Goresan Sunyi dalam Gema Jantung
Ingatan Nala yang selalu mengingatkan akan masa lalu yang begitu pahit dan perih namun juga berharga untuk diingatnya. Hingga Nala pun tersiksa jika mengingatnya namun apalah daya bahwa ingatan itulah juga yang mengubah dan membuat Nala tumbuh menjadi seorang anak yang luar biasa. Ada masa Nala ingin menghapusnya ingatan ini dari dalam memorinya namun bagaimana caranya agar ingatan ini bisa terhapus jika ingatan ini telah terlukis dalam jauh di lubuk hatinya.
Pahit rasanya memperkenalkan kamu namun kau juga yang memperkenalkanku akan keindahan dan makna dari sebuah karya seni. Kamu pernah berkata bahwa karya seni itu adalah sebuah hasil ekspresi kreatif, imajinasi, dan keterampilan teknis dari dalam diri manusia yang diwujudkan dalam bentuk fisik (visual/rabaan) atau pertunjukan. kita sendiri juga merupakan karya seni yang diciptakan oleh sang ilahi dengan berbagai jenis kulit, paras, dan keunikan yang berbeda-beda. Kamu pun juga yang telah mengajarkan aku akan membawa sebuah karya seni menjadi identitas diri manusia yang paling cantik yang bisa terukir melalui polesan dan goresan yang tertuang di dalamnya. Dan menjadikan sebuah seni menjadi identitas diriku yang lain yang tertuang di dalamnya sepanjang masa selama masa aku berkarya tanpa memandang kekurangan yang ada di dalam diriku ini.
Hai itu hari di mana aku mulai mengenalmu di sekolah baru di sekolah seni yang unggul gimana banyak siswa-siswi unggul dari sekolah seni ini yang menjadi rumah bagi calon seniman seniman muda nasional dan internasional. Hal yang cukup membanggakan bagi diriku di mana seorang anak dengan keterbatasan pendengaran (tuna rungu) yang memiliki kesempatan untuk menempuh jenjang pendidikan di sekolah unggul ini, keterbatasan fisik pendengaran yang sedikit membuatku ragu apakah aku akan bisa berbaur dengan teman-temannya yang lain atau aku hanya menyendiri seperti biasanya di masa sekolahku sebelumnya. Tujuan awal ku masuk sekolah ini hanya ingin mengembangkan keterampilan di dunia seni agar aku bisa menikmati dan membuat bisnis galeri sendiri suatu saat nanti. Namun tiba di masa aku melihatmu dari jauh orang yang cukup populer yang disegani oleh banyak orang. Senior dengan paras yang ganteng gagah dan penuh perhatian dengan keunggulan di berbagai bidang dan penggemar perempuan yang cukup banyak. Namun ternyata dibalik parasmu yang ganteng gagah dan perhatian ternyata kamu juga memiliki luka yang mendalam dari kisah adikmu yang memiliki keterbatasan heart of hearing gimana pendengarannya masih cukup bagus tapi perlu alat pendengaran untuk membantu komunikasi kesehariannya yang berakhir buruk sebab suatu penyakit jantung bawaan yang diderita oleh adiknya yang menyebabkan senior kehilangan adik bungsunya yang ceria.
Suatu ketika saat ku mengunjungi sebuah pameran galeri pameran seni internasional aku memandang sebuah karya yang cukup menarik untuk dilihat dan dirasakan emosi yang terlibat sejenak dalam diriku karya itu berjudul "KEDALAMAN" karya lukis yang menarik yang mencerminkan kalau kita hanya melihat satu kondisi yang membuat kita langsung menyimpulkan makna dari tatapan itu maka orang lain bisa melihat kita dengan keadaan yang sama pula. Sama halnya saat kita melihat satu kondisi seseorang dengan keterbatasan fisik tanpa disadari kita juga langsung menyimpulkan dan menggambarkan bahwa orang itu tidak mandiri dan tidak mampu mengerjakan tugasnya sendiri dan selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Tanpa disadari bahwa sebuah algoritma ini terbentuk karena perbedaan fisik maupun kondisi seseorang yang kurang sehat daripada kita. Seakan-akan orang dengan keterbatasan fisik tidak bisa hidup mandiri dan mampu mengerjakan tugas dengan baik tanpa bantuan dari orang lain. Dengan ini mata kedalam berarti sebuah semacam peringatan perjalanan yang menarik kita dengan lebih dalam tanpa mengetahui dan memahami keunggulan dari orang itu sebab skema yang telah terbentuk dari lingkungan atau keluarga. Penggunaan dan goresan yang tertuang di dalamnya sangat detail dan menawan yang membuat orang bisa memahami isinya meskipun mereka tidak tahu mengenai seni. Dan memberikan pembelajaran Empati akan menghargai antara sesama manusia dengan berbagai kondisi yang berbeda. Dan disanalah Nala tak sengaja bertemu dengan Gema, senior di sekolahnya disaat yang sama sedang menikmati keindahan dari sebuah karya seni itu. Nala pun memberanikan diri menyapa seniornya itu.
