DUNIA SUNYI YESAYA
Yesaya Arubiru, sebuah nama indah yang dimiliki oleh seorang anak lelaki berkulit putih pucat yang tak bisa mendengar. Yesaya telah dibuang oleh ibunya sejak ia berusia 9 bulan di depan Panti Asuhan Pelita. Saat itu, di pertengahan november tahun 2000 tepat pukul 22.00, salah seorang perawat panti tersebut, Ibu Soraya mendengar suara bayi menangis. Awalnya ia hanya mengira itu suara bayi dalam kamar, namun bayi bayi disana sudah terlelap pulas. Ia pun bergegas pergi ke depan, saat ia membuka pintu kayu utama itu, ia terkejut. Didapatnya seorang bayi lucu dibalut selimut coklat dengan name tag tertempel di selimutnya yang bertuliskan nama bayi tersebut, Yesaya Arubiru. Nama yang melambangkan kehadiran bayi ini penuh haru dan pilu. Ibu Soraya segera menggendong bayi tersebut dan membawanya masuk ke dalam panti.
“Dian… Hanum… Yudis…!”
Ibu soraya berteriak memanggil nama pengurus panti yang lain di kamar mereka masing-masing. Lalu tak butuh waktu lama, mereka berkumpul di ruang tamu. Disana sudah tertidur seorang bayi yang baru saja dikasih susu oleh Ibu Dian. Sepertinya sangat kelaparan, karena bayi Yesaya terlihat menghabiskannya dengan cepat.
“Jadi, gimana kronologinya…mbak?” tanya Bapak Yudis.
Ibu Soraya pun mencoba mengambil nafas panjang sebelum menjelaskan semuanya. Lalu ia menatap ketiga orang dewasa tersebut, dan,
“Jadi awalnya mbak kan mau ke kamar mandi, tapi kok pas sampe lorong tiba-tiba mbak dengar ada suara bayi nangis. Suaranya samar-samar sih, tapi terdengar cukup jelas kok. Terus yaudah, awalnya mbak nggak mikir apa-apa, karena ya mbak kira suara bayi di kamar aja. Pas mbak cek lah kok mereka ini udah pada tidur pulas semua. Nggak ada yang nangis. Akhirnya mbak panik dan pas mbak telusuri, suara itu semakin kencang dari luar! Eh pas mbak buka pintunya malah ada bayi ganteng ini. Dan di selimutnya juga udah ada namanya sendiri. Yesaya Arubiru! Yang kalo mbak ketahui sih itu punya arti dia lahir dipenuhi haru dan pilu. Begitu ceritanya.”
Bapak Yudis, Ibu Dian dan Ibu Hanum mengangguk tanda mengerti.
“Terus, jadinya kita rawat anak ini ya mbak?” tanya Ibu Hanum.
“Ya iya toh. Kalo bukan kita yang rawat, mau siapa lagi? Lagian biar si Yusuf, Wildan, Sandy, sama Irgi punya temen baru.” Jawab Ibu Soraya.
“Yaudah, terserah mbak. Kami bertiga manut aja. Aku kalo gitu mau lanjut tidur ya, Mbak” kata Ibu Dian. Ibu Soraya mengangguk setuju dan membiarkan ketiga partner atau sekarang sudah seperti adik kandungnya itu tidur kembali. Biarkan dia yang mengurusi bayi tampan nan lucu ini. Sayangkan orangtuanya karena telah membuang bayi emas ini.
Ibu Soraya pun menggendong bayi Yesaya menuju kamar bayi di Rumah Panti Asuhan Pelita itu. Untungnya, di ruangan tersebut masih tersisa satu ranjang bayi. Ia meletakkan bayi tersebut dengan hati-hati.
“Selamat datang ya, Le. Semoga kamu betah dan bisa mendapatkan orang tua yang baik untuk kamu. Selamat berjuang bersama kami ya, Cah Ganteng” ucap Ibu Soraya lalu meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya.
