HANYA IBU YANG MENDENGAR
Di Sebuah kota pada siang hari saat itu sedang hujan deras. Terlihat di sisi rumah keluarga yang harmonis sedang bermain hujan-hujan di halaman rumah mereka. Suasana di rumah tersebut sangatlah hangat karena terlihat seorang ayah dan anak perempuannya berumur 7 tahun sedang bermain hujan dirumah itu, sedangkan sang ibu melihat dari dalam rumah sambil tertawa bahagia dengan membawa handuk untuk ayah dan anak itu.
"Ayah.., Lia.., ayo udah selesai main hujan-hujannya sekarang waktunya mandi”. Teriak ibu Lia sambil memanggil kedua orang tersebut. Setelah mendengar teriakan itu, keduanya langsung berlari menghampiri sang ibu.
“Ibu, Lia itu masih pengen main sama ayah. Lia udah jarang main sama ayah gara-gara ayah sering kerja.” Ucap Lia merajuk sambil badannya dibasuh handuk oleh ibunya.
“Ayah kan kerja juga buat kamu sayang, besok-besok juga masih bisa kan mainnya lagi, minggu depan kita kan bakalan liburan jadi Lia harus sabar, bener kan ayah?” ucap ibu Lia.
“Iya kan minggu depan kita bakalan liburan. Jadi sekarang Lia mandi bersih bersih biar ga masuk angin. Tadi juga sudah lama mainnya sama ayah. Ini aja badannya Lia udah dingin semua, inget lho ya kamu ga bisa kecapekan Lia nanti kamu drop sakit terus ga jadi liburan gimana?” Ucap ayah Lia.
“Iya deh yah, Lia mau mandi aja deh. Tapi habis mandi Lia mau coklat panas buatan ayah bolehkan. Soalnya Lia udah kangen sama buatan ayah” minta Lia dengan mata yang berbinar-binar menatap sang ayah.
“Iya boleh sayang, nanti ayah buatkan coklat panasnya.” Ucap ayah Lia sambil mengelus kepala putrinya.
Di tengah-tengah percakapan tersebut terdengarlah suara kilat menyambar yang sangat keras berulang kali membuat keluarga itu segera masuk rumah untuk berlindung agar tidak mengenai sambaran tersebut. Hingga kilatan terakhir dengan bersuara keras yang sepertinya mengenai rumah mereka membuat rumah tersebut lampu mati total. Lia yang pada dasarnya tidak bisa gelap serta ditambah dengan kilatan yang sangat dahsyat pun langsung menjadi sesak napas dan keringat dingin. Setelah kilatan tersebut pendengaran Lia menjadi berdengung lama. Orang tua Lia yang mengetahui itu langsung membawanya ke kamar Lia untuk berbaring dan mengambil nebulizer agar tidak memperparah keadaan Lia.
Setelah beberapa lama kemudian lampu rumah mereka sudah menyala tetapi keadaan Lia semakin bertambah parah. Akhirnya orang tua Lia memutuskan untuk membawa Lia kerumah sakit untuk ditangani karena hujan sudah mulai reda. Di mobil ibu Lia mengelus tangan serta kaki Lia agar tetap hangat karena tubuh Lia sangatlah pucat dan dingin serta tubuh yang menggigil.
Setelah tiba di rumah sakit segera di periksalah Lia di suatu IGD . Beberapa menit kemudian dokter selesai memeriksa keadaan Lia. Dokter itu segera memberitahu keadaan yang dialami.
“Keadaan anak kalian lumayan parah karena dia sedang demam tinggi dan memiliki riwayat penyakit sesak nafas. Apakah tadi sudah diberikan penanganan pertama saat sesak napas itu muncul?” tanya dokter tersebut.
“Kami sudah berikan nebulizer saat dirumah hingga perjalanan kesini, tapi keadaannya tetap sama malah makin parah.” ucap ibu Lia
“Pernapasannya saat saya periksa tadi sempat menurun sebentar dan sepertinya ada masalah pada pendengaran anak kalian. Jika nanti anak kalian sudah sadar segera
panggil saya. Saya permisi” ucap dokter tersebut. Perkataan dari dokter itu membuat kedua orang tua Lia bertanya-tanya. Kira-kira apa yang sedang terjadi pada anak mereka.
