk kebutuhan biayanya sehari-hari. Meskipun bukan berasal dari keluarga yang kaya, keluarga mereka sangat hangat.
Setelah mereka semua siap, Pak Bambang mengantar kedua anaknya ke sekolah dan berangkat ke kantor. Sesampainya di sekolah Latif dan Putri memasuki kelasnya masing masing, lalu mengikuti kegiatan upacara bendera yang setiap hari Senin akan selalu dilaksanakan. Setelah melaksanakan upacara, kedua anak tersebut kembali ke kelas dan mengikuti pembelajaran dengan baik. Setelah mengikuti kelas, jam bel istirahat berbunyi. Masing-masing dari anak tersebut beristirahat makan bekal yang sudah disiapkan oleh Ibunya,
lalu bermain bersama teman kelasnya.
Setelah itu, mereka kembali mengikuti pembelajaran di kelas. Jam terus berputar hingga bel pulang berbunyi, dan mereka siap untuk pulang ke rumah yang hangat itu. Mereka pulang dijemput oleh Ibunya. Setelah sampai rumah mereka bersih-bersih dan memakai pakaian rumahnya lalu makan siang. Setelah makan, mereka tidur siang. Lalu waktu sore telah tiba, mereka dibangunkan oleh Ibunya dan bersiap untuk mandi dan membantu Ibu membereskan rumah. Tidak lama kemudian, sang Ayah telah kembali dari kantornya. Ayah membersihkan diri dan kemudian ikut membantu menyiapkan makan malam bersama Ibu dan kedua anaknya.
Setelah makan malam telah usai, mereka sekeluarga masuk ke dalam kamar masing masing dan beristirahat sampai esok hari. Di esok paginya, kegiatan rutin Bu Sari membangunkan suami dan anak-anaknya adalah hal yang selalu akan seperti itu tiap hari, kecuali di hari Minggu. Tidak hanya membangunkan, tetapi Bu Sari juga menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan suami dan anak-anaknya. Ya begitulah kehidupan seorang istri juga seorang Ibu. Namun, Bu Sari tidak pernah mengeluh dan malah senang menjalani aktivitasnya.
Kegiatan sehari-hari Latif dan Putri juga selalu sama, yakni bangun pagi, berangkat ke sekolah, bermain saat jam bel istirahat, pulang ke rumah, tidur dan makan siang, membantu Ibunya di sore hari membereskan rumah dan menyiapkan makan malam, lalu kembali beristirahat di malam hari dan mengerjakan tugas jika ada tugas. Mereka belajar mandiri di rumah pada hari Minggu, terkadang mereka juga bermain bersama walau mereka beda genetik. Bu Sari tidak pernah melarang mereka berdua untuk pergi bermain di luar bersama teman temannya. Namun, memang dari Latif dan Putri sendiri yang tidak terlalu ingin bermain di luar.
Di hari Rabu setelah usai bersekolah, si Putri bercerita pada kakaknya bahwa pada hari Jum’at di kelas Putri, anak kelas Putri disuruh oleh Ibu Gurunya membawa semacam serangga untuk dijadikan sebuah pembelajaran mengenal lebih dalam tentang macam-macam serangga. Lalu di sore hari setelah mandi, mereka tidak membantu Bu Sari seperti biasa karena mereka ingin mencari serangga untuk tugas sekolah Putri. Mereka sudah izin dan diperbolehkan oleh Ibunya. Setelah beberapa jam, akhirnya mereka kembali dan membawa serangga capung.
Tiba di hari Jum’at, si Putri sangat senang dengan pembelajaran tentang mengenal serangga. Sampai-sampai saat Bu Sari menjemput mereka untuk pulang. Si Putri tidak berhenti bercerita tentang kegiatannya di kelas tadi. Bahkan saat Ayah kembali dari bekerja, Putri langsung bercerita juga pada Ayahnya. Semenyenangkan itu kegiatannya di sekolah pada hari Jum’at itu. Putri juga menjelaskan pada keluarganya bahwa tidak semua serangga itu baik, ada yang membahayakan jika terkena sengatannya.