"hai kak Gema... sedang sama siapa di sini, perkenalkan aku Nala adik kelasmu dari tahun pertama angkatan 2024, (Nala memperkenalkan diri dengan bahasa isyarat dan gerakan bibir yang mengucapkan sepengah kata)".
"Oh haii... Nala, kebetulan saya sedang bersama teman-teman kakak yang lain tapi kakak memisahkan diri hehe karena mereka terlalu ramai dan cukup merepotkan, (Gema pun membalas dengan pengucapan kata lewat gerak bibir)". Kamu sendiri sedang bersama dengan siapa? Sendirian atau sama temen?".
"kebetulan sedang sendirian kak hehehe..."
Kak Gema menawarkan Nala untuk pergi bersamanya dan teman-temannya supaya Nala bisa bermain dan menikmati pameran dengan gembira. Nala pun ikut bergabung bersama rombongan kak gema dan yang lainya. Selesai dari galeri seni mereka keluar untuk menikmati makan makanan pinggir jalan untuk mengisi perut mereka yang kosong. Mereka semua mengakrabkan diri tanpa memandang lain Nala, Mereka pun selesai makan menghabiskan waktu di mall untuk keliling dan foto booth. Selesai dari bermain Nala pamit pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam dan mengingat jarak rumah Nala cukup jauh dari tempatnya bermain kak Gema menawarkan diri untuk mengantarkan Nala pulang. Antusiasme ini disambut baik oleh teman-tema kak Gema. namun disatu sisi Nala sedikit berhati-hati dengan sikap kak gema karena ia cukup populer dan banyak wanita yang mencari perhatian kepada kak gema, jangan sampai ia menjadi sasaran amukan dari teman-teman perempuan kak gema. Tak lama kak Gema berpamitan dan mengantar Nala sampai rumah dengan selamat. Seminggu berlalu setelah acara pameran di galeri seni itu, kehidupan yang normal bak layaknya anak sekolah lainya dan sesekali berpapasan di kantong dengan kak Gema dan senior lainya. Tak terasa pula akhir pertengahan semester akan dimulai dan ujian seni pahat akan dimulai untuk tema materi materi ujian setiap angkatan akan berbeda dan untuk tahun ini untuk tahun pertama berteman seni pahat, tahun kedua seni ukir, dan tahun ketiga adalah seni logam. Namun tema karya akan sama cuman berbeda dalam bentuk pengerjaannya. Untuk tema ujian tahun ini adalah "Eksplorasi" semua siswa bebas menentukan konsep idenya namun menyusun tema Eksplorasi. Semua siswa pun senang dan bingung ingin membuat karya seperti apa yang harus mereka siapkan. Nala sedikit kebingungan mencari inspirasi dari karyanya, Nala pun bermain di kelas seniornya untuk mencari dan melihat referensi karya karya bagus lainya. Namun pada saat di lorong kelas tak sengaja Nala bertemu dengan kak Gema dan mereka mulai berbicara mengenai inspirasi dari karyanya kak gema dan perlahan Nala pun mulai tahu ingin membuat karya seni seperti apa setelah berbicara dengan kak gema begitu lama sambil mengelilingi lorong kelas dan dari sini mereka mulai akrab. Kak gema pun mulai main dan mendatangi Nala untuk melihat dan mengetahui progres pengerjaan karya Nala sambil memberikan masukan dan arahan, tak kadang mereka pun bercanda bersama.