Setengah jam berlalu kedua orang tua Lia menunggu, akhirnya Lia pun sadar. Mereka yang mengetahui itu segera mendekat ke arahnya.
“Ibu Lia dimana ini?” tanya Lia dengan suara yang lemas.
“Lia sekarang ada di rumah sakit, tadi Lia badannya panas jadi ayah sama ibu bawa Lia kesini” Ucap ibu Lia dengan lembut. Tetapi Lia sendiri tidak mendengar apa yang ibunya ucapkan kepada dirinya.
“Ibu suaranya kurang keras, Lia ga dengar suaranya ibu”. Kedua orang tua Lia yang mendengarkan ucapan putrinya pun terkejut. Ayah Lia langsung keluar dan memanggil dokter yang memeriksa putrinya tadi.
Dokter pun datang tak lama kemudian dan langsung memeriksa keadaan Lia yang sedang kebingungan.
“Sesuai dugaan saya tadi anak kalian mengalami kerusakan pada saraf kokleanya. Mungkin saya prediksi ini akan membuatnya tidak bisa mendengarkan suara secara jelas dengan permanen. Penyebabnya mungkin karena suara yang keras mengenai telinga anak kalian dan membuat kerusakan”. Ucapan dokter itu membuat kedua orang tua Lia terdiam. Putri yang mereka lihat tadi sedang tertawa bahagia sambil bermain sekarang mendapatkan musibah yang tidak diduga.
“Tidak mungkin anak kami mengalami kerusakan pada pendengarannya. Kami memang mendengarkan suara kilatan yang keras saat hujan tadi, tapi tidak mungkin hingga dia mengalami hal itu”. Terlihat dari nada ayah Lia sangat tidak terima jika anaknya di diagnosis seperti itu.
“Kami hanya memberi tahu apa yang terjadi pada kondisi anak kalian saja. Karena kita juga tidak bisa mengetahui musibah yang akan datang menimpa anak kalian.” ucap dokter itu dengan nada yang tenang.
“Apakah tidak bisa disembuhkan atau melakukan terapi agar bisa mendengar lagi?” tanya ibu Lia yang sudah terlihat putus asa pada kondisi putrinya.
“Sayangnya tidak bisa karena kerusakan tersebut sudah permanen. Saya sarankan untuk membeli alat bantu dengar saja. Dan pastikan kalian menjaga kesehatan mental serta tubuhnya karena mungkin bisa saja setelah mendengarkan ini dia akan mengalami penurunan pada kesehatan dan mentalnya.” Setelah itu dokter pun pamit kepada kedua orang tua Lia.
“Ayah, ibu pak dokter bilang apa kok Lia ga dengar sama yang pak dokter bilang” tanya Lia dengan tatapan polos yang membuat kedua orang tuanya merasa iba.
Setelah itu mereka memberi tahu jika Lia sudah tidak bisa untuk mendengar lagi tak tahu sampai kapan. Mereka menyampaikan dengan menggunakan notes pada kertas. Ayah Lia yang tidak kuat melihat keadaan putrinya pun akhirnya keluar dari ruangan itu dan menghampiri dokter tadi untuk membeli alat bantu dengar untuk putrinya. Beberapa hari kemudian, Lia sudah diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit karena keadaannya sudah membaik.
Sejak kepulangan Lia ayahnya menjadi sangat acuh dan seperti tidak ingin bertemu Lia lagi. Beberapa kali kedua orang tua Lia bertengkar karena sikap acuh ayah pada anaknya. Lia yang sesekali mendengar itu pun mencopot alat bantunya agar tidak mendengar orang tuanya bertengkar. Sejak hari itu hanya ibu Lia saja yang merawat dan memberikan pengertian kepada anaknya sedangkan ayahnya sering tidak pulang kerumah atau biasanya pulang larut agar tak bertemu dengan putrinya itu.
