Ketika Sunyi Mengajarkanku Mendengar
Pagi itu suasana kelas rame seperti biasanya. Suara kursi digeser, anak-anak ketawa, sama obrolan yang saling menyambung satu sama lain bikin kelas terasa hidup. Ada yang bercanda gak jelas, ada yang sibuk buka buku, ada juga yang cuma ikut-ikutan ngobrol. Di tengah semua itu, Raka cuma duduk diam di bangkunya. Dia ngeliatin teman-temannya yang lagi ketawa lepas. Bibir mereka gerak cepat, ekspresinya seru banget, tapi buat Raka, semua itu cuma kayak film tanpa suara. Dia sempat senyum sedikit, bukan karena ngerti, tapi karena sudah kebiasaan aja biar keliatan ikut suasana. Raka itu siswa kelas sebelas. Kalau dilihat sekilas, dia sama aja kayak yang lain. Pakai seragam yang sama, duduk di kelas yang sama, bawa buku yang sama juga. Tapi ada satu hal yang bikin dia beda. Raka gak bisa dengar.
Gak semua orang ngerti gimana rasanya kehilangan sesuatu yang dulu selalu ada. Raka juga dulu gak pernah kepikiran bakal ngalamin itu. Dulu hidupnya biasa aja. Setiap pagi, dia selalu dibangunin sama ibunya. “Raka, bangun… nanti telat sekolah,” suara itu dulu jelas banget di telinganya. Kadang ibunya harus manggil berkali-kali. “Ah Bu… bentar lagi,” jawab Raka sambil nutup muka pakai bantal. Ibunya cuma ketawa. Hal-hal kecil kayak gitu dulu terasa biasa banget, bahkan sering dianggap sepele. Raka juga suka banget sama suara hujan. Dia sering duduk di teras cuma buat dengerin air jatuh di atap. Menurut dia, itu bikin tenang. Tapi semua berubah waktu dia kelas lima SD. Awalnya cuma ngerasa gak enak di telinga. Kadang sakit, kadang berdenging aneh. Raka sempat cuek. “Paling nanti juga sembuh,” pikirnya. Tapi ternyata enggak. Suatu malam dia mulai ngerasa ada yang beda. “Bu… kok suaranya kayak jauh ya?” katanya bingung. Ibunya langsung khawatir. “Jauh gimana, Nak?” “Kayak… gak jelas.” Besoknya langsung dibawa ke dokter. Dari satu tempat ke tempat lain, tapi gak ada perubahan. Justru makin lama, suara di sekitar Raka makin hilang, pelan-pelan, sampai akhirnya… bener-bener gak ada.
Malam itu Raka nangis. Dia manggil ibunya, tapi dia sendiri gak yakin suaranya keluar atau enggak. Dia cuma lihat ibunya lari ke arah dia dan langsung memeluk erat. “Raka… Raka…” bibir ibunya bergerak cepat. Raka gak dengar apa-apa, tapi dia tahu ibunya juga lagi sedih. Sejak saat itu, hidup Raka berubah. Di sekolah, semuanya terasa lebih susah. Dia sering gak
ngerti penjelasan guru. Dia cuma nebak dari gerakan bibir, tapi sering salah. Kadang dia ketinggalan jauh dari yang lain. Teman-temannya juga gak semuanya paham. “Eh, dia ngerti gak sih?” bisik seseorang. “Kayaknya enggak deh…” jawab yang lain. Raka memang gak dengar, tapi dia bisa baca gerakan bibir mereka. Dan itu cukup buat bikin dia sakit hati. Sejak itu, Raka mulai menjauh. Dia lebih sering duduk di belakang, jarang ngomong, jarang angkat tangan. Bahkan buat nanya aja dia ragu. Dia takut salah, takut ditertawakan, takut dianggap beda. Hari-harinya terasa panjang banget. Kadang dia cuma ngeliatin keluar jendela, melihat pohon yang goyang pelan sama angin, lihat langit yang berubah warna. Dunia di luar keliatan bebas, gak kayak dirinya.