Seminggu berlalu tak terasa karya ujian tengah semester telah usai, dan mereka berdua semakin dekat. Suatu ketika kak gema menerima telepon dari sahabatnya Bitna dia adalah seorang siswa dengan jurusan Fotografer dari sekolah sebelah dan mengajak gema bertemu, namun disatu sisi Nala curiga dan sedikit cemburu padahal sahabat gema hanya mengingatkan gema akan janji temu mereka dengan dokter jantung, sebab gema perlu pemeriksaan rutin akibat lemahnya jantung gema. Nala pun hanya diam dan tidak mengetahui fakta tersebut. Gala pun juga tidak menceritakan penyakit yang dialaminya dengan teman-temannya yang lain. Sebab ia tidak ingin mengkhawatirkan siapapun, Gema pun hanya memberitahu Nala bahwa ia besok tidak bisa bertemu dengannya sebab sudah ada janji dengan teman lainya. Gema pun keesok kan harinya pergi bersama Bitna ke dokter jantung, untuk memeriksa kondisi Gema akhir-akhir ini. Kondisi Gema cukup baik dan sehat hanya saja gema memerlukan istirahat yang cukup banyak sebab akhir-akhir ini gema terlalu banyak memaksakan diri sebab terlalu bekerja keras membatu Nala dan menyelesaikan tugas ujiannya.
Pertengahan semester berlalu dan Gema dan Nala semakin dekat, mereka pun merencanakan pergi ke Festival Seni Nasional yang diadakan di liburan tengah semester ganjil Mereka akan pergi bersama dengan teman-teman kak gema, sahabat Gema dan Nala untuk datang ke festival besar ini. Selama beberapa hari gema mempersiapkan sebuah hadiah untuk Nala sebuah liontin cantik bergambarkan sayap yang dihiasi dengan serpihan kaca yang telah terbentuk dan dipoles rapi dimana hadiah ini ingin diberikan gema ke Nala sala waktu puncak festival seni. Hari dimana festival ini berlangsung mereka bermain bersama dan bergembira bersama. Nala pun menikmati festival sini ini dengan senang meskipun ia hanya bisa melihat tanpa bisa mendengar ia sangat bahagia menghabiskan waktu bersama teman-teman yang lainnya. Malam puncak Festival Seni Nasional pun tiba dan ditutup dengan pesta kembang api yang megah. Di tengah kerumunan yang bersorak, Nala hanya bisa melihat cahaya warna-warni yang meledak di langit tanpa bisa mendengar dentumannya. Namun, di sampingnya, Gema menggenggam tangan Nala dan meletakkannya tepat di dadanya. Melalui telapak tangannya, Nala bisa merasakan detak jantung Gema yang berdegup kencang—sebuah irama kehidupan
yang menjadi musik terindah yang pernah "didengar" Nala. Gema memberikan hadiah berupa kalung dengan liontin sayap itu kepada Nala dan tak lama gala pun mengutarakan perasaannya kepada Nala diakhir festival ini.
Mereka seharusnya bertemu kembali di awal semester genap namun takdir berkata lain dua hari setelah acara festival itu Gema masuk rumah sakit sebab kondisinya yang tiba-tiba turun drastis. Gema pun meminta orang tuanya untuk menghubungi Nala yang mengetahui hal ini segera bergegas dan pergi kerumah sakit untuk menemui Gema, Nala cukup hancur dan tidak mengetahui fakta bahwa gema memiliki penyakit bawaan yang cukup serius.
Nala berkata didalam hatinya "seharusnya kemarin kami tidak datang di acara festival itu supaya gema tetap sehat dan terus bersama kami".
Gema memberikan pesan kepada Nala "Terima kasih sudah menjadi bagian dari sisi lain diriku yang baru, Nala," ucap Gema melalui gerak bibir yang sangat pelan namun jelas.
Nala tersenyum lebar, menyadari bahwa meski ingatannya tentang masa lalu begitu pahit, pertemuannya dengan Gema telah mengubah kanvas hidupnya menjadi penuh warna. Gema tidak hanya mengajarkannya tentang teknik seni, tetapi juga tentang bagaimana sebuah keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menciptakan karya yang luar biasa.
Tahun-tahun berlalu, Nala akhirnya berhasil mewujudkan impiannya membangun galeri seninya sendiri. Di tengah galeri itu, terpajang sebuah patung pahatan logam—hasil kolaborasi tak terlihat antara dirinya dan Gema. Karya itu berjudul "Gema dalam Sunyi", sebuah simbol bahwa meskipun komunikasi mereka terbatas oleh suara dan rabaan, jiwa mereka telah menyatu dalam ekspresi kreatif yang abadi.
Nala kini paham, bahwa seperti lukisan "KEDALAMAN" yang pernah mereka lihat bersama, manusia tidak boleh dinilai hanya dari permukaannya saja. Di balik kesunyian pendengarannya dan di balik lemahnya jantung Gema, terdapat sebuah mahakarya empati yang paling cantik yang pernah terukir dalam sejarah hidup mereka.
Zaskia Subandiah - 25010684077