Beberapa tahun setelahnya, sekarang usia Lia adalah 17 tahun dan sudah sekolah berada di tingkat SMA kelas 11. Kini Lia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas dan alat bantu atau hearing aid itu tersembunyi dibalik rambut hitam indahnya. Sayangnya sifatnya sekarang menjadi lebih pendiam dan hanya ceria di teman terdekatnya saja yaitu Dinda si teman sebangku Lia, Sinta adalah teman Lia dari kecil, dan Rangga adalah seorang teman yang sering membagikan catatan materi kelas ke Lia.
Sejak kecil Lia sudah berlatih agar terlihat normal bersama ibunya dan Sinta. Lia mencoba untuk membaca gerak bibir dari ibunya dan memang berhasil jika tidak
berbicara dengan cepat.Lia memang sudah ikhlas dengan keadaan tetapi saat ia melihat ayahnya yang masih acuh kepadanya. Lia sudah pernah mencoba untuk menunggu ayahnya pulang hingga malam tetapi saat ayahnya pulang malah Lia tidak dianggap dan pernah hingga ia didorong kasar oleh ayahnya.
Saat ini sekolah Lia sedang mengadakan debat antar kelas yang diikuti oleh siswa kelas 11 dan diadakan di aula besar sekolah dengan tema debatnya yaitu “Apakah teknologi membuat manusia semakin kesepian?” dan Lia terpilih sebagai ketua debat pada tim kelasnya karena nilainya yang selalu tinggi. Teman satu timnya yaitu Dinda, Sinta dan Rangga ketiganya mengetahui kondisi yang dialami oleh Lia dan selalu mendukungnya.
Di sisi lain, tim lawan dipimpin oleh Karen, gadis populer yang selalu memamerkan kekayaan keluarganya pada murid di sekolah itu. Karen dengan teman satu gengnya selalu iri pada Lia sejak lama. Mereka sering menyebarkan berita serta kata-kata pedas seperti “Kaya raya tapi kuping rusak”, “Pura-pura normal padahal cacat tuli”, seperti itu lah kata-kata yang dilontarkan kepada siswa-siswi di sekolah itu.
Debat antar kelas pun dimulai. Lia berdiri di podium dengan percaya diri karena ia sudah menghafal argumen-argumennya dengan baik. Saat gilirannya berbicara, suaranya terdengar jelas meskipun orang yang mendengarkannya terdengar aneh karena suara itu agak datar.
“Teknologi memang menghubungkan kita semua, tetapi justru membuat kita lupa bagaimana rasanya mendengar atau bersosialisasi dengan orang lain”. Ucap debat Lia dengan suara yang tegas kepada audiens.
Tiba-tiba lampu proyektor dimatikan oleh salah satu teman Karen, karena memang itu adalah salah satu rencana Karen untuk mempermalukan Lia agar semua orang bisa melihat Lia tertindas atau merasa malu. Jika lampu proyektor mati maka Lia akan kehilangan kontak visual dengan lawan debatnya. Ia menjadi tidak bisa membaca bibir lawan bicaranya. Kata-kata yang keluar dari mulut Karen dan timnya menjadi kabur dan tak jelas, hanya getaran suara yang samar didengar.
Lia panik. Ia segera menoleh ke Dinda dengan wajah yang sudah pucat tetapi Dinda hanya menggeleng pelan. Hearing aid Lia mulai berdengung pelan pertanda baterainya sudah hampir habis. Sedangkan di sisi lain Karen sengaja berbicara sangat cepat sambil membelakangi Lia secara sengaja.
“Jika begitu, menurut lo teknologi bikin orang tuli terhadap perasaan orang lain, benar begitu?” tanya Karen dengan nada yang merendahkan Lia dan tatapan yang mencemooh.
Teman-teman Karen tertawa mengejek dengan ucapan Karen barusan. Lalu Lia mencoba menjawab dengan suara yang terbata-bata.
“M- maaf.. bisa di- ulang.. lebih pelan?” Lia berbicara sekuat mungkin karena ia memang sudah tidak bisa mendengar apapun. Akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan hearing aid nya karena telinganya begitu sakit mendengar dengungan yang amat jelas.