Suatu hari, ada siswa baru masuk ke kelas. Namanya Dita. Wali kelas ngenalin dia di depan, terus nyuruh dia duduk. Tanpa banyak bicara, Dita jalan ke bangku kosong di sebelah Raka. Raka cuma lihat sekilas, terus balik lagi nunduk. Dia gak berharap apa-apa. Tapi beberapa saat kemudian, Dita nepuk pelan mejanya. Raka nengok. Dita senyum, terus mulai pakai bahasa isyarat. “Nama kamu siapa?” Raka langsung kaget. Dia sempat diem sebentar sebelum jawab, “Aku Raka.” Dita senyum. “Aku Dita.” Dari situ, semuanya mulai berubah sedikit demi sedikit. Dita sering ngajak Raka ngobrol. Dia sabar banget. Kalau Raka gak ngerti, dia ulang lagi. Kalau salah, dia bantu benerin. Suatu hari Raka kelihatan kesulitan. Dia ngeluh pelan, “Udah lah… susah.” Dita langsung geleng. “Bukan susah, kamu cuma belum terbiasa.” Raka diem. Kalimat itu sederhana, tapi ngena banget.
Pelan-pelan Raka mulai berani lagi. Dia mulai ikut diskusi walaupun masih ragu. Dia mulai jawab pertanyaan walaupun belum tentu benar. Teman-teman juga mulai melihat perubahan itu. Suatu sore, Raka sama Dita duduk di taman sekolah. Angin sepoi-sepoi, daun-daun bergerak pelan. “Kamu belajar bahasa isyarat dari mana?” tanya Raka. Dita senyum. “Sepupuku juga tunarungu, jadi aku belajar dari dia.” Raka ngangguk. Lalu dia tanya lagi, “Kenapa kamu mau ngobrol sama aku?” Dita sempat diem sebentar, terus bilang, “Karena kamu sama aja kayak yang lain.” Raka gak langsung jawab. “Cuma cara komunikasinya aja yang beda,” lanjut Dita, “dan kamu tetap layak didengar.” Raka langsung nunduk. Untuk pertama kalinya, dia ngerasa benar-benar dimengerti.
Sejak itu, hari-hari Raka berubah. Dia gak lagi cuma diam. Dia mulai berani senyum, mulai berani coba, dan mulai berani jadi dirinya sendiri. Dia sadar, walaupun dia gak bisa dengar, bukan berarti dia gak bisa ngerti dunia. Dia masih bisa lihat, masih bisa ngerasain, dan masih bisa paham dengan caranya sendiri. Dia juga sadar kalau dia gak sendirian. Sekarang
Raka ngerti satu hal. Dunia gak selalu harus didengar supaya bisa dipahami. Kadang, dalam keadaan sunyi, justru kita bisa belajar lebih banyak. Belajar sabar, belajar menerima, dan belajar kalau didengar itu bukan cuma soal suara, tapi soal siapa yang benar-benar mau ngerti kita.
Sejak obrolan sore itu, Raka jadi lebih sering bareng Dita. Walaupun gak selalu ngomong, tapi kehadiran Dita aja udah cukup bikin Raka ngerasa lebih nyaman di kelas. Kadang mereka cuma duduk bareng sambil ngerjain tugas, kadang juga saling cerita hal-hal kecil. Dita juga mulai ngajarin Raka beberapa cara biar lebih gampang mengerti pelajaran, misalnya dengan nulis poin penting atau pakai gambar biar lebih jelas. Awalnya Raka masih sering bingung, tapi lama-lama dia mulai terbiasa. Bahkan sesekali dia mulai inisiatif nanya duluan, walaupun masih pelan dan agak ragu.
Suatu hari, guru Bahasa Indonesia ngasih tugas presentasi kelompok. Kelas langsung ribut karena semua sibuk milih kelompok masing-masing. Raka awalnya cuma diam, berharap ada yang ngajak dia. Seperti biasanya, dia gak mau terlalu berharap. Tapi tiba-tiba Dita nengok ke arahnya. “Kita satu kelompok, ya?” katanya sambil senyum. Raka agak kaget, tapi langsung mengangguk pelan. Mereka akhirnya satu kelompok sama dua teman lain, yaitu Andi dan Sinta.
Awalnya semuanya berjalan biasa aja, sampai mereka mulai diskusi. Andi terlihat agak bingung gimana cara komunikasi sama Raka. “Dia ngerti gak sih nanti pas presentasi?” bisiknya pelan ke Dita. Raka sempat menangkap gerakan bibir itu, dan langsung nunduk. Dita yang sadar langsung jawab, “Ngerti kok, kita bantu bareng-bareng.” Suasana sempat canggung sebentar, tapi akhirnya mereka tetap lanjut diskusi.