Bertahun-tahun sudah lewat. Anak-anak Panti Pelita sekarang semakin banyak. Ada Mas Harris, Mas Satya, Mbak Erina, Devi, Renjana, Juan, Jenoah, Karina, Jonathan, Haekal, juga Yesaya & kawan-kawan. Panti semakin ramai, apalagi Yesaya dan kawan-kawan selalu rusuh dan heboh.
Mari berkenalan dengan kawan-kawan Yesaya. Yang paling tinggi diantara mereka adalah Yusuf Adrian Renaldy, si anak laki-laki yang punya 1001 energi untuk bermain, mengusili anak-anak lain namun baik hati. Yang kedua, ada Sandy Arsalan Hakim, kalo yang ini agak cengeng. Sandy paling suka berada di dekat Yesaya, apalagi Sandy itu clingy banget. Ketiga ada Mahirgi Pranata, yang paling tinggi kedua dan dia ini kalau bicara tidak dipikir dulu, jadi banyak teman-teman Irgi sebal dengan dirinya, namun, Irgi bodo amat sih. Lalu yang terakhir ada Wildan Zaufar Hartigan, panggilannya Wildan atau kadang Idan, kalo Yesaya kesal dengannya. Wildan ini sangat nakal, susah dibilangin, namun dia yang akan selalu jadi garda terdepan buat Yesaya. Nama mereka sudah ada dari mereka lahir, dan tentunya nama dari orang tua mereka sendiri. Karena mereka sama sama dititipkan di Panti oleh orang tua mereka, namun hingga saat ini orang tua mereka tak pernah kembali untuk menjemput mereka.
Nah, karena sudah berkenalan dengan kawan-kawan Yesaya, mari kita lanjut untuk menuliskan cerita Yesaya ya.
Yesaya itu anaknya pendiam. Walaupun ia bisa bersuara, namun ia tak bisa bicara satu kata pun. Yesaya mempunyai kecacatan pendengaran dari lahir. Sekarang usia Yesaya dan kawan-kawannya sudah 8 tahun. Walaupun yesaya tak bisa mendengar, Yesaya tetap bisa melihat mereka tertawa, mengobrol satu sama lain dan jika mengobrol dengannya, mereka akan selalu menggunakan bahasa isyarat. Yesaya sangat tersentuh karena hal itu.
Yesaya sudah kelas 2 Sekolah Dasar. Seharusnya ia hampir dimasukkan oleh Bapak Yudis ke dalam Sekolah Luar Biasa, dimana sekolah tersebut adalah sekolah khusus untuk anak seperti Yesaya. Namun, karena Wildan marah dan bujukan kawan-kawan lainnya akhirnya membuat Bapak Yudis memasukkan Yesaya ke Sekolah Dasar biasa. Bersama dengan keempat kawan Yesaya yang lain. Sayangnya, Irgi, Yusuf, Wildan dan Sandy tidak bisa sekelas dengan Yesaya. Irgi dan Yusuf berada di kelas C, Wildan dan Sandy berada di kelas B, sedangkan Yesaya berada di kelas A. Meskipun begitu, keempat kawannya itu tetap mengunjungi dan menemani Yesaya saat jam istirahat datang.
Sepertinya memang bukan takdir hidup Yesaya untuk mendapatkan teman kelas yang baik. Karena saat keempat kawannya itu kembali ke kelas mereka, para teman kelas yang merundung Yesaya mulai berani lagi dengannya. Entah itu alat tulis Yesaya yang diambil, buku tulis Yesaya dicoret coret atau rambut hitam Yesaya dijambak asal oleh mereka. Entahlah, Yesaya tak pernah mengerti mengapa mereka melakukan hal seperti ini padanya. Yesaya sempat berpikir, “apakah cara berteman mereka seperti ini ya?” alhasil ia biarkan saja. Walaupun kepalanya sering sakit dan rambutnya yang rontok karena jambakan mereka terlalu keras.