Karen mendengar suara Lia yang terbata itu tersenyum manis tapi matanya seolah mengejek Lia.“Loh kenapa harus diulang? Kan lo bisa dengar jelas , atau.. cuma pura-pura aja?”. Teman-teman Lia yang mendengar itu pun tak terima tetapi jika mereka membalas perkataan Karen maka poin untuk timnya akan dikurangi.
Saat itu lah salah satu teman Karen “tidak sengaja” menyenggol meja Lia. Hearing aid kecil yang sempat Lia lepas sebentar tadi, jatuh ke lantai dan berguling menjauh dari jangkauan Lia.
Klik..
Suara kecil itu terdengar jelas di sekitar meja Lia bersamaan dengan heningnya ruangan tersebut. Ruangan hening sesaat, lalu pecah tawa tertahan karena ucapan Karen benar-benar terbukti. Ruangan yang cahaya nya masih samar, Lia masih melihat gerakan bibir orang disekitarnya jika mereka sedang menertawakannya.
Lia buru-buru mengambil alat itu dengan tangan yang bergetar. Lalu ia memasangnya kembali ke telinganya tetapi baterainya sudah benar-benar habis. Dunia
Lia mendadak sunyi total, ia tak mendengarkan suara apapun. Lia hanya melihat mulut mulut yang bergerak tanpa suara, seperti ikan di akuarium.
Timnya kalah telak. Nilai debat kelas Lia yang di kira akan tinggi sekarang menjadi yang terendah.
Malam harinya, video adegan Lia yang bingung dan berbicara “gagap” diunggah Karen ke Instagram dengan caption, “Anak konglomerat debat pake kuping mahal tapi lowbat, lucu banget liatnya. Modal duit doang”. Video itu menyebar dengan cepat dalam satu malam di sekolahnya.
Besok paginya, seluruh murid serta guru sudah mengetahui berita yang tadi malam di posting oleh Karen. Saat sampai di sekolah teman-teman Lia sudah menunggu Lia untuk menjaga dan melindungi Lia dari serangan atau gunjingan orang lain. Di koridor, Lia berjalan dengan kepala yang tertunduk, tak mau melihat siapapun di depannya.
Pada saat istirahat di kantin sekolah, Karen dan gengnya menghampiri dan mengepung Lia yang sedang duduk sendirian.
“Hei, Lia.. lo beneran orang tuli atau Cuma pura-pura aja biar orang kasian sama lo?” Karen berbicara dengan lantang sambil tertawa agar semua penghuni kantin dapat mendengar suaranya dengan jelas.
“Aku tidak berpura-pura sama sekali” Lia menjawab perkataan Karen dengan suara yang pelan tapi tegas.
“Terus kenapa lo harus pakai alat aneh itu? Malu ya sama temen-temen? Atau ayah lo malu punya anak cacat kayak lo?”. Kata “cacat” yang keluar dari mulut Karen itu menusuk tepat pada dada Lia. Dadanya sekarang sesak, air matanya mulai menggenang. Tetapi jika ia menangis di hadapan Karen, maka ia akan semakin di tindas habis-habisan olehnya.
“Kalau aku cacat, kenapa kalian malah takut sama aku? Karena aku masih bisa dapat nilai tinggi dari kalian meskipun telingaku rusak?”. Lia berdiri menatap Karen dengan tegas, tetapi dengan suara yang sedikit bergetar.
Karen tertawa sinis, “Wih, sombong juga lo kalo ngomong. Padahal suara lo itu datar kayak robot”
Di tengah percakapan itu, Rangga dan Dinda datang menghampiri Lia yang sedang dirundung. Dinda mendorong Karen pelan tapi cukup membuat Karen untuk mundur dari posisi sebelumnya.
"Cukup! Sikap kalian sudah keterlaluan!” Ucap Dinda dengan tegas ke arah Karen dan gengnya.
Sinta langsung menghampiri Karen dan gengnya dan menunjukkan layar ponselnya dihadapan wajah Karen. Ponsel itu berisi rekaman Karen yang menindas Lia dari awal hingga akhir. Karen yang melihat rekaman itu hanya mematung di tempatnya.