Hari-hari sibuk itu telah usai, tibalah di hari Minggu. Sang Ayah berencana mengajak keluarganya untuk pergi berlibur ke sebuah pantai. Latif dan Putri sangat senang dan antusias untuk melakukan persiapan liburannya. Si Ibu mempersiapkan juga segala hal yang dibutuhkan. Setelah semua persiapan telah selesai, mereka sekeluarga berangkat menuju pantai yang terletak lumayan jauh dari kediamannya. Mereka menaiki mobil dan bernyanyi riang di dalam mobil. Begitu bahagianya keluarga kecil itu pergi berlibur di hari Minggu, setelah melewati hari-hari yang panjang.
Namun, sayang sekali dalam perjalanan menuju pantai tersebut. Mobil Pak Bambang mengalami kecelakaan dengan sesama mobil yang membuat mobil Pak Bambang terbentur dan mengalami kerusakan mobil yang parah. Suara nyanyi riang tidak terdengar lagi, yang ada suara teriakan terkejut dan tangisan histeris dari Putri karena kakinya yang terjepit di dalam mobil yang membuat kaki Putri jadi memar parah. Syukurnya semua hanya terluka yang tidak begitu parah, hanya kaki Putri saja yang parah.
Tidak jadinya sebuah rencana liburan yang membahagiakan keluarga Pak Bambang, yang terjadi malah keluarga tersebut segera berlari ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan kaki si Putri. Setelah diperiksa oleh dokter, sayang sekali kaki Putri harus di amputasi karena memar yang begitu parah. Jika tidak diamputasi maka akan menyebabkan sakit lainnya. Dengan ketidak relaan dari Bu Sari, mau tak mau keluarga tersebut setuju untuk amputasi kaki Putri. Saat itu Putri masih belum sadar, namun saat sadar, Putri harus kehilangan kakinya. Tangisan dari seorang gadis kecil yang sudah harus kehilangan salah satu kakinya.
Keluarga Pak Bambang hanya bisa pasrah dan menenangkan si Putri. Si Putri tidak masuk sekolah untuk beberapa minggu. Putri masih tidak menerima atas keadaan kakinya, namun si Latif berusaha untuk mengembalikan senyum tawa si Putri. Pak Bambang semakin bekerja keras dan sering lembur untuk mengumpulkan uang yang banyak agar bisa membelikan kaki palsu untuk Putri. Di rumah tidak hanya Latif yang menghibur Putri, Bu Sari juga ikut andil untuk menghibur Putri. Namun, semua masih sia-sia karena Putri masih belum bisa menerima keadaannya.
Berhari-hari Putri hanya mengurung diri di kamar, bahkan saat teman kelas dan Ibu Gurunya datang untuk menjenguk, tawa senyum Putri tidak terlihat. Hari terus berlanjut sampai akhirnya Ayah berhasil membelikan kaki palsu untuk Putri, awalnya Putri tidak ingin menggunakannya, namun Ayah terus meyakinkan Putri untuk memakainya agar dia kembali normal. Akhirnya, Putri menyetujui untuk memakai kaki palsu itu. Putri belajar berjalan menggunakan kaki palsu itu dibantu Latif dan Ayahnya. Latif tidak lelah untuk membuat Putri kembali utuh lagi.
Setelah Putri berhasil berjalan normal kembali menggunakan kaki palsu itu, Putri cukup kembali normal menjalani kehidupannya, meskipun terkadang dia masih sedih. Putri kembali bersekolah seperti biasa, bermain dengan teman-temannya meskipun tidak maksimal. Namun, untungnya tidak ada yang mengejek atau membully Putri dengan kaki palsunya itu. Mereka tetap menerima Putri apa adanya, dan berusaha mengembalikan Putri untuk tetap menjadi Putri yang biasa dikenal. Untuk tetap memberitahu Putri bahwa semuanya baik-baik saja walau kakinya berbeda.