Di rumah, Raka mulai latihan lebih serius dari biasanya. Dia berdiri di depan cermin, mencoba menjelaskan materi dengan cara yang dia bisa. Kadang dia berhenti sendiri, merasa kurang yakin. “Bisa gak ya…” gumamnya pelan. Ibunya yang melihat dari pintu kamar hanya tersenyum. Walaupun Raka gak mendengar, ibunya tetap bicara pelan seperti biasa, seolah berharap suatu saat Raka bisa mendengarnya lagi. “Pelan-pelan saja, Nak… yang penting kamu coba,” ucap ibunya. Raka memang gak dengar, tapi dia bisa merasakan dukungan itu dari ekspresi ibunya.
Hari presentasi akhirnya datang. Jantung Raka terasa lebih cepat dari biasanya. Tangannya sedikit dingin. Saat kelompok mereka maju ke depan, Raka berdiri agak di belakang. Ia sebenarnya ingin maju, tapi rasa takut masih ada. Dita menoleh sebentar, lalu memberi isyarat kecil seolah bilang, “Gak apa-apa.”
Saat giliran Raka menjelaskan, suasana kelas jadi lebih tenang dari biasanya. Semua memperhatikan. Raka mulai menjelaskan dengan cara yang ia bisa, dibantu tulisan di papan dan sedikit bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Dita. Awalnya agak kaku, tapi lama-lama Raka mulai lebih percaya diri. Ia tidak lagi terlalu memikirkan siapa yang melihat, tapi fokus pada apa yang ingin disampaikan.
Setelah selesai, kelas sempat hening beberapa detik. Raka sempat berpikir dia gagal. Namun tiba-tiba, beberapa siswa mulai bertepuk tangan. Disusul yang lain. Tidak terlalu ramai, tapi cukup untuk membuat Raka terdiam. Ia tidak mendengar suara tepuk tangan itu, tetapi ia melihatnya. Dan untuk pertama kalinya, itu sudah cukup.
Sepulang sekolah, Raka duduk sendiri sebentar di bangkunya. Ia menatap ke depan, mengingat apa yang baru saja terjadi. Dita datang dan duduk di sebelahnya. “Tuh kan, kamu bisa,” katanya santai. Raka tersenyum kecil. “Masih deg-degan sih,” jawabnya. Dita tertawa ringan. “Wajar lah, aku juga sering gitu.”
Hari itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain. Tapi bagi Raka, itu adalah langkah besar. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak hanya “ikut ada” di kelas, tapi benar-benar menjadi bagian dari itu.
Hari-hari setelah presentasi itu terasa berbeda buat Raka. Walaupun semuanya tetap berjalan seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Ia tidak lagi terlalu takut untuk mencoba. Beberapa teman yang sebelumnya terlihat ragu, sekarang mulai sesekali mengajaknya bicara, walaupun masih canggung. Andi yang dulu sempat bertanya pelan tentang Raka, sekarang justru beberapa kali menghampirinya. “Rak, yang kemarin kamu jelasin itu… aku masih agak bingung, boleh jelasin lagi gak?” katanya sambil menunjuk buku. Raka sempat kaget, tapi lalu mengangguk dan mencoba menjelaskan dengan caranya sendiri. Mungkin tidak sempurna, tapi cukup membuat Andi mengerti. Dari situ, Raka mulai sadar kalau pelan-pelan orang lain juga sedang belajar memahami dirinya.
Suatu siang, setelah jam pelajaran selesai, Raka tidak langsung pulang. Ia duduk di bangkunya, menunggu Dita yang masih membereskan tas. Kelas sudah mulai sepi. Cahaya matahari masuk dari jendela, menerangi ruangan yang perlahan jadi sunyi. Raka menatap ke luar, melihat daun-daun bergerak pelan tertiup angin. Dulu, momen seperti ini sering ia isi dengan rasa sepi. Tapi sekarang rasanya berbeda. Tidak lagi sesunyi dulu.
“Kamu kenapa?” tanya Dita sambil duduk di sebelahnya.
Raka menggeleng pelan, lalu tersenyum kecil. “Gak kenapa-kenapa. Cuma… lagi mikir aja.” “Mikir apa?”
Raka diam sebentar, lalu menjawab pelan, “Ternyata… gak semua hal harus sempurna ya, buat bisa jalan.”
