HARAPAN DI BALIK GELAP
Namanya Arga. Ia adalah seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun yang sejak lahir tidak dapat melihat. Hal ini tentu terasa lebih berat, disaat semua orang dapat melihat segala nya namun arga hanya melihat kegelapan. Semua warna nampak sama, semua tempat terasa tidak ada yang berbeda, semua begitu gelap bahkan setitik cahaya pun arga tidak dapat melihat.
Sejak kecil, Arga sudah belajar memahami dunia dengan cara yang berbeda. Ia mengenali suara langkah kaki ibunya, ia hafal aroma masakan di dapur, dan ia bisa membedakan setiap sudut rumah hanya dengan sentuhan. Dunia Arga tidak terlihat, tetapi terasa lebih dalam, lebih halus, dan penuh makna.
Arga tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah sederhana. Rumah itu tidak besar, tetapi penuh kehangatan. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Arga sudah bangun terlebih dahulu. Dengan perlahan, ia meraba sisi tempat tidurnya, lalu duduk dengan hati-hati. Tangannya mencari tongkat kecil yang selalu setia menemaninya.
“Bu, Arga sudah bangun,” ucapnya dengan suara lembut.
“Iya, Nak. Hati-hati ya,” jawab ibunya dari dapur dengan penuh kasih.
Arga berjalan pelan, tetapi pasti. Setiap langkahnya penuh keyakinan. Ia sudah hafal letak meja, kursi, pintu, bahkan jarak antara kamar dan dapur. Baginya, rumah itu seperti peta yang tergambar jelas di dalam pikirannya. Ia tidak pernah mengeluh. Bahkan, ia selalu berusaha melakukan segala sesuatu sendiri. Ia ingin mandiri, tidak ingin merepotkan orang tuanya.
Setelah sarapan, Arga bersiap berangkat ke sekolah. Ia menggunakan seragamnya dengan rapi, meraba setiap kancing dengan teliti agar tidak salah. Ibunya hanya memperhatikan dari jauh, bangga melihat anaknya yang begitu berusaha.
Di perjalanan menuju sekolah, Arga berjalan dengan tongkatnya secara perlahan, disetiap Langkah arga yang perlahan tetapi penuh semangat dan harapan. Di Perjalanan Ia mendengarkan suara kendaraan yang ramai, langkah orang-orang yang berlalu lalang, dan arah angin. Semua itu membantunya memahami keadaan sekitar.
Sesampainya di sekolah, Arga disambut oleh teman-temannya.
“Arga! Sini!” teriak Riko.
Arga tersenyum dan berjalan mendekat.
Sejak kecil, Arga dikenal sebagai anak yang sangat tabah. Ia tidak pernah putus asa dengan keadaannya. Ia juga tidak pernah merasa minder dengan teman-temannya. Baginya, ia sama seperti anak-anak lain. Ia selalu percaya diri dalam berinteraksi, bermain dan bercanda dengan teman-temannya.
Di kelas, Arga belajar dengan penuh semangat. Ia menggunakan buku huruf braille. Jari-jarinya bergerak pelan menyusuri titik-titik kecil yang menjadi jendela ilmunya. Meskipun lebih sulit dibandingkan teman-temannya, ia tidak pernah menyerah. Bahkan, ia sering mengulang pelajaran di rumah agar lebih memahami.
“Aku harus bisa seperti mereka,” ucapnya dalam hati.
Suatu hari, gurunya memberikan soal yang cukup sulit. Banyak siswa yang mengeluh, tetapi Arga tetap tenang. Ia membaca soal itu perlahan dengan jarinya, lalu berpikir.
Beberapa saat kemudian, ia mengangkat tangan.
“Ibu, saya mau mencoba menjawab,” katanya.
Teman-temannya terkejut. Namun, Arga berhasil menjawab dengan benar.
“Wah, Arga hebat!” kata teman-temannya.
Arga hanya tersenyum kecil. “Aku cuma berusaha saja.”
Selain rajin belajar, Arga juga dikenal sebagai anak yang sangat sopan kepada orang tua dan guru di sekolah ia sangat mematuhi peraturan menyapa guru dan rajin mengerjakan tugas. Tidak hanya di sekolah dirumah pun arga selalu berbicara dengan lembut, tidak pernah membantah, dan selalu menuruti apa yang diperintahkan.
“Arga, tolong bantu Ibu ya,” kata ibunya suatu sore.
“Iya, Bu,” jawabnya dengan cepat.
Ia membantu mencuci piring, menyapu, bahkan menata barang-barang. Walaupun membutuhkan waktu lebih lama, ia tetap melakukannya dengan sabar. Arga melakukan semua itu dengan tulus. Ia tidak pernah mengeluh, meskipun terkadang ia harus berusaha lebih keras dibandingkan orang lain.
Ia selalu berusaha agar bisa sama seperti teman-temannya. Ia tidak ingin dipandang berbeda. Ia ingin menunjukkan bahwa ia juga mampu.
Namun, dibalik semua itu, Arga tetaplah seorang anak yang memiliki perasaan.
Setiap malam, sebelum tidur, saat suasana mulai sunyi dan semua orang terlelap, pikirannya sering dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
Ia berbaring dalam diam.
“Kenapa ya aku tidak sama dengan teman-temanku?” bisiknya dalam hati.