Yesaya ingin sekali mengadu kepada kawan-kawannya. Namun, ia sungguh tak ingin merepotkan mereka. Ia merasa sudah terlalu sering merepotkan kawan-kawannya. Jadi, Yesaya pikir, selama ia bisa bertahan, maka kawan-kawannya pasti senang.
Biasanya, di hari minggu itu Yesaya suka banget mewarnai. Di Panti ada banyak sekali buku mewarnai, namun, kadang buku yang belum terwarna itu tiba-tiba berubah jadi setitik warna merah, seperti saat ini. Yesaya yang panik pun langsung menutup hidungnya. Karena warna tersebut berasal dari darah yang meluncur dari dalam hidungnya. Ia pun menutup buku mewarnai tersebut dan segera berlari ke kamar mandi. Beruntungnya tak ada sekalipun orang yang melihat dia. Yesaya dengan cepat membasuh muka dan hidungnya dengan air keran yang mengalir. Setelah
menurutnya bersih, ia pun keluar dan dikejutkan dengan Sandy disana. Lalu Sandy memberi bahasa isyarat yang berarti,
“Habis ngapain kamu?”
“Aku habis membasuh muka. Hari ini cuaca cukup panas, San” jawab Yesaya menggunakan bahasa isyarat.
“Oke. Ayo kita main di depan, Irgi sama Wildan udah nungguin kita, yuk!” ucap Sandy dengan antusias yang bisa dilihat oleh Yesaya di wajahnya yang manis itu.
“Yusuf kemana, San? Dia nggak ikut kita main?” tanya Yesaya, karena kawannya ini tidak menyebutkan Yusuf.
“Dia lagi dihukum sama Ibu Soraya, gara-gara dia nakal ngerjain Mbak Erina di dapur” jawab Sandy lalu mereka tertawa bersama dan berjalan menuju halaman depan untuk bermain bola.
Memang bukan hal asing lagi bagi mereka jika Yusuf dihukum. Karena memang anak itu tingkat jahilnya diatas rata-rata deh. Ibu Soraya aja sampe bosen menghukum Yusuf sama Wildan terus.
Yesaya, Sandy, Irgi dan Wildan juga anak Panti lain asyik bermain hingga sore tiba. Ibu Hanum menyuruh mereka untuk masuk dan bersiap untuk mandi sore. Setelah selesai mandi, Yesaya duduk di ayunan depan Panti. Suasana sore hari ini membuat Yesaya tenang. Walaupun hari-hari Yesaya dipenuhi kesunyian, tetaplah memandang keindahan langit memberikan ketenangan tersendiri baginya.
Tanpa sadar, hidung Yesaya kembali mengeluarkan cairan merah. Lebih banyak dari sebelumnya. Yesaya panik kembali, ia memakai bajunya untuk ia lepas dan menghapus darah tersebut. Setelah dirasa cairan tersebut tak keluar lagi, akhirnya ia masuk ke dalam Panti hanya dengan memakai kutang dan celana. Bajunya ia bawa bersamanya. Ibu Dian yang melihat Yesaya seperti ini tentunya heran, ia pun bertanya menggunakan bahasa isyarat,
“Ada apa Yesaya? bajunya kok dilepas?”
Yesaya tidak berani menatap mata Ibu Dian, ia pun menunduk. Tak ingin untuk menjawab jujur. Lalu tak lama, tiba-tiba seseorang memakaikannya selimut. Saat ia mendongak, ternyata adalah
Wildan. Ia melihat wildan berbicara pada Ibu Dian, lalu Wildan membawanya pergi menuju kamar mereka. Yesaya hanya bisa menatap Wildan dalam diam.
Sesampainya di kamar, Wildan menutup pintu kamar dan menguncinya. Wildan mulai berbicara padanya.