Dita tersenyum. “Iya lah. Kalau nunggu sempurna dulu, gak bakal mulai-mulai.”
Raka mengangguk. Ia menatap ke depan lagi, tapi kali ini dengan perasaan yang berbeda. Ia tidak lagi merasa tertinggal seperti dulu. Ia memang masih belajar, masih sering ragu, tapi setidaknya sekarang ia mau mencoba. Dan itu sudah cukup.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan kegiatan kecil seperti pentas kelas. Setiap kelas diminta menampilkan sesuatu. Kelas Raka sepakat untuk membuat penampilan sederhana, gabungan antara cerita dan gerakan. Awalnya Raka tidak berniat ikut. Ia merasa itu terlalu sulit. Tapi Dita kembali meyakinkannya. “Kamu gak harus ngomong banyak kok. Kamu bisa ambil bagian yang sesuai sama kamu.”
Raka sempat ragu. Namun setelah dipikir-pikir, ia akhirnya mencoba ikut. Ia mengambil bagian yang menggunakan gerakan dan sedikit bahasa isyarat. Latihan demi latihan dijalani. Kadang masih salah, kadang masih lupa, tapi teman-temannya tidak lagi seperti dulu. Mereka justru menunggu, memberi waktu, bahkan ikut belajar beberapa isyarat sederhana agar bisa menyesuaikan dengan Raka.
Hari penampilan akhirnya tiba. Suasana aula cukup ramai. Siswa-siswi duduk berjajar, menunggu giliran kelas masing-masing. Saat giliran kelas Raka tampil, jantungnya kembali berdebar. Ia berdiri bersama teman-temannya di atas panggung. Lampu terasa lebih terang dari biasanya.
Saat penampilan dimulai, Raka mengikuti gerakan yang sudah dilatih. Tidak sempurna, tapi ia menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Di tengah penampilan, ada bagian dimana Raka harus menyampaikan pesan lewat bahasa isyarat. Ia sempat ragu sepersekian detik, lalu melanjutkan. Tangannya bergerak perlahan, wajahnya fokus.
Ia tidak tahu bagaimana reaksi penonton. Ia tidak bisa mendengar apa pun. Tapi ia bisa melihat. Ia melihat beberapa orang memperhatikan dengan serius. Ia melihat beberapa teman tersenyum. Dan itu cukup membuatnya yakin untuk menyelesaikan bagian itu sampai akhir.
Setelah penampilan selesai, seluruh kelompok berdiri berdampingan. Beberapa siswa di depan terlihat bertepuk tangan. Raka kembali melihatnya. Untuk kedua kalinya, ia merasakan hal yang sama seperti saat presentasi dulu. Ia memang tidak mendengar, tapi ia tahu apa arti itu.
Setelah turun dari panggung, Raka menghela nafas panjang. Dita langsung menghampirinya. “Keren,” katanya singkat sambil tersenyum. Raka tertawa kecil. “Masih banyak salah,” jawabnya. “Ya gapapa,” kata Dita santai, “yang penting kamu jalani.”
Hari itu, Raka pulang dengan perasaan yang berbeda. Di perjalanan, ia melihat langit sore yang perlahan berubah warna. Ia teringat dirinya yang dulu, yang lebih sering diam dan menghindar. Ia tidak menyangka bisa sampai di titik ini.
Sesampainya di rumah, ibunya menyambutnya seperti biasa. Raka hanya tersenyum, lalu duduk di teras. Ia memandang ke depan, merasakan angin yang lewat pelan. Tidak ada suara yang ia dengar, tetapi suasana itu tetap terasa hidup baginya.
Kini Raka benar-benar mengerti satu hal. Kehilangan pendengaran bukan berarti kehilangan segalanya. Ia memang tidak bisa mendengar suara, tetapi ia masih bisa memahami dunia dengan caranya sendiri. Ia masih bisa melihat, merasakan, dan mengerti hal-hal yang mungkin dulu tidak disadari.
Ia juga belajar bahwa dipahami itu tidak selalu datang dari kata-kata. Kadang cukup dari perhatian kecil, dari kesabaran, dan dari orang-orang yang mau mencoba mengerti.
Raka tersenyum kecil. Dalam hati, ia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Karena sekarang, ia tahu… bahwa dalam sunyi pun, seseorang tetap bisa “mendengar”. Bukan dengan telinga, tetapi dengan hati.
ANISA SAKILA - 25010684107