Waktu berlalu begitu cepat, Putri mulai menerima keadaannya yang menggunakan kaki pengganti. Putri mulai kembali dengan senyum tawa riangnya. Latif bangga dengan adik perempuannya yang bisa kembali utuh lagi. Putri juga sangat senang mempunyai saudara seperti Latif yang tidak pernah lelah untuk memberi motivasi dan menghibur Putri untuk menjalani hidup seperti biasa walau dengan kondisi yang berbeda. Bu Sari dan Pak Bambang juga akhirnya lega bisa melihat anak perempuannya kembali bersemangat dengan hidupnya.
Saat berangkat sekolah Putri sebenarnya masih memiliki rasa trauma dengan sebuah kecelakaan, namun Latif selalu menggenggam tangan Putri bahwa semua akan baik-baik saja dan tidak berpikiran yang aneh-aneh. Putri juga sebenarnya masih terlalu susah untuk mengendalikan kaki palsunya apalagi di saat jam pelajaran olahraga. Namun, guru olahraga Putri memberikan keringanan tentang aktivitas olahraga Putri tanpa mengurangi nilai pelajaran olahraganya. Semenjak Putri menggunakan kaki palsunya Latif selalu mengunjungi kelas Putri untuk melihat kondisi adik kecilnya.
Semester pun berlalu, Latif memasuki dunia SMP dan Putri naik ke kelas 3 SD. Di sini Putri sudah benar-benar terbiasa dengan kaki palsunya. Dia tidak lagi terlihat sedih dan malu dengan kaki palsunya. Dia menjalani kehidupannya dengan normal seperti sebelum kejadian kecelakaan itu terjadi. Semua kembali senang dengan kondisi Putri yang benar-benar kembali utuh. Putri menjadi sangat bersemangat pergi ke sekolah meski kini dia berpisah sekolah dengan kakaknya. Dia kembali bercerita kepada ayah ibu dan kakaknya tentang hari pertamanya di sekolah di bangku kelas 3.
Hari-hari dilalui Putri dengan baik, dia bisa mengatasi semua kendala dengan kaki palsunya. Dia sudah berani untuk bermain dengan teman kelasnya di jam istirahat seperti dulu. Dia sudah percaya diri akan kondisinya tanpa mengeluh dan merenung seperti awal terjadi insiden tersebut. Putri pun jadi sering bermain di luar bersama teman-temannya untuk menghilangkan kejenuhan dan ingatannya terkait kecelakaan tersebut. Di rumah, Latif selalu membantu adiknya tentang pelajaran di sekolah maupun menemani adiknya bermain. Bu Sari juga menjadi sering membuat masakan kesukaan Putri.
Latif sangat menyayangi Putri, dia tidak ingin sampai Putri kembali mengingat kejadian yang tidak mengenakan itu. Latif berusaha untuk selalu membuat adik kecil satu-satunya itu selalu bahagia. Di tengah kesibukan sekolahnya, Latif tetap senantiasa meluangkan waktu untuk Putri. Putri benar-benar bersyukur bisa memiliki keluarga yang selalu mendukung dan membuat dia merasa gembira meskipun sempat Putri mengecewakan mereka karena keterpurukan yang lumayan lama. Putri jadi sadar bahwa kaki yang diambilnya tidak ada apanya dibanding sebuah keluarga yang dimilikinya.
Begitulah kisah dari keluarga kecil Pak Bambang, keluarga yang benar-benar harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Keluarga yang penuh keikhlasan walaupun tertimpa musibah yang begitu menyakitkan. Keluarga yang tidak mengeluh atas tertimpanya kejadian yang dialami. Keluarga yang senantiasa memiliki kesabaran atas semua yang terjadi. Keluarga yang berusaha keras untuk mengembalikan keutuhan keluarga yang sempat runtuh akibat fenomena tersebut. Keluarga yang senantiasa harmonis, rukun, damai walau musibah terjadi di dalam sebuah keluarga tersebut.
Anandita Kirana Maulidya Prasetya - 25010684056