“Kenapa bajumu dilepas, Yesaya? Kamu nggak takut masuk angin apa?” tanya Wildan dengan bahasa isyaratnya itu.
Yesaya menunduk kembali, lalu ia pun berdiri dan memperlihatkan bajunya yang penuh darah pada Wildan. Wildan yang melihat itu langsung terkejut. Sebelum teriak, Yesaya menutup mulut Wildan dengan tangannya. Setelah beberapa saat, Wildan pun mengerti maksud Yesaya, lalu Yesaya melepaskan bekapan tangannya dari Wildan.
“Mengapa ada banyak darah di bajumu, Yesaya? Kau tidak habis membunuh hewan kan!” Yesaya mendelik mendengar pernyataan tersebut.
“Bukan! Aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun hidungku selalu mengeluarkan darah! Aku takut, Wildan.” Jawab Yesaya, dan akhirnya ia menangis.
Lalu Wildan membiarkan Yesaya menangis. Ia juga khawatir, khawatir dengan kawan tercintanya ini. Setelah beberapa menit, akhirnya Yesaya pun berbicara bahwa ia sebaiknya berkata jujur pada Ibu Soraya perihal kesehatannya. Karena memang akhir akhir ini keadaan tubuhnya semakin buruk. Wildan pun menyetujui keputusan kawannya tersebut. Ia pun mengantarkan Yesaya ke kamar Ibu Soraya. Tiga ketukan lalu pintu kayu tersebut terbuka dan menampilkan Ibu Soraya. Ibu Soraya yang heran pun mempersilahkan mereka untuk masuk. Wildan membuka obrolan dengan pengaduan Yesaya akan tubuhnya yang sepertinya sakit. Ibu Soraya yang mendengar hal itu tentu terkejut. Ia pun menghampiri Yesaya, dan mencoba menyentuh rambutnya, namun, hanya sekali menyentuh sudah membuat beberapa helai rambut milik Yesaya rontok. Ibu Soraya pun menangis, yang membuat orang yang ada di Panti menghampirinya.
Setelah pengakuan tersebut, terhitung sudah 2 bulan Yesaya dirawat di Rumah Sakit. Yesaya didiagnosis kanker darah atau Leukimia stadium akhir oleh dokter. Kawan-kawan Yesaya, hingga anak-anak Panti terkejut akan berita ini. Wildan, Yusuf, Sandy dan Irgi selalu membesuk Yesaya di Rumah Sakit.
Bahkan pernah sekali mereka menginap di Rumah Sakit, berujung mereka yang sakit karena tempatnya yang sempit. Mereka bersama pengurus Panti selalu memberikan support untuk Yesaya. Walaupun dunia di sekitar Yesaya sunyi, namun, ia seperti melihat keramaian saat bersama mereka.
Yesaya masih terus menjalankan kemoterapi hingga pada usianya yang genap 9 tahun lebih sehari, pada pukul 22.00 Yesaya telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Karena terlalu sering bermain dan bersenang-senang dengan Wildan, Yusuf, Irgi juga Sandy, Yesaya jadi tahu bahwa melihat mereka tertawa membuat core memori khusus bagi Yesaya. Mungkin mereka pikir hanya itu saja yang dapat mereka kasih untuk Yesaya, padahal, hal tersebut sangatlah berharga. Karena, konon katanya 7 menit pertama sebelum benar benar meninggal adalah memutar semua kenangan indah, dan mereka berempat adalah salah satunya atau mungkin satu satunya dalam 7 menit terakhir Yesaya.
Kematian Yesaya membuat luka yang mendalam bagi orang-orang yang mencintai kesunyian Yesaya, bagi orang-orang yang membutuhkan Yesaya untuk sepi mereka.
Semoga, Yesaya bisa lebih bahagia bersama orang-orang baik yang Yesaya temukan di Surga.
MEILANI CHANDRA PUSPITA - 25010684109