Jejak Emas di Lintasan Takdir
Gemuruh sorak-sorai di dalam GOR voli itu terasa seperti pelukan hangat bagi Nina Gustami pada suatu sore di pertengahan tahun 2016, saat matahari mulai condong ke barat dan sinarnya mulai masuk melalui celah-celah jendela yag tinggi pada gedung olahraga di Medan. Suasana di dalam GOR begitu riuh, penuh energi dan semangat, dipadati oleh ratusan penonton yang bersorak tanpa henti. "Ayo Nina! Habisi!" teriak salah satu rekan setimnya dari pinggir lapangan. Nina hanya membalas dengan anggukan mantap, matanya tajam mengunci pergerakan bola. Sorakan itu diibaratkan sebuah pengakuan yang dicurahkan secara tulus dari ribuan orang yang akhirnya mengakui segala peluh dan air mata yang telah ia tumpahkan selama bertahun-tahun latihan.
Di usianya yang kini baru menginjak delapan belas tahun, ia adalah bintang muda yang bersinar terang, sebuah hasil nyata dari bakat murni dan kerja keras yang tidak pernah berhenti. Setiap kali kakinya menginjak lantai lapangan, ia merasa seolah tubuhnya begitu ringan dan bebas bergerak. Lompatannya sangat tinggi, pukulan spike-nya tajam melesat kencang menembus pertahanan lawan, dan rona bahagia selalu terpancar di wajahnya setiap kali point demi point berhasil ia dekap.
Di matanya, masa depan adalah garis lurus yang menuju pada podium-podium internasional. Setiap malam dikamar kecilnya yang sederhana dengan lampu temaram dengan dinding penuh poster atlet idola, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Mimpi jadi atlet profesional tinggal selangkah lagi." Ia membayangkan dirinya yang mengenakan seragam tim nasional dengan penuh kebanggaan yang meluap seperti bendera merah yang berkibar gagah di puncak tertinggi,
yang disaksikan oleh jutaan mata yang memandang. Dunia terasa begitu luas, penuh dengan banyaknya peluang yang menunggu untuk diraih oleh kaki-kakinya yang jenjang dan lincah. Baginya, setiap tetes keringat di sesi latihan sore yang panas itu adalah bentuk investasi menuju kejayaan yang sudah hampir di depan mata.
Namun, takdir memiliki cara yang kasar dan tak terduga untuk menguji setiap ketangguhan dari seorang manusia itu sendiri. Sore itu, sekitar akhir tahun 2016, langit Sumatera Utara mendadak gelap. Awan hitam menggantung rendah, dan hujan turun deras seolah langit runtuh ke bumi. Jalanan kota Medan berubah menjadi licin dan berkilau oleh genangan air. Lampu kendaraan memantul di aspal seperti serpihan kaca yang pecah. Dalam perjalanan pulang selepas latihan yang sangat melelahkan, Nina mengendarai motornya dengan sisa tenaga yang hampir terkuras habis.
Di sebuah tikungan tajam yang sepi dan minimnya penerangan, tiba-tiba sebuah truk besar muncul dari arah berlawanan. Dalam hitungan detik, kendali hilang. Citttttt! Suara decitan rem yang panjang dan memilukan menjadi melodi terakhir yang ia dengar sebelum benturan keras menghantam tubuhnya. Malam itu, dalam dingin hujan dan sunyi jalanan, kesadarannya lenyap, membawa serta semua mimpi indah tentang lapangan voli dan sorak-sorai penonton.
Beberapa hari kemudian, di sebuah bangsal rumah sakit yang sunyi dengan lampu putih yang redup dan aroma obat-obatan yang menyengat, Nina terbangun. Waktu menunjukkan dini hari yang Hening dan sunyi. Hanya terdengar bunyi alat medis yang berdetak perlahan. Namun, bukanlah rasa sakit yang bertubi-tubi yang pertama kali menyergapnya, melainkan sebuah kehampaan yang terasa dingin dan mengerikan. Perlahan, pandangannya jatuh pada selimut biru yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Ada sesuatu yang salah pada bentuk selimut itu sebuah keanehan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia meraba bagian bawah lutut kanannya yang tidak menyentuh apa pun."
Ibu... mana kakiku?" suaranya parau, nyaris tak terdengar. Ibunya yang duduk di samping tempat tidur hanya bisa menggenggam tangan Nina erat-erat, air matanya jatuh membasahi sprei. "Sabar, Nak... sabar," bisik sang Ibu terisak. Seketika, dunianya pun langsung runtuh dalam hening yang memekakkan telinga. Kaki yang biasanya digunakan untuk melompat tinggi, mengejar bola di udara, dan berpijak dengan gagah di lapangan voli, kini telah tiada meninggalkan sebuah lubang besar di dalam jiwanya.