Perasaannya perlahan berubah menjadi sedih.
“Kenapa aku tidak bisa melihat dunia ini?”
Air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku ingin melihat diriku sendiri… bagaimana wajahku sebenarnya…”
Ia menarik nafas pelan.
“Aku juga ingin melihat ibu dan ayah… orang yang selalu ada untukku…”
Ia membayangkan hal-hal yang belum pernah ia lihat.
“Aku ingin tahu seperti apa langit… katanya luas dan indah…”
“Bagaimana bentuk pohon… bunga… dan warna-warna itu…”
“Orang-orang sering cerita tentang warna… tapi warna itu seperti apa ya?”
Ia mencoba membayangkan warna melalui rasa.
“Apakah merah itu seperti hangatnya matahari di pagi hari?”
“Apakah biru itu seperti sejuknya angin malam?”
Ia semakin larut dalam pikirannya.
“Mungkin dunia ini sangat indah… dan aku belum pernah melihatnya…”
Malam itu terasa sangat sunyi bagi Arga. Ia menangis pelan. Ia tidak marah, tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya merasa sedih karena tidak bisa merasakan hal yang sama seperti orang lain.
Namun, setelah beberapa saat, ia mencoba menenangkan dirinya.
“Tidak apa-apa… aku harus tetap kuat,” katanya pelan.
Keesokan harinya, Arga kembali seperti biasa. Ia tetap tersenyum, tetap belajar, dan tetap semangat.
Hingga suatu hari, Arga pergi mengaji seperti biasanya. Ia duduk dengan tenang bersama teman temannya, mendengarkan penjelasan dari ustadznya.
Suasana sangat hening.
Saat itu, ustadz sedang memberikan nasihat.
“Anak-anak,” ucapnya, “apa yang kita miliki saat ini adalah karunia dari Allah.” Arga mendengarkan dengan sangat serius.
“Kadang kita merasa sesuatu itu kekurangan. Padahal, bisa jadi itu adalah kelebihan yang Allah berikan.”
Arga mulai berpikir.
“Misalnya, ada seseorang yang tidak bisa melihat.”
Arga langsung terdiam.
“Kita mungkin menganggap itu sebagai kekurangan. Tapi sebenarnya, itu juga bisa menjadi kelebihan.” Hati Arga mulai tersentuh.
“Karena Allah menjaga pandangannya dari hal-hal yang buruk. Ia tidak melihat hal yang tidak baik, tidak mencontoh keburukan, dan lebih terjaga dari dosa.”
Arga menunduk. Hatinya bergetar.
“Jadi, apa yang Allah berikan itu bukan karena Allah tidak sayang. Justru karena Allah sangat sayang.” Kata-kata itu seperti cahaya yang masuk ke dalam hatinya.
Sepulang dari mengaji, Arga terus memikirkan nasihat tersebut.
“Jadi… selama ini Allah sayang sama aku?” ucapnya pelan.
Malam itu terasa berbeda.
Ia tidak lagi menangis.
Ia justru tersenyum kecil.
“Terima kasih ya Allah… mungkin aku tidak bisa melihat… tapi Engkau menjaga aku…” Ia menarik nafas dalam.
“Aku akan belajar lebih ikhlas… lebih sabar… dan lebih bersyukur…”
Sejak nasihat itu, Arga tidak lagi melihat dirinya sebagai anak yang berbeda. Justru, ia mulai merasa dirinya istimewa. Ia memahami bahwa apa yang selama ini ia anggap sebagai kekurangan, ternyata
adalah anugerah yang tidak dimiliki semua orang, sebuah hati yang lebih terjaga dan jiwa yang ditempa menjadi lebih kuat.
Ia tidak lagi bertanya, “Mengapa aku seperti ini?”
Kini, ia menggantinya dengan rasa syukur yang tulus,
“Terima kasih ya Allah, karena Engkau telah memilihku.”
Dengan keyakinan baru, Arga melangkah menjalani hari-harinya dengan lebih percaya diri. Ia mungkin tidak dapat melihat dunia dengan matanya, tetapi ia mampu menghadirkan cahaya melalui sikap baik, ketulusan, dan semangatnya.
Perlahan, orang-orang di sekitarnya mulai menyadari bahwa apa yang dimiliki Arga bukanlah kelemahan. Justru dari sanalah terpancar kekuatan yang luar biasa sebuah kelebihan yang membuatnya berbeda dengan cara yang indah.
Ia tidak lagi terlalu larut dalam kesedihan.
Ia tetap menjadi anak yang rajin, sopan, dan penuh semangat.
Bahkan, ia mulai membantu teman-temannya yang kesulitan belajar.
Suatu hari, Riko berkata, “Ga, kamu itu bukan cuma kuat… tapi juga menginspirasi.” Arga tersenyum.
“Aku cuma menjalani apa yang Allah kasih,” jawabnya.
Kini, Arga menjalani hidup dengan hati yang lebih lapang. Ia tidak lagi mempertanyakan takdirnya dengan kesedihan, tetapi menerimanya dengan penuh keikhlasan.
Ia mungkin tidak bisa melihat dunia dengan matanya.
Namun, ia bisa merasakan dunia dengan hatinya.
Dan dalam hatinya…
dunia itu tetap indah.
YY.PUTRY BYNTANG OKTAVY RAMDANY - 25010684054