“Jangan lupa Karen, bokap gua adalah seorang jaksa. Gua bisa aja menuntut lo dengan nunjukin bukti rekaman itu ke bokap gua.” Ucap Sinta dengan nada mengancam kepada Karen. Karen tak bisa melakukan apapun, karena memang Ayah Sinta adalah orang yang berpengaruh daripada keluarganya sendiri. Karen pun panik dan langsung pergi beserta gengnya.
Sorenya Lia pulang ke rumah dalam keadaan yang hancur. Ia berlari ke arah kamarnya, melempar tas ke sembarang arah dan melepaskan hearing aid-nya. Seketika dunianya menjadi sunyi total. Ia menangis tertahan dalam kamarnya. Menyesakkan. Itu yang ada di dalam benaknya.
Ayahnya pulang malam itu dan langsung marah besar setelah mendapat laporan dari kepala sekolah.
“Lia! Kamu bikin malu nama keluarga! Debat saja tidak becus. Harusnya kamu tidak usah ikut kegiatan yang memerlukan pendengaran! Duduk diam di rumah saja!” Ibunya mencoba membela, tapi ayah Lia malah berteriak lebih keras:
“Kamu yang memanjakannya! Lihat sekarang! Anak kita jadi bahan tertawaan sekolah!” gertak ayah Lia. Lia yang tidak memakai hearing aid hanya melihat ayahnya berteriak dengan wajah merah. Ia tidak mendengar kata-kata itu, tapi ia merasakan getaran kemarahan di lantai. Ia lari ke kamar dan mengunci pintu.
Malam itu, pintu kamar Lia diketuk pelan. Ibu Lia masuk dengan mata sembab. Ia duduk di tepi tempat tidur dan memeluk Lia erat-erat tanpa bicara dulu. Lalu ia mengambil tangan Lia dan menulis di telapak tangannya dengan jari:
“Ibu di sini. Ibu mendengar kamu.”
Lia menangis di pelukan ibunya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia berbisik dengan suara yang pecah:
“Ibu… aku capek disembunyikan. Aku capek pura-pura normal.”. Ibunya menangis ikut menangis, tapi suaranya tegas
“Besok kamu ke sekolah lagi. Pakai hearing aid-mu dengan bangga. Jangan sembunyikan lagi. Kamu bukan cacat, Lia. Kamu hanya belajar mendengar dengan cara yang berbeda. Dan ibu akan selalu menjadi telinga terbesarmu.”
Keesokan harinya, Lia masuk sekolah dengan hearing aid yang terlihat jelas, tidak lagi disembunyikan di balik rambut. Rambutnya dikuncir tinggi. Ia berjalan tegak ke kelas.
Di depan kelas, ia meminta izin guru untuk bicara. Suaranya datar tapi mantap:
“Saya Aurelia. Saya tuna rungu. Saya bisa mendengar dengan alat ini. Saya bisa berbicara karena ibu saya tidak pernah menyerah melatih saya. Kalau ada yang mau menertawakan saya, silakan. Tapi saya tidak akan lagi bersembunyi.”
Ruangan hening. Beberapa siswa menunduk malu. Dinda, Rangga, dan Sinta berdiri dan bertepuk tangan. Perlahan tepuk tangan itu menyebar ke seluruh kelas. Karin duduk di belakang, wajahnya pucat. Video bullying-nya sudah dilaporkan ke BK dan orang tuanya dipanggil sekolah.
Sore harinya, di teras rumah mewahnya, Lia duduk bersama ibunya. Ia menulis di notes ponsel dan menunjukkan ke ibu:
“Terima kasih, Bu. Karena Ibu, aku masih bisa mendengar harapan.”
Ibu Lia memeluknya dan berbisik di telinga Lia yang memakai hearing aid:
“Ibu yang berterima kasih, sayang. Karena kamu mengajarkan ibu cara mencintai dengan seluruh hati.”
Angin sore Surabaya berhembus pelan. Lia tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, dunia terasa tidak terlalu sunyi lagi.
by: Keisya Dica Nathanneila - 25010684047