Impiannya untuk menjadi atlet voli profesional menjadi hancur berkeping-keping, sama seperti tulang-tulangnya yang remuk. Bulan-bulan berikutnya, sepanjang tahun 2017, menjadi masa tergelap dalam hidupnya. Di dalam rumahnya yang terasa semakin sempit dan sunyi, Nina menarik diri dari dunia luar. Tirai kamar selalu tertutup, cahaya matahari jarang masuk. Ia membenci cermin. Ia menolak melihat lapangan voli, menolak mendengarkan berita olahraga,serta menolak dunia. "Aku cacat, Bu," isaknya berulang kali di pelukan ibunya yang hanya bisa menangis dalam diam. "Mimpiku sudah mati di jalanan itu."
Hingga suatu siang yang hangat di awal 2018. Keadaan mulai sedikit berubah ketika datangnya seorang pria paruh baya bernama Pak Beni mengunjungi rumahnya. Ia bukan datang membawa tatapan iba ketika melihat nina yang tubuh nya sudah tidak sempurna itu, melainkan pak Beni membawa sebuah tantangan dan kabar gembira. Sebagai perwakilan dari National Paralympic Committee (NPC) Sumatera Utara, Pak Beni sudah mendengar tentang bakat besar Nina yang terpendam di balik keputusasaan. "Kami tidak menawarkan belas kasihan kepada Nina," kata Pak Anton dengan nada bicara yang tegas namun tetap hangat. "Kami menawarkan kesempatan untuk Nina tetap bisa menjadi seorang atlet, namun dengan cara yang berbeda." Nina awalnya ragu, bahkan sinis. Bagaimana mungkin seorang atlet voli bisa bertanding tanpa kaki untuk melompat? Konsep voli duduk atau sitting volleyball terdengar asing dan mustahil baginya. Namun, rasa penasaran yang kecil perlahan mulai mengalahkan rasa putus asanya yang besar.
Latihan pertama voli duduk sungguh sangat menyiksa bagi Nina, baik secara fisik maupun mental. Nina harus belajar bergerak cepat dengan menyeret tubuhnya di atas lantai GOR, mengandalkan kekuatan lengan dan keseimbangan otot inti pada tubuhnya. Berbeda dengan voli berdiri, dalam voli duduk, bagian pelvis atau panggul atlet harus tetap bersentuhan dengan lantai saat melakukan kontak dengan bola. Luas lapangan pun lebih kecil, yakni dengan ukuran 10 x 6 meter dengan ketinggian net yang hanya 1,05 meter untuk putri. Aturannya ketat; jika pinggul terangkat sedikit saja saat melakukan serangan, itu termasuk sebuah pelanggaran. Pada saat latihan Nina sering terjatuh, tangannya melepuh karena gesekan dengan lantai, dan ia berkali-kali menangis frustasi karena tidak bisa melakukan spike seakurat dulu dalam posisi duduk. Namun, di tengah tetesan keringat dan rasa perih itu, ada sesuatu yang menyala kembali di dalam dirinya. Setiap kali ia berhasil memukul bola melewati net, ia merasakan kembali percikan gairah yang sempat padam. Ia menyadari bahwa atlet bukanlah ditentukan oleh anggota tubuh yang lengkap,
melainkan oleh ketepatan gerak dan ketajaman mental. Ia kemudian tidak lagi melihat keterbatasannya sebagai akhir, melainkan sebagai sebuah kompas baru dalam peta hidupnya.
Kegigihan itu akhirnya membuahkan hasil yang manis seperti madu. Nina terpilih menjadi bagian dari Kontingen Merah Putih untuk Asian Para Games 2018 di Jakarta. Berdiri atau lebih tepatnya,duduk di lapangan dengan seragam kebangaan tim nasional adalah momen paling berharga dalam hidupnya. Atmosfer stadion begitu megah, sangat berbeda dari GOR kecil tempatnya berlatih pada saat di Medan. Penonton dari berbagai negara memenuhi tribun, memberikan energi yang sangat luar biasa. Ketika peluit pertama dibunyikan, semua ketakutan dan keraguan Nina lenyap ditelan oleh fokus. Ia bermain dengan penuh keyakinan, membuktikan bahwa identitasnya sebagai atlet masih tetap utuh. Meskipun timnya belum berhasil meraih medali emas pada saat itu,namun pengalaman tersebut bisa mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Ia melihat ribuan atlet dengan berbagai disabilitas berkompetisi dengan semangat yang membara, dan ia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar musibah yang menimpanya.
Namun, semangat Nina tidak berhenti di situ. Setelah perhelatan besar di Jakarta, ia mulai merasakan dorongan untuk mencoba sesuatu yang lebih menantang secara mandiri. Ia mulai melirik cabang olahraga atletik, khususnya balap kursi roda. Cabang ini menuntut kekuatan otot lengan yang luar biasa dan teknik aerodinamis yang sangat presisi. Nina harus kembali belajar dari nol tentang sistem klasifikasi dalam olahraga paralimpik. Ia masuk ke dalam kategori T54, sebuah klasifikasi khusus untuk atlet balap kursi roda yang memiliki fungsi batang tubuh (trunk) yang normal atau hampir normal, serta kekuatan tangan yang fungsional secara penuh setelah mengalami amputasi atau gangguan pada kaki. Mengendalikan kursi roda balap sangat berbeda dengan kursi roda harian. Roda belakang yang miring (camber) dirancang untuk stabilitas pada kecepatan tinggi, sementara roda depan yang tunggal dan panjang berfungsi untuk mengarahkan jalur di lintasan.
Nina harus membiasakan tubuhnya meringkuk dalam posisi yang sangat menyesakkan di dalam bucket atau jok kursi roda balap, dengan lutut tertekuk ke belakang dan dada hampir menyentuh paha untuk meminimalkan hambatan angin (drag). "Tahan posisinya, Nin! Jangan biarkan dadamu terangkat, angin akan menahanmu!" teriak pelatihnya dari pinggir lintasan. Nina
mengerang pelan, paru-parunya terasa terhimpit oleh posisi tubuhnya sendiri. "Sesak, Coach... rasanya oksigen tidak sampai ke paru-paru," bisiknya dengan nafas memburu.
"Kau tidak bisa bermain voli duduk selamanya jika hatimu menginginkan kecepatan, Nin," kata ayahnya yang selalu menjadi pendukung setianya, saat mereka sedang beristirahat di pinggir lapangan. Nina menatap kursi roda balapnya yang ramping, lalu menatap ayahnya. "Aku tahu, Yah. Voli memberi hidupku kembali, tapi di lintasan ini... aku merasa benar-benar terbang."Nina pun memutuskan untuk terjun sepenuhnya ke lintasan atletik.
Di bawah terik matahari yang menyengat, Nina memacu kursi rodanya di lintasan lari setiap pagi dan sore. Ia menggunakan sarung tangan khusus yang keras untuk menghantam push rim atau lingkaran pendorong pada roda. "Ingat, jangan asal pukul! Gunakan momentum," instruksi pelatihnya lagi. "Kalau sudutmu salah, pergelangan tanganmu yang akan kalah!". "Satu... dua... hantam!" gumam Nina menghitung ritmenya sendiri. Teknik ini memerlukan sinkronisasi antara sudut pukulan dan momentum putaran jika tangan menghantam pada sudut yang salah, energi akan terbuang sia-sia dan risiko cedera pergelangan tangan meningkat tajam.
Keringat bercucuran hingga membasahi seluruh pakaiannya, otot-otot lengannya menjerit kelelahan karena harus mempertahankan frekuensi putaran roda yang tinggi. "Sedikit lagi, jangan berhenti... ayo, tanganku jangan menyerah sekarang!" bisiknya menyemangati dirinya sendiri di tengah deru angin, tetapi ia tidak pernah berhenti.
Proses adaptasi di cabang atletik ini membawa Nina pada tingkat kedisiplinan yang baru. Ia mulai memahami sains di balik olahraga. Ia juga mempelajari bagaimana pengaruh tekanan ban terhadap gesekan di lintasan, bagaimana arah angin dapat mengubah strategi pengerahan tenaga pada trek lurus versus tikungan, serta pentingnya mengkonsumsi nutrisi yang banyak untuk memulihkan massa otot lengannya yang kini menjadi sebuah mesin utama. Setiap sesi latihan adalah tempat baginya untuk belajar dengan teliti. Ia mencatat setiap detik kemajuannya dan setiap pergeseran kecil pada posisi duduknya, sampai akhirnya ia merasa kursi roda T54 miliknya bukan lagi sebagai alat, melainkan sudah menyatu dengan tubuhnya sendiri. Perubahan ini tidak hanya terjadi pada fisiknya yang semakin kuat, tetapi juga pada jiwanya yang kini sekeras baja.
Puncaknya terjadi pada ajang Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua pada tahun 2021. Di tanah Cendrawasih yang eksotis itu, Nina turun di tiga nomor lari jarak pendek dan menengah: 100 meter, 200 meter, dan 400 meter kelas T54. Tekanan yang ia rasakan sangat besar, namun Nina telah menempa mentalnya di balik ribuan jam latihan yang sunyi. Di bawah langit Papua yang biru bersih, ia bersiap di garis start. Tangannya mencengkeram push rim dengan mantap, tubuhnya membungkuk aerodinamis, siap meledakkan tenaga. Saat pistol aba-aba meletus, Nina meluncur bagaikan peluru. Teknik dorongannya sangat efisien; ia melepaskan tenaga maksimal pada sudut jam 11 dan melepaskannya pada jam 2, sebuah gerakan repetitif yang sinkron dengan nafasnya yang teratur namun bertenaga.
Hasilnya sungguh luar biasa dan menjadi catatan sejarah baru. Pada nomor 100 meter, Nina melesat tak terkejar dan meraih medali emas pertamanya dengan catatan waktu yang singkat serta dapat memecahkan rekor nasional sebelumnya. Tak berselang lama, pada nomor 200 meter, ia kembali mendominasi lintasan dengan akselerasi yang memukau sejak tikungan pertama, dan
kembali mengamankan emas kedua. Tantangan terberat muncul pada nomor 400 meter, sebuah nomor yang menuntut daya tahan tubuh yang luar biasa. Di 100 meter terakhir, saat asam laktat mulai membakar otot lengannya dan nafasnya mulai tersengal, Nina teringat kembali pada masa masa ia hanya bisa terduduk diam di rumah sakit, meratapi nasib. Ingatan itu memberinya kekuatan tambahan yang muncul yaitu Sebuah "napas kedua" yang metafisik untuk melakukan dorongan terakhir yang eksplosif. Ia menyentuh garis finis dan berhasil mencetak hattrick medali emas.
Gemuruh sorak-sorai di Stadion Utama Lukas Enembe seolah ingin meruntuhkan langit. Nama "Nina" menggema di setiap sudut arena. Saat ia melambatkan putaran rodanya dan mengambil napas dalam-dalam, ia menyadari bahwa ia telah melampaui batas yang tak pernah direncanakan oleh dunia medis dan stigma sosial terhadap penyandang disabilitas. Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipinya saat ia menerima medali emas ketiga itu di atas podium. Ia menatap ke arah tribun, mencari wajah ibu dan ayahnya, lalu menatap kursi roda balapnya dengan rasa bangga,terharu,dan terima kasih yang mendalam. Benda logam itu telah menjadi saksi bisu transformasinya dari seorang gadis yang hancur menjadi seorang pahlawan olahraga.
"Mimpiku tidak pernah benar-benar mati," bisik Nina sambil mengecup medali-medalinya yang berkilauan di bawah matahari Papua yang mulai condong ke barat. "Mimpi itu hanya berubah bentuk, bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih tangguh. Kecelakaan itu yang bisa merenggut
kakiku, tapi dengan ada nya itu justru membukakan jalan bagiku untuk memiliki sayap yang lebih kuat." Di usia yang kini memasuki dua puluh empat tahun, Nina Gusmita bukan lagi sekadar seorang penyintas. Ia telah membuktikan bahwa klasifikasi fisik hanyalah label di atas kertas, sementara kehendak manusia adalah kekuatan yang tak terhingga. Di atas lintasan atletik Papua yang bersejarah, Nina tidak hanya memenangkan medali emas, tetapi ia telah memenangkan kembali martabatnya dan menginspirasi jutaan orang bahwa di balik setiap keterbatasan, selalu ada ruang untuk harapan yang kembali tumbuh.
Perjalanan Nina adalah sebuah bukti nyata bahwa setiap titik yang menyakitkan hanyalah jeda sebelum kita memulai cerita yang lebih hebat. Ia tidak putus asa dan terus berlatih, menatap paralimpik internasional berikutnya, ia membawa semangat "Merah Putih" di pundaknya yang kini kokoh. Di setiap deru roda yang membelah angin, ada pesan yang disampaikan tanpa suara bahwa takdir mungkin bisa saja menjatuhkan kita ke titik terendah, tetapi kitalah yang memegang kendali untuk menentukan di ketinggian mana kita akan kembali terbang. Nina telah menemukan jejak emasnya, dan ia tidak akan pernah berhenti memacu rodanya menuju cakrawala prestasi yang lebih luas lagi.
Firda Icme Ana Febrianti - 25010684057